
Hari ini Raka mengajak semua keluarganya ke Puncak. Hanya Gemal yang tidak bisa pergi karena ada jadwal operasi yang tidak bisa ia tinggalkan. Tapi Gemal berjanji malam nanti ia akan datang ke Villa saat makan malam. Saat ini suasana Vila sangat menenangkan. Pohon-pohon dan rumput yang hijau dihalaman Villa ini membuat Felisa terlihat sangat senang dan saat ini Felisa sedang berlari mengejar Raka. Adinda tersenyum melihat kebahagian keluarga besarnya. Apalagi liburan ini bisa membuat hatinya nyaman, karena Raka terlihat lebih perhatian padanya. Mereka berangkat ke puncak pagi-pagi dan sampai di puncak sekitar jam 11 siang. Raka mengemudikan mobilnya dengan santai dan hati-hati mengingat kondisi istrinya yang sedang hamil.
Vivian dan Ayunda sedang menyiapkan makan siang untuk mereka. Vivian sedikit demi sedikit belajar memasak dan akhirnya ia bisa memasak karena petunjuk Ayunda. Keduanya kerap kali membuat masakan bersama. Ayunda berkeinginan membuka
sebuah cafe bersama Vivian jika nanti suami mereka menyetujuinya.
"Ayah Feli capek," ucap Felisa meminta Raka menggendongnya.
Raka mendekati Felisa dan segera menggendong Felisa. Ia kemudian melangkahkan kakinya mendekati Adinda yang sedang duduk dan menikmati pemandangan Villa. Raka duduk disamping Adinda sambil memangku Felisa.
"Bunda suka Villanya?" tanya Raka.
"Suka Yah, apalagi ada kolam renang dan pemandangan hijau disini. Hmmm... Villa ini besar banget kok nggak disewa Yah?" tanya Adinda. Jika berbicara didepan anak mereka, Adinda dan Raka sepakat memanggil Ayah Bunda.
"Villa ini disewakan Bunda, tapi seminggu kemarin Ayah minta untuk tidak disewakan karena ingin Ayah ingin mengajak semua keluarga liburan singkat disini!" jelas Raka.
"Bunda, Ayah Feli mau ke dapur tempat Momy dan Mama masak!" ucap Felisa membuat Raka menganggukkan kepalanya. Felisa turun dari pangkuan Raka dan segera melangkahkan kakinya menuju dapur.
Raka memperkecil jarak diantara mereka dan ia merangkul bahu Adinda. "Dulu saat merasa kesepian, marah dan kesal kakak memilih untuk menghabiskan waktu di Villa ini. Vila ini adalah poperti pertama yang berhasil Kakak beli dengan uang hasil kerja keras Kakak Dinda" jelas Raka membuat Adinda melototkan matanya terkejut karena Villa ini ternyata milik Raka dan bukan poperti milik Keluarga Candrama.
"Waw Kakak hebat, masih muda aja udah kaya raya. Villa ini pasti mahal harganya" ucap Adinda menatap sekelilih Villa yang terlihat mewah.
"Dulu tidak semewah ini, Kakak membelinya saat Kakak baru selesai S1 dan waktu itu bisnis Kakak sudah mulai maju" jelas Raka.
"Dulu Kakak bisnis apa?" tanya Adinda.
"Coffe bus, percetakan kecil-kecilan, angkringan dan Kakak membeli saham salah satu perusahan besar saat itu. Perkiraan Kakak benar dan kakak mendapat keuntungan ratusan dollar dan membuat Kakak terbiasa berinvestasi" jelas Raka. Sebenarnya masih nanyak binis yang ia miliki. dan tidak ia ceritakan kepada Adinda. "Hmmm kalau kamu tidak keberatan Villa ini akan Kakak berikan kepadamu sebagai... " ucap Raka terhenti dan ia menggaruk tengkuknya.
"Sebagai apa?" tanya Adinda penasaran dengan ucapan Raka.
"Sebagai tanda cinta Kakak kepada kamu Dinda" ucap Raka membuat Adinda terkejut dan kemudian tersenyum senang.
"Kakak serius?" tanya Adinda malu-malu dan terlihat sangat bahagia.
"Kalau sama kamu Kakak selalu serius Dinda dan kamu tahu itu!" ucap Raka membuat Guna yang berada didekat mereka menggelengkan kepalanya karena ucapan Raka yang terlihat dingin meskipun Raka telah diajarkan Gemal beberapa hari yang lalu.
"Kok Kakak marah sih?" tanya Adinda membuat Raka segera menggelengkan kepalanya.
"Kakak nggak marah Dinda, percaya sama Kakak nih lihat!" ucap Raka menunjukkan senyum manisnya, membuat Adinda yang tadinya merasa Raka marah padanya lalu kemudian Adinda tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Kakak lucu, nggak cocok jadi cowok manis" ucap Adinda membuat Raka yang mendengar Adinda merasa legah.
"Makanya kamu jangan berpikiran buruk tentang Kakak Dinda. Kakak bukan laki-laki yang pemarah seperti Gemal" ucap Raka membuat Guna terbatuk-batu hingga Adinda dan Raka menyadari kehadiran Guna.
"Sedikit Om" ucap Guna.
"Dinda, ayo kita ke kamar saja!" ajak Raka membantu istrinya itu berdiri membuat Guna tersenyum.
"Masih pagi Om."
"Kamu kira saya buta apa?" kesal Raka karena kehadiran Guna membuatnya malu.
Raka benar-benar terlihat bodoh didepan keponakannya karena terasa sulit menghadapi wanita termasuk istrinya sendiri. Raka bukan donjuan seperti Gemal yang bisa menunjukkan senyum palsunya kepada siapapun. Raka dan Adinda menuju kamar mereka untuk beristirahan sambil menunggu waktu makan siang.
Sementara itu Ayunda melihat suaminya yang saat ini sedang menatap pemandangan Villa. Ia menghela napasnya dan ia kemudian mendekati Guna dan memeluk lengan Guna dengan manja.
"Udah masaknya?" tanya Guna menyadari kehadiran istrinya.
"Belum selesai tapi Mama dan Mami yang mengambil alih tugas Vian dan Ayu Mas" ucap Ayunda.
"Masakan apalagi?" tanya Guna.
"Pindang patin" ucap Ayunda.
"Enak itu."
"Masakan Mama mana ada yang nggak enak," ucap Ayunda membuat Guna menganggukkan kepalanya.
"Mas, Hmmm.... Ayu minta maaf," ucap Ayunda membuat Guna mengerutkan dahinya karena bingung.
"Kenapa? setahu Mas kamu nggak salah apa-apa Yu," ucap Ayunda.
"Hehehe... becanda Mas, kok dianggap serius gitu," ucap Ayunda membuat wajah Guna yang sempat tegang akhirnya terlihat lega.
Guna memeluk Ayunda dari belakang "Jika nanti Mas terlalu sibuk dan tidak memperhatikan kamu dan anak kita kamu wajib mengingatkan Mas, Ayu!" ucap Guna.
"Ya tentu saja Mas, Ayu kan butuh perhatian dan kasih sayang hehehe..." kekeh Ayunda membuat Guna tersenyum. "Mas tadi Vian tanya, itu ada rambut palsu warna abu-abu ada tiga didalam kopernya Gemal, punya siapa Mas?" tanya Ayunda.
"Punya Om Raka, nanti dia pilih model mana yang mau dia pake waktu acara kumpul keluarga Yu," jelas Guna. Ia tidak ingin mengatakan jika ia juga akan memakai rambut palsu itu bersama Gemal dan juga Raka.
"Wah Dinda pasti senang banget ya Mas hehehe..." kekeh Ayunda.
"Iya Yu rahasia ya!" pinta Guna sambil mengeratkan pelukannya lalu mencium pipi Ayunda dengan lembut.
tbc...