Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Obrolan Tengah Malam


Aku pikir karena omongan tante Netta tidak akan  tersinggung ataupun marah, ternyata  ia menahannya, perasaan sakit hati itu saat tante menyebutnya wanita yang tidak bisa  punya anak.


“Kenapa kamu tidak marah saja padanya  tadi Dek, lebih baik kamu jambak saja tante itu agar kamu tidak sakit hati seperti ini,” ujar ku masih memeluknya yang menangis  sesenggukan di dadaku.


“Kalau aku marah ataupun menangis yang ada situasinya akan  ribut Bang, ada ito Rudi di sana, ada tulang juga, kalau aku menangis saat itu, kamu juga akan mengamuk kan?”


“Itu benar, tadi saja tante ngomong seperti itu aku sudah naik pitam, kalau saja papi tidak melarang ku, aku sudah mengusir tante.”


“Kenapa harus namboruku sendiri yang mengatai ku seperti itu, dia adik bapakku bukan orang lain, jika orang lain yang mengatai ku seperti itu aku tidak akan marah Bang, aku akan menanggapinya dengan santai. Tapi ini keluarga sendiri, itu sangat menyakitkan bagiku,” ujar Netta.


Wanita yang selalu terlihat kuat dan tegar itu akhirnya menangis juga, Netta bukan wanita yang gampang menangis. Tetapi kali ini ia menuntaskan semua emosi yang ia pendam. Aku hanya perlu mendengarnya dan memberikan dada ini tempatnya  menumpahkan semua air mata kesedihannya.


“Menangis lah, itu akan membuat perasaanmu lega Dek, jangan di pendam,” ujarku memeluk tubuhnya dengan erat.


“Bang aku bukan cengeng.”


“Aku tahu Dek, kamu wanita yang paling tangguh yang pernah aku lihat.”


“Tapi ada kalanya aku  merasa tidak berdaya Bang.”


“Itu wajar Dek, kamu hanya manusia biasa, wajar jika merasa sedih,” ucapku membelai  rambut panjang Netta.


“Kenapa Namboru itu tidak pernah mau memaafkan ku Bang, padahal aku sudah minta maaf padanya, kenapa mulut namboru itu selalu pedas padaku,” ujarnya masih menangis.


Tangisan Netta benar- benar panjang dan lama  kali ini, tetapi itu lebih baik, agar  ia merasa tenang.


“Aku  bukannya manja Bang.”


“Aku tahu Dek, menangis itu bukan hal yang memalukan dan bukan juga  dosa, tidak apa-apa, menangis lah  keluarkan semua rasa yang kamu pendam,” ujar ku lagi.


Netta menangis, tetapi yang membuatku merasa sangat sesak, saat Netta berkata seperti ini.


“Bapa masihol hian au tuho, rojo ho tu nipikku asa sobbu siholhu, apus ilukkon, haol au among,satokkin pe di nipikki.”


(Bapak aku  sangat merindukanmu , datanglah ke dalam mimpiku untuk mengobati rasa rinduku dan usap kesedihanku peluk aku bapa sebentar saja di mimpiku) ujar Netta dalam tangisannya.


Aku merasa bulu kudukku  berdiri, foto tulang yang di pajang Netta di ruang tamu seakan-akan berkedip melihatku, pintu kamar kami saat itu terbuka dan terlihat  dari kamar foto tulang.


Percaya tidak percaya, aku mencium  bau pangir atau jeruk purut, kata oppung yang dulu dulu jika  kita mencium bau pangir ada roh yang sudah meninggal yang melihat kita dari alamnya, tetapi semua itu tergantung kepercayaan masing-masing, karena aku sendiri antara percaya dan tidak malam itu, karena  mulai Netta menangis memanggil tulang dari situlah bulu kudukku berdiri, bahkan ke kamar mandi pun aku takut, padahal kamar mandi kami ada di dalam kamar.


Padahal biasanya aku tidak pernah takut, aku takut karena aku tahu  tulang kami senang bangat  cium aroma jeruk purut.


 Saat aku pulang kampung untuk menikah, sehari sebelum tulang meninggal, aku menemani tulang bapak Netta memetik jeruk purut,  pohonnya tumbuh di samping rumah Netta.


Saat aku bertanya saat itu tulang bilang  ia suka mencium aroma pangir tersebut, bukan hanya menghirup  baunya, almarhum tulang juga senang meminumnya. Karena itulah aku  menduga ada roh tulang ku  ada.


‘Maafkan aku tulangku naburju kalau aku belum bisa membahagiakan borumu’ ucapku dalam  hati. Aku memilih menutup mata dan memeluk Netta yang masih menangis di dadaku.


(Tulang naburju> Paman yang baik)


Setelah beberapa menit menangis, Netta membasuh wajahnya ke kamar mandi dan aku mengekor dari belakang.


“Kok abang mengekor?”


“Aku takut Dek,” jawabku jujur.


“Takut sama siapa?”


“Sama begunya tulang.”


(Begu> Hantu)


“Haaa? Ada-ada saja abang ini,  masa ama tulang sendiri takut,” ujar Netta.


“Kamu gak mencium bau jeruk purut Dek?”


“Memangnya abang beli pangir? Buat apa?”


“Bukan …. artinya ada tulang di sini,” ujarku menebak-nebak.


“Maksudnya ….?”


“Tulang kan suka pegang jeruk purut?”


“Ya, selalu ada disaku celananya, kata bapak  wangi kulit jeruk purut  membuat otaknya rileks.


“Kata oppungku dari bapak, kalau  kita mencium benda kesukaan almarhum itu artinya dia ada di sini,” ucapku.


“Mana mungkin Bang, itu perasaan abang saja … tapi kalau benaran bapak ada di sini, aku mau bilang;  Bapak aku sangat merindukanmu,  bapak jadilah pendoa untuk kami, doakan kami semua anak-anakmu,” ujar Netta.


Mendengar hal itu aku semakin merinding.


“Dek … kenapa kamu gak minta sama tulang, biar ditampar bibir tante Candra?” tanyaku.


“Aku tidak ingin bou itu kenapa- kenapa Bang, biarlah Tuhan yang membalasnya, mudah-mudahan menantunya orang baik  dan bisa menyadarkannya.”


“Justru aku berharap tante dapat menantu galak seperti singa, biar tante tahu bagaimana rasanya,” ujar ku.


“Calon menantu tante,  memantu pilihannya sendiri.”


“Maksudnya  mereka  juga dijodohkan?” tanyaku penasaran.


“Si Lasria bilangnya begitu, calon menantunya anak dari teman bou saat kuliah.”


“Oh … kita tunggu  berita selanjutnya.”


“Kok begitu Bang?”


“Dek …  menikah dengan besan yang lebih kaya tidak bagus apa lagi mantan atasan tante.”


Aku melihat tante terobsesi ingin memiliki menantu seorang dokter karena Netta gagal dijodohkan  Candra, sebenarnya di satu sisi  terkadang aku kasihan sama hidup tante, hidupnya tidak pernah bersyukur.


“Ayo tidur Bang, ini sudah tengah malam, besok aku ada jadwal operasi,” ujar Netta, wajahnya sudah terlihat  tenang.


“Aku juga besok mau  ketemu klien di Kelapa Gading tapi aku tidak bisa tidur.”


“Takut?”


“Sedikit.”


“Ah … abang penakut, si Pangihutan saja bisa melihat begu tidak takut,” ujar Netta.


“Serius emang bisa?’


“Iya dari umur  dua tahun dia sudah  bisa melihat,” ujar Netta memulai cerita.


Ia menceritakan kalau adiknya yang paling kecil bisa melihat mahluk  kasat mata tersebut, kata Netta  adik kecilnya  mengaku melihat orang-orang meninggal.


Obrolan tengah malam ini benar-benar membuatku merinding , aku sampai tidak memperbolehkan tidur karena aku sangat takut


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)