
Guna membuka sebuah pintu berdaun dua. dari luar saja Ayunda bisa menebak jika kamar Guna sangat luas. Mereka masuk kedalam kamar dan terlihat sebuah ranjang berukuran besar. terdapat gorden besar yang menutupi jendela yang terbuat dari kaca hingga pemilik kamar bisa melihat pemandangan luar dari balik kaca yang ternyata juga berfungsi sebagai pintu penghubung menuju balkon.
Guna membuka pintu kaca dan terlihatlah pemandangan kolam berenang yang ada di tengah bangunan rumah ini. "Kamarnya bersih sekali ya Mas, pasti sering dibersihkan" ucap Ayunda.
"Pelayan disini sangat rajin dan mereka semua orang-orang kepercayaan Kakek sejak dulu. bahkan anak-anak dari mereka juga kakek sekolahkan dan diberi beasiswa hingga perguruan tinggi. mereka sudah seperti keluarga" jelas Guna.
Ayunda tersenyum, ia baru mengetahui sisi dari seorang Farhan Candrama Kakek suaminya ini. "Coba kakek menyukaiku ya Mas" ucap Ayunda membuat Guna menghela napasnya.
"Dia menuyukaimu, waktu itu dia pernah memintamu datang kemari. Tapi mungkin karena Dilara Kakek terhasut waktu itu dan bersikap kasar padamu" jelas Guna.
"Ayu dan Kakek kan sudah damai Mas. jadi sekarang Ayu merasa sangat senang Mas" ucap Ayunda. Guna mengelus kepala istrinya itu dengan lembut.
"Hari ini kita menginap disini sekalian besok dari sini kita bersama seluruh keluarga langsung ke tempat resepsi" jelas Guna.
"Iya Mas" ucap Ayunda. ia sekarang sangat bahagia karena memiliki suami dan keluarga yang juga menyayanginya.
"kita istirahat dulu" Ajak Guna membaringkan tubuhnya diranjang dan kemudian menepuk ranjang disisi kananya agar Ayunda ikut berbaring disana. Ayunda membaringkan tubuhnya disamping Guna. ia terkejut saat tangan Guna menariknya hingga keduanya tak berjarak saat ini. Guna memeluknya dengan erat memberikan kenyamana pada Ayunda.
"Mas Ayu ngantuk Mas!" ucap Ayunda karena saat ini matanya mulai memberat.
sementara itu Adinda dan Farhan tampak asyik berada didapur. Farhan tersenyum melihat Adinda yang begitu ceria dan juga terlihat bahagia hanya dengan hal-hal kecil. ia menghembuskan napasnya karena disaat nyawanya mungkin tidak akan lama lagi ia baru sadar telah melakukan kesalahan yang besar yaitu tidak memperhatikan keluarganya. Yang Farhan tahu hanyala bagaimana menaikan pendapatan perusaahaan dan menperkaya dirinya.
Farhan ingat bagaimana raut wajah ketakutan Raka kecil ketika ia pulang dari kantor dan bertanya kepada pengasuh Raka apa yang Raka kerjakan hari ini. bagaimana nila-nilai Raka dan siapa yang bermain bersama Raka. kebanyakan waktu yang dimiliki Raka adalah belajar dan belajar. Nilai-Nilai Raka sangat memuasakan sama halnya dengan Guna cucunya sedangkan Gemal, cucunya itu hanya tahu bermain dan menangis, Gemal selalu bersembunyi dibalik tubuh Elin menantunya namun ketika remaja Gemal berubah menjadi pembangkang dan ketus padanya.
Farhan sangat berharap kepada Raka, Guna dan Vivian saat itu agar bisa membesarkan perusahaannya kelak ketika mereka dewasa. itu pemikiran seorang Farhan Candrama yang dulu sangat angkuh dan sombong. Uang menjadi tolak ukur kebahagiaannya karena itulah yang diajarkan orang tuanya. Farhan adalah seorang anak tunggal yang memiliki harta berlimpah namun ketika ia berusia 15 tahun kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan membuatnya hidup dengan penuh ketakutan dan kewasapadaan. waspada dengan para kerabat dekat yang mengincar harta keluargannya dan ia tidak ingin jatuh miskin.
"Kek, masakan Dinda ini enak loh Kek" ucap Adinda.
"Sini,coba Kakek cicip!" ucap Farhan mendekati Adinda dan mencicipi makanan itu. "Sayuranya enak Din" puji Farhan.
"Siapa dulu dong, Dinda" ucap Dinda tersenyum manis membuat ketiga orang koki di rumah ini tersenyum saat melihat Farhan tertawa.
"Hahaha dipuji sediki kamu udah kayak koki hebat aja Din" tawa Farhan.
Farhan memperhatikan Adinda, andaikan ia bisa hanya menatap kebahagian Raka yang menikah dengan seorang perempuan ceria seperti Adinda akankah ia bisa melihat senyum bahagia putra bungsunya itu mengingat Farhan pun lupa kapan ia pernah melihat Raka tersenyum bahagia, sepertinya ia tidak pernah melihatnya. Tanpa sadar Farhan memejamkan matanya dan meneteskan air matanya.
ternyata baru aku sadari betapa kejamnya sikapku padamu Raka. selama ini aku hanya bisa menekanmu agar menuruti perintah dariku. Maafkan Papi Raka....