CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Alfa berkhianat


Adinda sampai dirumahnya, ia segera turun dari dalam taksi dan masuk kedalam rumahnya. Dinda berjalan dengan lunglai karena ia sejak tadi merasa sangat sedih hingga menangis di dalam taksi, untung saja supir taksi baik padanya dan memberikan banyak tisu lalu mengajaknya berbicara.


"Dalam percintaan memang kadang-kadang Neng harus ada rasa cemburu dan nangis-nangis kayak film India Neng. Neng kan cantik kalau pacarnya jahat tinggalin aja Neng cari yang baru, mamang dukung neng. Kalau Neng mau yang serius Mamang bisa cariin Neng tapi Neng kudu pakai kerudung!".


"Nggak usah Mang, saya masih sayang sama Tunangan saya Mang" jujur Dinda.


Adinda masuk kedalam Rumah dan sosok laki-laki paling tampan dirumahnya itu menatap Adinda dengan tatapan bingung meliht kondisi Adinda. "Dek kamu dari mana kok kayak kena ****** beliung gini?" ucap Alfa mendekati Adinda dan memutar tubuh Adinda.


"Kak Alfa, kok kesini?" tanya Adinda menepis tangan Alfa dan memilih duduk disofa sambil menyandarkan tubuhnya.


"Kakak mau ambil beberapa baju Kakak," ucap Alfa.


"Kakak ipar Dinda mana?" tanya Adinda mengedarkan pandangannya mencari sosok cantik yang sangat dicintai kakaknya itu.


"Ada di Apartemen," ucap Alfa. Kisah percintaan Alfa memang tidak seindah cerita romantis yang indah. Alfa juga baru menikah siri saat ini dan sedang dalam proses mengurus pernikahan resminya. "Kakak nanyain kamu Din kamu kenapa? ini sengaja mengalihkan pembicaraan," ucap Alfa.


Alfa mengamati wajah Adinda dan ia berdecak kesal saat melihat pipi Adinda lebam "Ini pipi kenapa dek?" tanya Alfa. Luka Adinda bukanlah bekas terjatuh tapi bekas ditampar dan Alfa yakin itu.


"Kejedot tembok," ucap Adinda berbohong.


"Kalau bohong yang kreatif dong Din, mata kamu buta sampai kejedot dinding?" tanya Alfa kesal.


"Buta karena cinta," ucap Adinda membuat Alfa menghela napasnya.


"Kakak obatin ya dek!" ucap Alfa.


"Nggak usah Kak," ucap Adinda.


Sebuah mobil berhenti didepan rumahnya dan terlihat Raka masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa obat di dalam kantung kersek ditangannya. Adinda menatap Raka dengan datar dan tanpa banyak kata ia melangkahkan kakinya meninggalkan Alfa dan Raka yang saling menatap.


Alfa melipat kedua tanganya "Jangan bilang kamu yang memukul adik saya?" tanya Alfa dingin.


"Tangan saya mana mau memukulnya yang ada saya pasti mengelus pipinya!" ucap Raka datar namun Alfa bisa melihat tidak ada kebohongan dari ucapan Raka.


"Siapa yang memukulnya?" tanya Alfa.


"Luna, mereka berkelahi di kampus," jelas Raka.


"Adinda kalah?" tanya Alfa tidak menyangka sang adik yang bisanya menang jika adu otot sesama perempuan dan sekarang adiknya itu kalah.


"Dia sengaja nggak melawan Ka," jelas Alfa. "Saya hampir mau nonjok muka kamu karena kamu tersangka utama yang menbuat adik saya nangis dan pipinya lebam," ucap Alfa daat melihat mata Adinda bengkak karena habis menangis dan pipi Adinda lebam.


"Saya nggak akan pernah melakukan hal seperti itu pada Adinda!" ucap Raka.


"Saya pegang ucapan kamu, Ka!" ucap Alfa menatap Raka dengan tatapan seriusnya.


"Saya janji Al!" ucap Raka membuat Alfa menganggukkan kepalanya dan akhirnya mempercayai Raka. Memang Raka telah mendapatkan restu darinya saat Raka meminta izin untuk menikahi Adinda langsung kepadanya.


"Kalau ngambek Adinda lama Ka, beda sama Ayunda," jelas Alfa.


"Saya mau ketemu Adinda dulu diatas Al!" ucap Raka.


"Silahkan tapi siap-siap dicuekin ya Ka," ucap Alfa.


"Nggak masalah," ucap Raka melangkahkan kakinya menuju kamar Adinda yang berada dilantai dua.


Raka mengetuk pintu kamar Adinda dan mamanggil namanya. "Dinda..." panggil Raka.


Adinda mengunci pintu kamarnya dan saat ini ia tidak ingin bertemu Raka. "Buka pintunya!" ucap Raka.


*Ngomong sana sama pintu, gue nggak mau nhomonh duli sama lo. Ini namanya gerakam tutup mulut gue khusus buat lo... yang sok bijak sama si Luna gila itu.


batin Adinda*.


"Dinda..." teriak Raka. Alfa yang melihat Raka tidak bisa membuka pintu kamar Adinda membuat Alfa mendekati Raka.


"Dobrak aja nggak apa-apa Ka, biar pintunya rusak dan dia dimarahin Papa!" teriak Alfa membuat Adinda kesal.


Kak Alfa belain dia, wah dasar penghianat...


Adinda ingin sekali rasanya memarahi kakak sulungnya itu karena memberikan ide yang pastinya akan membuatnya dimarahin Papa mereka karena merusak karya seni Papanya. pintu ini diukir Bagas disela-sela kesibukannya dikantor saat ia masih muda. Jika pintu ini rusak, Adinda yakin bukannya hanya Raka yang akan mendapatkan masalah, tapi dia bisa diusir dari rumah ini sekarang juga.


"Tenang aja dia pasti buka pintunya!" bisik Alfa kepada Raka.


Adinda membuka pintu kamarnya dan Raka segera masuk kedalam kamar Adinda. Untuk kedua kalinya Raka masuk kedalam kamar ini. Ia mengedarkan pandangannya dan matanya tertuju pada foto Adinda bersama teman-temanya dan disana ada Rifki yang sedang merangkul bahu Adinda.


tbc...