
Raka memilih diam dan hanya mengamati pergerakan Adinda yang saat ini terlihat gelisah dalam tidurnya. Setelah Adinda melihat perubahan sikap Adinda, beberapa hari ini membuat Raka berpikir bagaimana mengubah pikiran istrinya tentang dirinya. Sebenarnya ia tidak bermaksud membuat istrinya terlihat menghindarinya bahkan berusaha sendiri untuk memenuhi keinginannya.
Adinda menggerakan tangannya dan ia memeluk Raka dengan erat tanpa sadar. Saat tidur pun, biasanya Adinda akan mengajaknya bahkan memaksanya untuk menemaninya berbaring diranjang sampai ia terlelap tapi kali ini istrinya itu tidak mengajaknya dan memilih tidur sendirian.
Raka mencium pipi Adinda dengan lembut dan kemudian mengulurkan tangannya ke perut istrinya dengan lembut. Raka memperbaiki posisi tidur Adinda dan meletakkan kepala Adinda ke atas lengannya. Raka memejamkan matanya ikut terlelap bersama Adinda.
Adinda membuka matanya karena ia tiba-tiba merasa sangat mual, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Adinda menyingkirkan tangan Raka yang saat ini sedang memeluknya dan ia menyingkap selimut lalu turun dari Ranjang. Adinda menahan rasa mual yang saat ini ia rasakan, agar tidak membangunkan suaminya. Ia melangkahkan kakinya dengan pelan keluar dari kamar. Raka yang terbangun karena pergerakan Adinda segera turun dari ranjang. Ia mengambil ponselnya dan melihat jam menujukkan pukul tiga pagi.
Raka melangkahkan kakinya mencari keberadaan Adinda. Ia menuruni tangga menuju lantai dasar. Raka mendengar suara seseorang yang sedang muntah membuatnya dengan cepat menuju kamar mandi yang ada didapur dan ia melihat Adinda yang saat ini mengeluarkan isi perutnya. Raka masuk kekamar mandi dan ia memegang bahu Adinda membuat Adinda terkejut.
"Dinda kira siapa," lirih Adinda tesenyum dengan keringat dingin yang menetes didahinya.
"Masih mual?" tanya Raka sambil menghapus keringat Adinda dengan tangannya.
"Iya" ucap Adinda.
Raka melihat muntahan yang mengenai gaun tidur Adinda. Ia segera menggendong Adinda dan membawa Adinda kembali ke dalam kamar mereka. Ia memasuki kamar mandi dan mendudukkan Adinda disana. "Jangan kemana-mana!" ucap Raka. Adinda memilih diam dan tidak berkata apa-apa, apalagi saat melihat Raka membawa tisu basah dan juga sebuah gaun tidur bersih untuknya. Raka membuka gaun tidur yang dipakai Adinda membuat Adinda menahan tangan Raka.
"Dinda bisa sendiri Kak!" ucap Adinda. Raka tidak peduli dengan ucapan Adinda, ia melucuti gaun tidur yang Adinda pakai saat ini. Raka membersihkan bekas muntahan Adinda yang mengenai wajah Adinda dan juga bagian dada Adinda.
"Masih pagi untuk mandi jadi kita lap saja ya!" ucap Raka membersihkan tubuh Adinda.
Adinda memilih diam dan memperhatikan Raka yang saat ini memakaikannya gaun tidur. "Masih mual?" tanya Raka menatap manik mata Adinda yang sedang menahan air matanya agar tidak menetes. Adinda menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba ia memeluk Raka dengan erat. Raka kembali menggendong tubuh mungil istrinya itu dan ia membaringkan tubuh Adinda ke atas ranjang dengan pelan.
"Lain kali kalau mau muntah, muntah di kamar saja tidak apa-apa. Nggak usah ke bawah!" ucap Raka.
"Nanti Kakak kebangun!" ucap Adinda.
"Tidak apa-apa" ucap Raka merapikan rambut Adinda yang menutupi wajah Adinda. Ia meletakan helaian rambut Adinda ke belakang telinga lalu mengelus pipi Adinda dengan lembut.
"Kakak tidak pernah merasa direpotkan dengan permintaanmu Dinda, Kakak minta maaf!" ucap Raka.
Adinda menggelengkan kepalanya "Kakak nggak salah apa-apa kok, nggak usah minta maaf Kak!" ucap Adinda. Adinda tidak menyadari tingkahnya yang ingin menjadi mandiri membuat Raka merasa ia menjadi suami yang tidak berguna.
Raka mengambil ponselnya, sebenarnya ia ingin menghubungi Ratna atau Lastri dan menanyakan apa yang harus ia lakukan agar mual yang dialami Adinda sedikit berkurang. Raka melihat Adinda menahan sesuaru yang ingin keluar dari dalam mulutnya membuat Raka segera mengambil sebuah ember agar Adinda tidak perlu turun dari ranjang. Raka menghela napasnya saat ingat jika Gemal adalah dokter kandungan.
"Kak... " panggil Adinda saat melihat Raka sedang meletakkan ponselnya ditelinganya.
"Buat apa?" tanya Adinda pelan.
"Tanya kenapa kamu mual-mual begitu," tanya Raka.
"Nggak usah telepon Gemal, ini masih pagi!" ucap Adinda.
Raka tetap menghubungi Gemal yang saat ini sedang tidur terlelap.
"Halo" ucap Gemal terlihat kesal.
"Assalamualikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Gem, istri Om mual-mual Gem" ucap Raka.
"Besok aja tanyanya kenapa sih Om? ini masih pagi Om, nggak tahu apa kita tidur jam berapa malam ini..." teriak Gemal.
"Tetserah kalian tidur jam berapa Om tidak perduli, sekarang jawab pertanyaan Om Gemal! kenapa istri Om mual-mual?" tanya Raka.
"Itu karena hormo HCG yang berproduksi Om, biasa kalau ibu hamil. Besok aja Gemal periksa di Rumah Sakit!" ucap Gemal.
"Kasihan Gem istri Om, mualnya sekarang masih Gem," ucap Raka membuat Adinda menatap punggung Raka dengan haru karena Raka memperhatikannya.
"Peluk aja istrinya Om, elus-elus gitu. Jangan dibikin nangis. Di sayang-sayang jangan dijelitin!" ucap Gemal membuat Raka kesal dan segera menutup ponselnya.
"Maaf Kak udah ngerepotin Kak, lain kali Dinda nggak akan membuat tidur Kakak terganggu!" ucap Adinda.
"Kakak khawatir sama kamu Dinda, Kakak tidak pernah merasa direpotkan dengan kehamilan kamu!" ucap Raka dingin membuat air mata Adinda akhirnya menetes.
Raka menghembuskan napasnya saat Adinda menangis, Ia segera memeluk Adinda. "Kenapa nangis?" tanya Raka.
"Kakak jangan marah hiks...hiks... !" ucap Adinda.
"Kakak tidak marah Dinda, Kakak mencintai kamu Dinda, Maafkan Kakak kalau membuat kamu khawatir. Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu!" ucap Raka.