
"Loh... kapan Kakak pulang?" tanya Adinda.
"Kayaknya seru banget ketawanya, tapi ini matanya kenapa kayak habis menangis? Ada yang mau kamu jelasakan kepada saya Dinda?" tanya Raka menatap Adinda dengan tatapan seriusnya.
Adinda tersenyum manis "Dinda tadi nonton drama korea sama Papi jadinya sedih dan nagis deh, Kak" ucap Adinda.
Raka mengelus kepala Adinda dan ia kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia sengaja berpura-pura tidak tahu kehamilan istrinya dan sengaja menunggu bagaimana istrinya menyampaikan kabar bahagia ini kepadanya. Raka mengambil susu untuk ibu hamil yang telah dibelikan supir Adinda dan ia segera membuatkan susu hamil untuk Adinda.
Raka juga membuat susu untuk Papinya karena ia tahu pasti Papinya akan cemburu jika ia hanya memperhatikam istrinya. Bersikap dengan orang tua harus hati-hati agar tidak menyinggu perasaannya, apalagi Farhan memiliki penyakit jantung membuat Raka tidak ingin terjadi sesuatu kepada Papinya itu. Raka melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga tempat Adinda dan Farhan sekarang sedang duduk di sofa sambil menonton Tv. Ia membawa dua gelas susu yang berada diatas nampan dan lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini untuk Papi dan ini untuk Dinda!" ucap Raka membuat Adinda dan Farhan tersenyum senang.
"Pi pembantu baru kita ganteng amat ya Pi. Mana gagah, hidungnya mancung, kulitnya putih dan perhatian lagi sama kita!" ucap Adinda membuat Raka mencubit hidung mancung istrinya itu.
"Minum susunya!" perintah Raka. Farhan terkekeh melihat Adinda segera meminun susu yang diberikan Raka sambil tersenyum senang.
"Tumben banget buatin kita susu" ucap Adinda.
"Lagi perhatian Din, kamu terima aja!" ucap Farhan menatap Raka dengan tatapan penuh arti.
"Papi minum susunya!" ucap Raka.
"Nanti Ka, masih kenyang!" ucap Farhan.
"Minum sekarang Pi!" perintah Raka membuat Farhan segera meminum susunya.
"Papi dan Dinda kayak anak kecil, masa kalah sama Feli. Kalau dibuati susu langsung diminum!" ucap Raka.
"Iya Kakanda," goda Adinda memeluk lengan Raka. "Papi Dinda akan mengikuti perintah kanda!" ucap Adinda menujukkan senyum manisnya.
"Hari ini apa yang kamu kerjakan?" tanya Raka ingin tahu apa yang istrinya kerjakan hari ini.
"Makan, tidur terus nonton dan tidur lagi. Tadi juga bangun karena dibangunin Mbak Ayu, untung Mbak Ayu dan Kak Guna yang jemput Felisa. Setelah itu Dinda pergi sama Mbak Ayu dan Kak Guna ke resto yang ada nasi kebulinya," jelas Adinda.
"Ka, Din... Papi ke kamar dulu ya, Papi ngantuk!" ucap Farhan dan ia memanggil suster yang telah merawatnya agar membawanya ke kamarnya.
"Iya Pi," ucap Raka.
"Mimpi indah ya Pi!" ucap Adinda membuat Farhan mengacungkan jari jempolnya.
Raka menatap istrinya itu dengan tatapan serius membuat Adinda merasa hawa panas tiba-tiba membuat wajahnya memerah. Adinda memeluk Raka dengan erat. "Kangen," ucap Adinda.
"Kita ke kamar ya!" ajak Raka.
Adinda menganggukkan kepalanya dan keduanya pun menuju lantai dua. Mereka tiba didepan kamar dan segera masuk kedalam kamar. "Dinda belum lihat Feli Kak, dia udah tidur apa belum?" tanya Adinda.
"Tadi saya sudah melihat Felisa dan meminta Felisa segera tidur setelah belajar!" ucap Raka.
"Ya, tadinya Dinda pengen ngajak Felisa tidur bareng kita!" ucap Adinda. Ia merasa begitu gugup saat ini. Ia ingin menyampaikan berita bahagia tentang kehamilannya.
Raka menggendong Adinda dan segera membaringkan tubuh Adinda diranjang. Ia ikut berbaring disamping Adinda dan menyampingkan tubuhnya menghadap Adinda. Raka menyelipkan rambut yang menutupi wajah Adinda ke balik telinga Adinda. Raka tidak akan pernah bosan dengan wajah istrinya yang selalu membuatnya ingin berlama-lama menatapnya. Pipi Adinda yang tembem membuat Raka dengan jahil mengecupnya membuat Adinda lagi-lagi tersipu malu.
"Dinda gemukan nggak Kak?" tanya Adinda.
"Gemukan," ucap Raka.
"Tambah cantik, apapun bentuk tubuh kamu akan selalu terlihat cantik bagi suamimu ini!" ucap Raka.
"Bohong, nanti kalau lihat rumput tetangga lebih indah, Kakak nanti berpaling dari Dinda. Apalagi kalau Dinda udah bongkar mesin," ucap Adinda.
"Bongkar mesin? kamu kira kamu robot," ucap Raka menahan tawanya dengan kosa kata aneh yang selalu saja keluar dari bibir mungil yang terasa manis baginya.
Cup... Raka mengecup bibir Adinda "Kak ada yang aneh nggak dari Dinda?" tanya Adinda.
"Kamu selalu aneh bagi saya Dinda tapi sayangnya kamu itu selalu nganenin, selalu membuat saya nyaman, selalu ingin saya peluk. Anehnya kamu itu selalu membuat saya suka kamu!" ucap Raka.
"Gombal" ucap Adinda. "Hmmm, Dinda tanya serius Kak. Apa yang aneh dari Dinda?" tanya Adinda membuat Raka tersenyum karena mengerjai istrinya ternyata sangat menyenangkan.
"Suka makan, suka tidur, mual dipagi hari" ucap Raka.
"Kanda, Dinda sedang berbuah," ucap Adinda membuat Raka tersenyum.
"Kira-kira laki-laki apa perempuan ya?" tanya Raka mengelus perut Adinda.
"Kakak tahu Dinda hamil?" tanya Adinda terkejut mendengar ucapan Raka membuat Raka tersenyum. Adinda segera duduk dan menatap Raka dengan tatapan kesal dan curiga.
"Sejak kapan Kakak tahu Dinda hamil?" tanya Adinda menyebikkan bibirnya. Tadinya ia ingin Raka terlihat gembira dan melompatkan tubuhnya bahkan menciumnya seperti drama-drama romance yang ia tonton. Adinda mengembuskan napasnya karena ia akhirnya sadar jika Raka bukanlah laki-laki romantis.
Raka akhirnya ikut duduk dan menahan tawanya melihat kekesalan istrinya. "Seminggu ini memang Kaka agak curiga dengan sikap kamu apalagi kamu sering muntah-muntah kalau pagi. Kamu juga jadi malas dandan, malas ke kantor atau ke kampus maunya tidur dan makan saja," ucap Raka.
"Terus kenapa nggak minta Dinda periksa?" tanya Adinda.
Raka menghela napasnya "Tiga hari yang lalu kamu nggak ingat saya mau ngajakin kamu ke dokter. Kamu bilang kamu nggak sakit dan ngapain ke Dokter. Makanya saya minta Ayu buat kesini melihat keadaan kamu!" ucap Raka membuat Adinda menatap Raka dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kok jadi ngegas gitu sama Dinda?" teriak Dinda.
Raka menghela napasnya dan segera memeluk Adinda dengan erat. "Tahu kepastiannya kamu hamil itu tadi saat kamu bicara sama Papi!" ucap Raka membuat Adinda meneteskan air matanya.
Raka mengangkat wajah Adinda dan mencium dahi Adinda. "Makasi kejutannya sayang, jaga bayi kita dengan baik ya!" ucap Raka menghapus air mata Adinda dengan jemarinya. Adinda menganggukkan kepalanya.
"Dinda mau makan nasi goreng buatan suami Dinda!" ucap Adinda membuat Raka mengelus kepala Adinda.
"Siap bos cantik!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum senang.
"Kak... besok minta Gemal kesini dong!" pinta Adinda.
"Besok dia pulang Din," ucap Raka. "Mau ngapain minta Gemal kesini?" tanya Raka.
"Mau ngerjain Gemal, Dinda kesal dia sering banget buat Vian ngebatalin janji jalan sama Dinda karena diminta Gemal ini itu banyak maunya" jelas Adinda.
"Asal kamu senang nanti Kakak minta Gemal dan Vian nemenin kamu saat mereka pulang!" ucap Raka. "Besok pagi kita periksa ke dokter dan sekalian ke Rumah Kak Elin soalnya Ibunya Kak Elin datang jadi kita akan makan malam disana!" jelas Raka.
"Kak nasi gorengnya!" pinta Adinda.
"Oke ayo kita ke dapur!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum senang.
tbc...