CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Benteng akhirnya runtuh


Raka kesal karena Guna tidak mengangkat teleponya dan ia meminta resepsionis untuk meminta cadangan kartu kunci akses kamar Adinda, mereka mengatakan tidak memiliki kunci cadangan dan jika harus menggantinya mereka harus menghubungi pihak perlengkapan yang mungkin baru besok diperbaiki. Sedangkan semua kamar telah penuh. Raka menduga semua ini adalah akal-akalan keluarganya.


"Om... " teriak Adinda. "Om Raka... tolongin Dinda dong pinjam baju Om yang kecil ya Om!" ucap Adinda.


"Saya tidak punya baju untuk kamu!" ucap Raka.


"Ya ampun Om, Dinda bisa masuk angin nih" Adinda kesal karena ia merasa sangat sial hari ini. Ia menghentak-hentakan kakinya lalu menjongkokkan tubuhnya tepat didepan pintu kamar mandi.


"Saya tidak terbiasa meminjamkan baju saya kepada orang lain!" jelas Raka.


"Om Dinda minta aja bajunya kalau gitu!" ucap Dinda.


Raka mengambil kaos biru muda miliknya dan melangkahkan kakinya kedepan pintu kamar mandi. "Buka pintunya!" ucap Raka.


Adinda membuka pintunya dan terlihat rambut panjang basah dengan handuk yang melilit tubuhnya. Raka mengamati pemandangan indah dihadapannya. Adinda dengan wajah cantik dan kulit putih mulus membuatnya terpaku. "Om... " ucap Adinda segera menarik baju dari tangan Raka yang saat ini seperti orang ***** yang terdiam karena terpesona dengan kecantikan alami seorang Adinda Freya.


Adinda segera menutup pintunya dan segera memakainya. Baru pertama kali ia melihat Raka menatapnya seperti itu membuatnya menghela napasnya. Semua laki-laki ternyata sama saja karena mudah terpesona dengan sosok cantik yang ada dihadapannya. Adinda menyisir rambut panjang hitam lurusnya. Ia pikir Raka akan sama seperti Alfa, Guna dan Gemal yang memandangnya hanya seperti adik walau ia bernampilan seperti apapun namun ternyata ia salah karena masuk ke kandang singa.


jika dia sudah memiliki istri apa dia akan mudah terpesona dengan rumput tetangga?


batin Adinda.


Adinda keluar dari kamar dan melihat Raka sedang membaca majalah namun majalahnya terbalik membuat Adinda menahan tawanya. Adinda membuka pintu lemari dan mengambil boxer milik Raka. Ia kembali masuk kekamar mandi namun ternyata boxer itu kebesaran, ia keluar dari kamar mandi dan meletakanya kembali ke dalam lemari.


"Apa kamu selalu bersikap seperti ini didepan laki-laki berpura-pura polos untuk menarik perhatiannya? kamu sengaja mau merayu saya seperti perempuan yang menjajakan tubuhnya karena uang" ucap Raka membuat Adinda menatap Raka dengan kesal.


"Maksud Om saya wanita murahan gitu?" tanya Adinda.


"Iya" ucap Raka.


"Saya merasa Om adalah keluarga saya makanya saya percaya jika Om tidak akan berbuat hal yang tidak pantas kepada saya. saya menganggap Om seperti Kak Alfa, Kak Guna dan Gemal. Makanya saya mau ikut Om kembali ke resort walau hanya berdua saja bahkan saya berani memeluk lengan Om tapi maaf kalau semua yang saya lakukan membuat Om menganggap saya begitu hina dimata Om. Jika saya sangat mengganggu Om saya minta maaf, saya permisi Om!" ucap Adinda dengan emosi yang memuncak.


Adinda berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu ke luar namun saat ingin menarik handel pintu, sebuah tangan menahan pergerakannya dan menariknya hingga ia hampir terjatuh. "Jangan mempermalukan diri kamu dengan keluar hanya memakai baju seperti ini!" ucap Raka.


"Om tidak usah memperdulikan saya!" ucap Adinda menatap mata tajam milik Raka dengan tatapan tak kalah tajam.


Raka menghembuskan napasnya "Maafkan saya!" ucap Raka mendekati Adinda dan kemudian menarik Adinda kedalam pelukannya membuat Adinda terisak.


"Hiks...saya juga salah karena merasa Om seperti keluarga saya. Saya juga minta maaf. saya tidak bermaksud menggangu Om Raka, saya tahu diri om. Saya salah karena percaya Om tidak seperti laki-laki lain yang tidak akan menatap saya seperti itu. jika saat ini Om adalah Rifki saya tidak akan masuk ke kamar ini karena Rifki memiliki perasaan kepada saya, saya juga tahu batasannya Om" isak tangis Adinda membuat Raka menyadari semua ucapanya kasarnya.


Raka menggendong Adinda dan membaringkan tubunya diranjang "Semua lelaki jika disuguhkan dengan pemandangan seperti kamu tadi yang hanya memakai handuk saja pasti berpikir ingin menerkam kamu!" ucap Raka "kamu tahu apa yang dilakukan laki-laki yang tidak bisa mengontrol dirinya?" tanya Raka. Adinda menatap Raka dengan tatapan berbeda membuat Raka memejamkan matanya dan kemudian mendekat wajahnya lalu mencium bibir mungil Adinda dengan lembut membuat keduanya terbuai tanpa sadar.


"Ini yang akan dia lakukannya mencium kamu dan menyentuh tubuh kamu dan apa yang saya lakukan sekarang adalah hukuman buat kamu karena berani mengganggu saya!" ucap Raka menjauhkan tubuhnya dan menyelimuti Adinda. "Tidurlah!" ucap Raka dan ia memilh untuk keluar kamar karena ia tidak bisa berada dikamar yang sama dengan wanita yang menghancurkan benteng pertahaan yang ia bangun sejak ia mengenal perempuan aneh yang bernama Adinda Freya.