
Setelah membawa bapa uda keluar dari rumah Candra, aku membawa mereka jalan-jalan keliling kota Bali, aku bisa melihat wajah bapa uda dan Lasria bapa uda begitu terpukul.
Akhirnya aku dapat kabar kedatangan papi Tivani ke Bali meminta Tivani saksi kalau ia tidak terlibat dalam kasus korupsi, ia ingin melepaskan diri dan melimpahkan semuanya sama tante.
‘Kemana tante saat seperti ini? Aku berharap tante menyadari semua yang tante lakukan’
“Apa yang dikatakan Tivani tadi Las?”
“Dia membela abang Candra”
“Oh, dia membela, itu artinya papinya datang tiba-tiba?”
“Ya, kakak Tivani juga kaget, dia lagi menangani pasien, padahal pasiennya lagi rame di ruang tunggu juga ada, makanya kedua perawat itu ketakutan”
“Tadi bapa uda lagi ngapain?”
“Bapak lagi berjemur”
“Memang dia mengatakan apa?”
“Dia bilang tidak seharusnya ada pernikahan itu, dia bilang dia tidak setuju ada pernikahan, tetapi mama mengancam akan melaporkan hubungannya dengan sekretarisnya, dia bilang mama mengingkari janji, karena maminya Kak Tivani tahu rahasianya dan dia bilang mama yang membocorkannya”
“Dia mengatakan seperti itu sama siapa? Sama Tivani apa sama bapa uda?”
“Sama Bapak, lalu Kakak Tivani bilang kalau hubungan terlarang papinya sama sekretarisnya, dia tahu dari orang lain bukan dari mama dan dia bilang lebih memilih maminya”
Menurut cerita Lasria. papinya Tivani semakin marah karena Tivani lebih memilih maminya dan mendukung perpisahan kedua orangtuanya.
Papinya semakin marah karena Tivani lebih membela keluarga suaminya dari pada papinya sendiri, papi Tivani datang meminta dukungan dari keluarganya, tetapi Tivani dan maminya tidak mau jadi saksi, dan tidak mau mendukung juga.
‘Bagus Tivani, lebih baik kamu pertahankan suami dari pada papimu yang tukang selingkuh itu’ ucapku dalam hati.
“Kalau papinya tukang selingkuh, aku juga akan menendangnya dari kehidupan maminya”
“Ya Bang, Bapak itu bilang kalau dia akan memaksa mereka berpisah”
“Bapak gila”
“Sama seperti inang udamu, sama-sama gila,” ujar Bapa uda tatapan matanya terlihat kosong.
Melihat wajah mereka berdua yang terlihat sedih aku tidak bertanya lagi, aku diam mereka berdua juga diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku membawanya ke suatu tempat di tepi Pantai Ubut Bali.
“Bapa uda, papi ingin buka cafe di tempat ini, bagaimana menurut uda?” Tanyaku mengganti topik pembicaraan.
Ia menatap sekeliling dari kaca mobil.
“Coba bawa bapa uda turun Jo”
Aku membuka pintu dan aku mengeluarkan kursi roda dari belakang mobil dan membantunya duduk, lalu kami turun ke satu tempat yang di beli papi, papi ingin mengubah tempat itu jadi sebuah cafe.
“Bagaimana uda?”
“Tempatnya sudah bagus, abang pintar memilih tempat”
“Bapa uda ingin melakukan apa? Untuk mengisi waktu, biar ada kegiatan jadi bapa uda pikirannya tidak jenuh”
“Waktu muda pernah kerja di cafe juga meracik kopi”
“Bagaimana kalau kita cari tempat juga untuk bapa uda, khusus untuk kopi”
“Boleh Bang, biar bapak itu ada kegiatan, bapak kalau di rumah giling kopi sendiri kalau di rumah masih ada alat penggiling itu di rumah,”ujar Lasria.
“Aku tidak tahu, apa aku berguna apa tidak,” ujarnya putus asa.
“Bapa uda jangan bilang begitu, harus tetap semangat agar penyakit sembuh, obat yang paling mujarab adalah pikiran yang sehat,”ujarku memberi motivasi.
“Ya Pak, kalau bapak sakit bagaimana dengan kami?” Suara Lasria bergetar.
Jauh dalam hatiku, aku merasa paling kasihan sama gadis muda itu, saat gadis seumurannya bersenang-senang dan kuliah, ia memfokuskan dirinya untuk kesehatan bapa uda.
Aku sudah menawarkan untuk membiayai kuliahnya, tetapi ia menolak ia ingin bapa uda sembuh baru ia melanjutkan kuliah lagi.
“Baiklah … gini saja kalau bapa uda sudah siap, nanti kita cari tempat dipikirkan dulu, menurutku itu bagus , jadi pikiran teralihkan dari semua masalah,”ujarku lagi.
Tetapi omonganku seperti angin berhembus untuknya bapa uda hanya diam dengan tatapan kosong, aku tahu, mungkin kedatangan besannya kali ini telah menyakiti hati bapa uda.
*
Aku terpaksa meninggalkan kerja hari demi menemani bapa uda, kami duduk santai menikmati pemandangan pantai sampai siang.
“Kita pesan makan ya Las, aku lapar bangat, pagi hanya makan roti”
“Baik Bang”
“Aku pesan ikannya ya dek, ikannya harus sampai matang, pilihnya ikan bawek yang ukurannya besar.” Sengaja minta ini itu agar Lasria lama.
“Ya Bang”
Saat ia pergi itu kesempatanku bicara dengan bapa uda.
“Bapa uda … jika Papi Tivani terseret otomatis tante juga akan ikut”
“Itu yang aku pikirkan selama ini, itu yang aku bilang dari dulu padanya, tetapi dia tidak mau dengar, bahkan uda Roy sudah bilang juga padaku, makannya aku memilih datang ke sini Bapak Paima”
“Apa Uda Roy sudah memberitahukan sama Bapa uda?”
“Ya sudah, bisa kamu bayangkan apa yang akan dikatakan orang-orang nanti, besanan bekerja sama untuk korupsi”
“Bapa uda, kalau sudah basah biarkan basah sekalian”
“Maksudnya Mang?”
“Bapa uda fokus untuk kesehatan bapa, uda jangan biarkan Candra dan Tivani berpisah, dengan begitu tuduhan orang tidak terbukti”
“Apa kamu yakin Tivani akan mau bertahan dengan Candra, atau Candra mau bertahan dengan Tivani?”
“Tivani cinta sama Candra, tetapi Candra masih bingung, dia takut membuka hati”
“Aku memang bukan suami dan Bapak yang bertanggung jawab aku tidak bisa seperti abang”
“Bapa uda jika bapa uda kuat dan tegar, maka Candra dan adik-adiknya akan tegar juga, mereka hanya bapa uda sekarang”
“Bahkan Bapa uda tidak tahu harus berbuat apa sekarang otak terasa buntu”
“Begini saja, bagaimana kalau kita bekerja di kantor kami saja”
“Memang bapa uda masih terpakai?”
“Sekarang bukan masalah pisik lagi, tetapi otak dan ide, aku percaya bapa uda bisa karena bapa uda lulusan teknik sipil sama seperti papi”
“Baiklah aku akan mencoba”
“Ya, begitu donk harus semangat”
Tidak lama kemudian pesanan datang, ia membawa pesanan makanan kami dengan seorang pegawai restauran .
“Abang suka makan ikan kan? Jadi aku pesan ikan bakar buat kita semua”
“Bapa uda?”
“Bapa … demi kesehatan harus mengurangi lemak dan daging jadi makan ikan juga”
“Aku dan bapa uda akan bekerja bersama, Las”
Gadis berponi itu menatap bapa uda dengan wajah memelas.
“Memangnya bapa mau?”
“Maulah, kan, Bapak berpengalaman di bidang itu,” ucap uda tersenyum, melihat bapa uda senang Lasria juga bersemangat, benar dugaan ku mereka bertumpu pada bapa uda, jika ia kuat maka anak-anak itu juga kuat.
“Bapak yakin?”
“Ya, aku dan bapa uda akan membuka kantor baru. Abang ada tender besar untuk pembangunan sebuah hotel di Bali ini, aku ingin bapa uda memenangkannya”
“Ok siap,” jawab Bapa uda semangat.
**
Setelah bicara sebentar dengan bapa uda, akhirnya ia mau melakukan masukan ku, aku tidak mau semua anak-anal tante kehilangan arah dan putus asa karena malu.
Karena kabar terbaru yang aku dapat dari papi dan bapa uda, apa yang di lakukan tante akhirnya menyeretnya masuk ke ranah hukum.
Tante dan ayahnya Tivani akhirnya diperiksa polisi atas kasus korupsi penyaluran obat-obatan ke setiap rumah sakit pemerintah.
Bapa uda setuju, membiarkan tante mendapat hukumannya, aku dan bapa uda akhirnya bekerja sama dan fokus bekerja.
Aku juga bilang sama papi dan keluarga yang lain untuk membiarkan tante menghadapi tuntutan hukuman yang dihadapi, tetapi kami semua keluarga tidak membiarkannya begitu saja, kami tetap memberikan dua orang pengacara untuk mendampinginya.
Tetapi tidak satupun keluarga yang datang untuk memberinya dukungan, itu hukuman yang pantas untuk orang yang gila harta.
Kami berharap Tivani dan Candra bertahan, walau orang tua menjadikan hidup mereka sebagai permainan
Bersambung …
Bantu like dan vote ya kakak jangan lupa share juga, terimakasih.