CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Bucin parah


Setelah mendapatkan pemeriksaan dari Dokter, Ayunda di minta beristirahat di ruang perawatan. saat ini Terra sedang menemani Ayunda sambil membaca buku dipangkuannya. ketukkan pintu membuat Ayunda menolehkan kepalanya dan melihat sosok Adinda yang datang dan segera mendekati Ayunda lalu memeluknya.


"Ketok pintu tapi langsung masuk tanpa salam, sopan santun kamu mana Dek?" ucap Ayunda.


Adinda menatap Ayundan dengan air mata yang telah menetes "Mbak nggak apa-apa?" tanya Adinda khawatir.


"Alhamdulilah nggak apa-apa untung ada Terra dan Kakaknya yang bantuin Mbak" jelas Ayunda. "Terra, ini adik bungsu mbak, namanya Adinda!" ucap Ayunda.


Terra melangkahkan kakinya mendekati Adinda dan mengulurkan tangannya "Saya Terra Mbak!" ucap Terra.


"Adinda, hmmm terimakasih Terra telah menyelamatkan Mbak saya. dia ini memang ceroboh dan sering nyusahin orang. maaf ya Ter! " pinta Adinda.


"Apa-apan lo Dek sempat-sempatnya ngejekin mbak" kesal Ayunda.


"lucu sekali jadi ingat kembaran Terra si Terry kita sering ribut juga tapi kalau kalau kita berjauhan rasanya rindu banget" ucap Terra mengingat Kakak kembarnya Terry. "Hmmm Mbak, Terra permisi dulu ya!" pamit Terry.


"Makasi Terry" ucap Ayunda."Nanti mbak hubungin kamu!"


"Sama-sama Mbak, siap" ucap Terry.


"Makasi ya Terri!" teriak Adinda.


Terry tersenyum dan segera keluar dari ruang perawatan Ayunda. saat ini Adinda melihat lengan Ayunda yang dibalut dan juga luka di kedua lutut Ayunda. "Mas Guna mana?" tanya Adinda.


"Nggak usah dihubungi, dia sibuk!" ucap Ayunda.


"Mbak harusnya Mbak itu telepon Kak Guna!" ucap Adinda.


"Nggak perlu hanya luka kecil!" ucap Ayunda.


"Luka kecil? lengan Mbak sakit dan itu bukan luka kecil!" kesal Adinda. ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Guna.


"Halo Assalamualikum Kak, ini Adinda mau kasih tahu kalau Mbak Ayu kecelakaan sekarang kita lagi di rumah sakit, hnmm oke Kak". klik Adinda mematikan sambungan teleponya.


"Mbak lagi marahan sama Kak Guna?" tanya Adinda.


"Nggak" ucap Ayunda.


"Kita nggak lagi marahan Dek" ucap Ayunda.


"Terus tumben Mbak nggak nangis?" tanya Adinda.


"Nangis tadi tapi" kesal Ayunda.


"Mbak jadi perempuan itu harus kuat kalau nggak Kak Guna bisa direbut sama Vivian" ucap Adinda.


"Kayak kamu tahu aja siapa Vivian" kesal Ayunda penasaran.


"Tahula, Dinda tahu dari media. Makanya waktu tahu Mbak mau nikah sama Kak Guna, Dinda sempat ragu kok bisa Kak Guna mau sama Mbak?" ucap Adinda membuat Ayunda kesal.


"Kampret lo dek ngeselin banget!" kesal Ayunda.


"Makanya jadi itu istri itu pinter ngerayu Mbak, soalnya tipe-tipe kayak Kak Guna itu mana peka orangnya!" ucap Adinda.


"Mbak nggak bisa ngerayu!" ucap Ayunda


"Mbak ngambek aja coba, diamin Kak Guna. t


Terus pulang ini Mbak minta nginap di rumah kita aja, gimana?" ucap Adinda.


"Dinda sayang kamu nggak kenal suami Mbak, dia itu pasti nggak akan peduliin Mbak walaupun Mbak ngembek. bisa-bisa dicari kesempatan punya istri lagi nanti!" ucap Ayunda.


"Hahahaha percaya sama Dinda Mbak, Kak Guna masih jadi lembut dan baik sama Mbak percaya deh. tipe-tipe Kak Guna itu mudah takluk sama cewe manja kayak Mbak kalau lagi mabok" jelas Adinda.


"Udah Din lagi males bahas dia, kamu gih urus administrasi Mbak, kita pulang sekarang. mbak mau istirahat dirumah aja. kata Dokter boleh rawat jalan!" ucap Ayunda.


"Oke Mbak" Adinda melangkahkan kakinya keluar dari ruang perawatan Ayunda.


Ayunda menghela napasnya, memikirkan Guna yang saat ini sedang bersama Vivian membuatnya ingin menangis lagi rasanya. apalagi tingkat kebucinnanya sudah diambang batas kesabarananya alias parah.


apa aku harus ikutin apa kata Dinda. tapi kalau Mas Guna cuekin aku dan kesal sama aku gimana? tapi kata Dinda kalau aku ambekan, manja mungkinkah Mas Guna bakal luluh dan lebih memperhatikan aku?


tbc....