
Adinda begitu terkejut dengan apa yang baru saja Raka lakukan padanya. ini bukan pertama kalinya bibir lembut itu menyetuh bibirnya. Adinda melihat punggung Raka yang telah menjauh dan kemudian keluar dari kamar ini. Napasnya terasa sesak karena sejak menyadari apa yang ia dan Raka lakukan, ia menahan napasnya. Dengan wajah memerah Adinda segera terduduk dan kembali memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Astaga ini gila, kenapa Om mesti cium gue sih. Mulai sekarang gue harus jaga jarak dari dia, tapi kenapa gue nggak rela ya? apa gue suka sama si Om? nggak boleh... Din, nggak lucu banget lo bakalan menghadapi wajah sombong dan songongnya itu setiap hari" ucap Adinda.
"Ternyata Argh...bibir gue nggak perawan lagi dua kali kecolongan, kan kalau gue ketagihan gimana? Aduh, gimana ini. Tenang Dinda-tenang. Anggap saja tadi itu bibir bocah berumur empat tahun dan buka om-om berumur tiga puluh empat tahun" ucap Adinda.
Rasa lelah, lapar dan kantuknya hilang seketika hanya karena bibir Raka yang menciumnya dan yang paling Dinda kesal, ia teryata membalas ciuman Raka dan membiarkan Raka bermain-main dibibirnya. Adinda berdiri dan ia menatap tubuhnya dicermin dan ia baru menyadari jika ia terlihat seksi hanya karena memakai kaos yang kebesaran milik Raka. Adinda merasa ia sangat bodoh saat ini. Lelaki manapun pasti akan mengatakan jika ia mencoba merayunya, bagaimana tidak gunung kembar tercetak begitu jelas dari balik kaos yang ia kenakan.
"Wajar sih kalau Om Raka marah sama gue dan salah paham kalau gue mencoba merayunya. Mulai sekarang gue harus menjauh dari Om Raka. Tapi apa gue bisa? Dia ternyata baik walaupun sombong dan kata-katanya kejam. Mungkin kalau laki-laki lain yang ada dikamar ini, pasti gue udah dinodai" ucap Adinda.
Adinda kembali membaringkan tubuhnya lalu menyelimuti tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar dan mendesah lelah memikirkan bagaimana sikapnya jika ia bertemu Raka nanti. Bunyi pintu terbuka membuat Adinda berpura-pura memejamkan matanya. Ternyata yang datang adalah Raka. ia membawa beberapa kantung kresek berisi makanan.
Raka mengoyangkan lengan Adinda "Dinda ini makanan buat kamu!" ucap Raka.
Adinda membuka matanya dan melihat Raka yang saat ini duduk diranjang sambil menatapnya "Saya sudah menghubungi Guna, sebentar lagi kamu bisa pindah ke kamarmu!" ucap Raka.
Raka berdiri dan melangkahkan kakinya duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Adinda mengambil makanan itu dan memakan makanannya diatas ranjang sambil menarik selimut keatas dadanya agar menutupi tubuhnya.
***
Ternyata semua yang mengikuti permainan misi mendapatkan hadia. Pada pertandingan jet ski Tim Alfa dan Tim Riskan memenangkan juara pertama sedangkan pertandingan misi labirin, Tim Raka dan Tim Gemal yang memenangkan pertandingan. Guna telah memberikan semua hadia untuk mereka. Tapi kepulangan mereka di percepat karena Guna mendapatkan kabar keadaan Farhan yang belum sadar setelah dioperasi.
Hari ini mereka semua kembali ke Jakarta. Guna dan Ayunda terlihat sangat terpukul mendengar berita itu. Keduanya tidak menyangka jika Farhan merahasiakan jadwal operasinya terlebih lagi Farhan memilih untuk melakukan operasi di Rumah sakit Dirgantara tanpa sepengetahuan mereka.
Saat ini Guna, Ayunda, Adinda, Gemal, Raka, Alfa dan Vivian segera menuju ke Rumah sakit. Mereka baru saja sampai di Bandara dan segera ingin bertemu Farhan. Ayunda menangis didalam pelukan Guna sedangkan Adinda sejak tadi menteskan air matanya tanpa isak tangis. Melihat wajah Adinda yang terlihat begitu sedih, Alfa mengelus punggung Adinda dengan lembut.
"Kita doakan Kakek nggak apa-apa!" ucap Alfa. Alfa dan Adinda saat ini satu mobil dengan Guna dan Adinda. Sedangkan Raka, Vivian dan Gemal berada di mobil yang dikendarai Gemal. Saat Guna mengatakan keadaan Kakek mereka, Vivian pingsan membuat panik mereka semua termasuk Gemal yang sangat khawatir dengan kondisi istrinya. Apalagi Vivian mengatakan jika terjadi sesuatu pada Farhan bagaimana dengan dirinya. Bagi Vivian hanya Farhan yang ia miliki di dunia ini yang menyayanginya.