CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Dinda mirip Papa


Pukul satu siang Raka datang menjemput Adinda untuk pergi bersamanya ke suatu tempat yang dijanjikan Raka. Adinda memakai gaun berwarna kuning membuat Raka mengerutkan dahinya. "Ayo Om!" ajak Adinda.


"Nggak ada baju lain?" Tanya Raka karena tidak suka melihat Adinda memakai gaun yang terlalu ketat. "Pakai kaos sama jeans saja karena kita perginya naik motor!" ucap Raka membuat Adinda terkejut.


"Beneran naik motor?" tanya Adinda.


"Iya, kamu nggak mau?" tanya Raka memnuat Adinda tersenyum.


"Mau dong Om, bentar ya Om Dinda ganti baju dulu!" ucap Adinda segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Adinda memakai kaos bewarna kuning dan jeans biru dan ia segera melangkahkan kakinya mendekati Raka. Rumah sudah mulai sepi karena Alfa dan Karina masih berada di hotel sedangkan Ayunda berada dirumah mertuanya.


"Ayo Om!" ajak Adinda. keduanya melangkahkan kakinya mencari keberadaan Ratna dan Bagas.


"Pa, Ma saya mau ajak Adinda pergi!" ucap Raka.


"Boleh ya Pa!" ucap Adinda tersenyum manis.


"Mau kemana?" tanya Bagas.


"Papa mau tahu aja urusan anak muda!" kesal Ratna. "Pulangnya jangan malam banget ya Ka, kalian belum nikah!" ucap Ratna memperingatkan Raka.


"Iya Ma" ucap Raka datar.


"Om masa sama Mama mertua nggak senyum, senyum dong!" pinta Adinda membuat Raka tersenyum canggung.


"Dinda jangan panggil Raka Om lagi! sebentar lagi kamu jadi istrinya, belajar dari sekarang kalau panggil Raka itu Mas atau kakak!" ucap Ratna.


"Maunya sih Kakanda tapi gitu Ma, si Om nggak mau!" ucap Adinda menyebikkan bibirnya.


"Panggilan kok Kakanda kamu kira ini zaman kerajaan" ucap Bagas membuat Adinda kesal karena Papanya tidak menyetujui keinginannya.


"Jadi Dinda harus panggil apa Pa?" tanya Dinda.


"Sayang, cinta, love" goda Bagas membuat Ratna terkekeh.


"Hehehe, Nak Raka sekarang tahu kan sikap Dinda turunan siapa? nih turunan Papanya. Dulu tante dipanggil Ratu hatiku sama si Papa buat Mama malu banget waktu itu. Saat dikampus Mama langsung lari kalau Papa ngeliatin Mama dari jauh karena nggak suka Papa ngegoda Mama dengan kata-kata lebay begitu" jelas Ratna mengingat masalalu.


"Kamu itu lebaynya sama kayak Papa" ucap Ratna mengelus kepala putri bungsunya itu dengan lembut.


"Hahaha mungkin ya Ma, soalnya Dinda kebiasaan dengar kalau Mama ngambek pasti Papa langsung mengeluarkan jurus rayuan maut biar Mama nggak ngambek lagi!" jelas Dinda.


"Sana pergi, jangan mesum ya Ka. Nanti anak saya kamu kurung di apartemen kamu!" ucap Bagas membuat Raka tersenyum kaku. Raka dan Adinda mencium punggung tangan Bagas dan Ratna.


"Kita pergi Pa, Ma Assalamualikum" ucap Raka.


"Waalaikumsalam" ucap Bagas.


Raka dan Adinda melangkahkan kakinya menuju teras. Adinda tersenyum senang melihat motor gede milik Raka terpakir indah didepan rumahnya "Om Dinda boleh pinjam motornya?" tanya Adinda menatap Raka dengan mengerjapkan kedua matanya mencoba merayu Raka.


"Mulai sekarang kamu saya larang pakek motor kalau bukan pergi dengan saya Dinda!" ucap Raka.


"Kok gitu Om?" tanya Adinda kesal.


"Naik motor sendirian bahaya Dinda, apalagi kamu perempuan!" ucap Raka.


"Memang Om mau antar jemput Dinda tiap hari?" tanya Adinda.


"Mau, menjaga keselamatan kamu itu sudah menjadi kewajiban saya Dinda. kalau saya sedang pergi ke luar kota, akan ada supir perempuan yang akan menjemput kamu!" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya.


"Om dimana-mana supir itu kebanyakan laki-laki!" ucap Dinda.


"Saya maunya perempuan!" ucap Raka sambil menaiki motornya dan menghidupkan mesin motornya.


"Dinda maunya supirnya nanti laki-laki Om biar bisa ngebut kalau Dinda telat!" pinta Adinda.


"Saya lebih memilih supir perempuan untuk mengantar kamu karena saya tidak suka istri saya dekat dengan laki-laki lain!" ucap Raka. "Ayo naik!".


"Iya Om... " ucap Adinda segera naik dan Raka melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju tempat dimana dulu ia sering menghabiskan waktunya disana.


tbc...