CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Daerah rawan bencana


"Hahaha" tawa Raka yang terlihat begitu renyah membuat Adinda kesal mendengar tawa Raka yang belum pernah ia lihat. Sepertinya bagi Raka, membuatnya kesal adalah hal yang menyenangkan. Ingin sekali rasanya Adinda menjambak rambut Raka atau bahkan memukul wajah sombong itu yang membuatnya sangat-sangat kesal.


"Ambil kalau mau silahkan!" ucap Raka menaikkan alisnya menatang Adinda dan kemudian menujukan senyum sinisnya karena merasa diatas angin.


"Dasar pencuri!" teriak Adinda.


"Pencuri? Saya? Bukannya kamu?" ucap Raka.


"Hah? nggak salah nih, Bapak Raka Candrama yang terhormat sejak kapan Adinda menjadi pencuri. Bapak yang jelas-jelas mencuri ponsel saya. Bapak kenapa sih menyebalkan banget?" ucap Adinda.


"Kamu sudah terlalu sering mencuri waktu saya dan tenaga saya, kalau kamu lupa" jelas Raka.


"Kapan gue pernah curi waktu dan tenaga bapak?" kesal Dinda.


"Gue? sopan sekali kamu ya Adinda. Kamu mau saya hukum?" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya.


"Apa hak anda ngehukum saya? Bapak nggak punya hak!" teriak Adinda.


"Bapak? sekarang kita bukan di kampus" ucap Raka tak mau kalah.


"Aduh pusing deh bicara sama Om. Om mau apa sebenarnya? Dinda capek Om. please deh... jelasin kenapa curi ponsel Dinda!" ucap Dinda akhirnya lelah dengan sikap Raka yang tidak mah mengalah darinya.


"Karena kamu pernah mencuri waktu dan tenaga saya, saatnya kamu balas budi kepada saya Dinda!" ucap Raka.


"Sekarang Dinda tanya ya Om, kapan Dinda mencuri waktu Om apalagi tenaga Om?" tanya Adinda.


"Kamu pernah mencuri waktu istirahat saya. Kamu lupaa saya pernah menolong kamu saat kamu hampir tenggalam? Kamu juga mencuri tenaga saya, waktu kaki kamu sakit dan saya harus menggendong kamu, semua badan saya sakit karena kamu itu berat!" ucap Raka mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat mereka di Bali.


"Om perhitungan banget sih, kalau tahu gitu biarin Dinda mati aja tenggelam sekalian! Kalau mau hitung-hitung kerugian Dinda lebih banyak dari Om tahu nggak?" teriak Dinda.


"Saya nggak tahu apa kerugian kamu" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya.


Astaga ini orang menyebalkan banget sih...


"Om sudah dua kali mencuri bibir saya kalau Om lupa" kesal Adinda menatap Raka dengan tatapan penuh permusuhan.


"Tapi bibir kamu kan masih ada disana dan tidak berpindah bagaimana caranya saya mencuri bibir kamu?" tunjuk Raka sambil melirik Adinda sekilas dan ia kembali fokus menyetir.


"Om cium Dinda Om, dua kali. Mau Om apa sih?" lirih Adinda. Ia menggigit bibirnya karena kesal dengan sikap Raka yang merasa tidak bersalah karena berani menciumnya.


"Satu kali itu kecelakaan dan yang waktu itu kamu juga mau kan?" ucap Raka tanpa malu membuat wajah Adinda memerah mengingat adegan gilanya yang ia lakukan bersama Raka. Dengan bodohnya ia membalas ciuman Raka.


"Awalnya saya memang ingin membuat kamu ketakutan dan pulang tapi kamu yang menggoda saya!" ucap Raka membuat Adinda benar-benar ingin menangis saat ini.


Mobil Raka berhenti disebuah hotel membuat Adinda bingung dan juga terkejut. "Jangan salah sangka, saya hanya ingin memeriksa hotel keluarga saya bukan ingin mengajak kamu berbuat mesum di hotel seperti yang ada dipikiran kamu saat ini!" ucap Raka menujuk kepala Adinda.


"Dinda mau pulang Om, kembalikan ponsel Dinda!" pinta Adinda dan ponselnya kembali berbunyi.


Raka mengangkat ponsel Adinda "Halo Dinda sedang mandi dan kamu jangan mengganggunya lagi!" ucap Raka mematikan ponsel Adinda membuat Adinda melototkan matanya.


"Dasar gila" teriak Adinda mencoba mengambil ponsel ditangan Raka namun Raka segera memasukan ponsel Adinda kembali kedal sakunya.


A**pa yang akan dipikirkan Rifki kalau ada pria yang mengangkat ponsel gue dan mengatakan kalau gue sedang mandi. Gila... Raka bener-bener sudah gila.


"Jangan salahkan Dinda Om jika daerah rawan bencana Om jadi korban!" ucap Adinda membuat Raka mengerutkan dahinya saaat mendengar daerah rawan bencana yang dimaksud Adinda.


Adinda segera mendekati tubuh Raka hingga keduanya pun tak berjarak. Adinda meraba-raba kantong celana Raka membuat Raka menegang. "Kamu apa-apan, gila kamu ya!" teriak Raka.


"Jangan salahkan saya ya Om!" ucap Adinda berhasil menggegam ponselnya namun Raka menahan tangan Adinda. Jantung Adinda berdetak dengan kencang membuatnya menatap Raka yang saat ini tak berjarak.


"Kalau kamu berani bergerak lagi saya jamin kamu akan menerima akibatnya!" ancam Raka. "Keluarkan tangan kamu sekarang juga dan lepaskan tanganmu dari ponsel itu!" ucap Raka dingin.


Adinda mengeluarkan tanganya dan menjauh dari Raka membuat wajah Raka memerah dan menatap Adinda dengan kesal. "Awas kamu kalau kamu berani mengambil ponsel ini dari saya!" ucap Raka. Adinda yang merasa di tindas menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu hanya ingin main ponsel kan? ini pakai ponsel saya! Awas kalau kamu nangis!" ancam Raka.


"Siapa juga yang mau nangis" kesal Adinda, ia mengambil ponsel Raka dengan kesal dan menghebuskan napasnya agar ia tidak terlihat menyedihkan dan ingin menangis. "Sandinya apa?" tanya Adinda


"Jari telunjuk saya" ucap Raka.


Adinda mengambil jari telunjuk Raka dan membuka ponsel Raka. Ia kemudian mencari no ponselnya Guna.


"Kamu mau telepon Guna, Alfa atau Ayunda mereka nggak akan bisa melawan saya!" ucap Raka. "Ayo ikut saya!" ucap Raka melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya. Adinda mengurungkan niatnya menghubungi Guna, ia saat ini membuka-buka ponsel Raka dan mencari rahasia Raka agar ia bisa menggunakannya untuk mengancam Raka.


"Dinda..." panggil Raka membuat Adinda segera keluar sambil menyebikkan bibirnya.


K**enapa dia bawa gue kesini? awas ya kalau dia macam-macam gue habisin itu daerah rawan bencananya! jangan kira anak perawan kayak gue takut sama Om-Om mesum modelan Raka yang telah lama jomblo.


tbc...


vote dong😆