CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
masih di resepsi


Raka dan Adinda berjalan beriringan mereka menuju hidangan kue yang berada di sebelah kiri dan mengambil beberapa kue itu dan meletakannya kedalam piring. Raka memperhatikan Adinda yang menatap kue dengan serius.


"Ambil kalau mau nggak usah banyak mikir!" ucap Raka.


"Ini nih kebiasaan, diambil kue itu kalau mau dimakan lagian Kakek jangan disuguhi makan manis terus!" ucap Adinda.


"Kenapa kau sangat memperhatikan Papi saya?" tanya Raka.


"Emang nggak boleh ya Om?" tanya Adinda sinis.


"Apa kamu sengaja mendekati Papi saya dan kamu punya rencana dibalik kebaikan kamu itu?" tanya Raka membuat Adinda memutar bola matanya.


"Om Raka, jangan suka berpikiran negatif terus sama aku ya Om. walau Papi Om meminta aku menikah sama Om tapi aku Ogah. masa aku punya suami galak, sombong, sok ganteng dan selalu berpikiran negatif sama aku ogah. lagian ya Om yang suka sama aku itu banyak tinggal cari yang benar-benar mencintai aku!" ucap Adinda sinis membuat Raka menghela napasnya.


"Bagus kalau gitu, kamu tidak usah sering datang ke rumah saya!" ucap Raka.


"Hohoho tidak bisa Om. Om mungkin pemilik rumah besar itu tapi Kakek bilang selama Kakek masih hidup aku bisa kesana kapanpun aku mau. lagian kesana itu aku hanya mau numpang berenang sama foto-foto doang!" jujur Adinda. Tidak ada niatnya mengejar Raka dan menyetujui rencana Kakek Farhan untuk menjadikannya istri Raka.


"Kamu jangan bohong, kebanyakan perempuan mengejar saya itu ya tipe-tipe seperti kamu, yang nggak tahu malu dan suka berbuat sesukanya" jelas Farhan.


"Om jangan ke gerran ya dan nggak usah sok cakep, kalau Tampan dan kaya menjadi ukuran, aku mungkin sekarang sudah menikah dengan Rifki dan tidak peduli dengan perselingkuhannya. Terus tanya sama Gemal, teman-temannya juga banyak yang suka sama aku Om. Jadi Om nggak usah khawatir kalau yang Om takutkan rencana Papi tercinta Om, akan berhasil!" kesal Adinda.


Adinda melangkahkan kakinya menuju tempat dimana para keluarga besarnya sedang duduk. Ia membawa dua piring kue tanpa meminta Raka untuk membantunya. kesal? ya dia sangat kesal dengan tingkah Raka. Baru kali ini ia menemukan seorang laki-laki yang merasa sempurna dan merasa dikejar-kejar olehnya. Adinda sejak dulu selalu dikagumi dan dikejar banyak pria dan ia tidak akan menurunkan harga dirinya untuk mengejar laki-laki sombong seperti Raka.


Adinda meletakan kue diatas meja sambil tersenyum melihat Farhan tersenyum padanya. Ia kemudian duduk disamping Farhan diikuti Raka yang duduk disampingnya. Pesta ini sangat ramai dan sangat meriah. Tak tanggung-tanggung Guna mengundang beberapa penyanyi terkenal untuk menghibur para tamu.


Seseorang menyapa Adinda membuat Adinda terkejut. "Dinda" panggilnya.


Adinda tersenyum ramah dan segera berdiri "Kakek Dinda kesana dulu ya Kek!" ucap Dinda membuat Farhan menganggukan kepalanya.


"Jangan lama!" ucap Farhan tidak rela melihat Adinda didekati laki-laki lain selain putra bungsunya.


"Oke Kek!" ucap Adinda. ia melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati laki-laki yang menyapanya. Sosok tampan yang terlihat menawan itu tesenyum kepada Adinda.


"Bukanya dia teman kamu Gemal?" tanya Farhan karema dia pernah bertemu laki-laki dirumah sakit tempat Gemal bekerja.


"Namanya Sakti Kek Kakak temannya Kak Alfa" ucap Gemal.


"Raka kamu tidak menyukai Dinda?" tanya Kakek Farhan membuat Alfa mengerutkan dahinya menatap Raka yang saat ini mengalihkan pandangan.


"Bukan saatnya memikirkan hal itu kek!" ucao Raka.


Alfa tersenyum sinis melihat sikap Raka "Walaupun Kakek menginginkan adik saya menjadi istri Om Raka tapi saya sebagai Kakaknya tidak akan menyetujuinya dengan mudah. Dinda pantas mendapatkan laki-laki yang mencintainya" ucap Alfa. Alfa menatap Raka dengan tatapan tak bersahabat. Kakak mana yang akan menyukai pria yang terlihat sombong dan angkuh yang menatap adiknya dengan tatapan kesal.