
Ayunda menatap Guna yang saat ini sedang membaca buku dipanggkuannya sambil meminum kopi didepan teras. Ia ingin mengatakan tentang kehamilannya karena semakin lama ia menutupi berita kehamilanya, pasti nanti Guna akan tahu berita ini dari Maminya atau dari Gemal.
"Mas," panggil Ayunda membuat Guna menutup buku yang sedang ia baca dan ia menatap Ayunda dengan tersenyum.
"Kenapa? udah nggak sabar kembali ke Rumah?" tanya Guna. Kemungkinan desain bagian interior rumah akan segera selesai dan Guna tidak sabar ingin memperlihatkan rumah mertuanya itu yang telah ia perbesar dan menjadi lebih megah.
Ayunda tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Guna berdiri dan segera merangkul Ayunda. Ia kemudian mengajak Ayunda melewati kolam renang dan keduanya menaiki lift yang akan membawa keduanya menuju lantai tiga. "Tumben mau naik lift?" tanya Ayunda.
"Wajah kamu lemas gitu kalau naik tangga nanti kecapean," ucap Guna sambil memeluk pinggang Ayunda.
Lift terbuka dan keduanya segera keluar dari dalam lift. Ayunda mengajak Guna duduk disofa. "Mas, hmmm ada yang ingin Ayu sampaikan sama Mas Guna," ucap Ayunda mencoba membuka pembicaraan.
"Mau bicara apa sayang?" tanya Guna menatap mata Ayunda dengan serius dan merapikan helaian rambut Ayunda.
"Mas jangan marah sama Ayu ya Mas?" tanya Ayunda membuat Guna bingung dan juga penasaran.
"Kamu melakukan apa sampai Mas harus marah sama kamu?" ucap Guna dingin membuat Ayunda menelan ludahnya saat mata Guna menatap matanya dengan tatapan penasaan.
"Bagi Ayu ini bukan kesalahan tapi anugerah Mas," ucap Ayunda sendu membuat Guna menghembuskan napas kasarnya. "Ayu... Ayu hamil Mas," ucap Ayunda membuat Guna menjauh dari Ayunda dan ia segera berdiri, membuat Ayunda melakukan hal yang sama saat melihat ekspresi Guna yang terlihat terkejut. Ayunda melangkahkan kakinya dengan cepat dan menutup pintu kamarnya dengan keras.
Ayunda membaringkan tubuhnya diranjang. Ia mengelus perutnya karena kecewa dengan Guna yang tiba-tiba bersikap seperti itu padanya. Guna menatap pintu kamar yang tertutup dengan kesal. Ia segera mendekati pintu kamar dan mengetuknya agar Ayunda segera membukannya.
"Ayu... buka pintunya!" ucap Guna.
"Nggak mau hiks... hiks... kalau Mas nggak suka Ayu hamil lagi, Mas nggak usah deketin Ayu!" teriak Ayunda membuat Guna meremas rambutnya karena kesal kenapa ia segera menjauh dari Ayunda saat mendengar berita itu hingga membuat istrinya itu salah paham padanya.
"Kamu salah paham, Mas hanya sedang ingin berpikir!" ucap Guna.
"Mas jahat, Ayu hamil juga karena siapa?" teriak Ayunda.
"Mas minta maaf ya Yu, kita bicara dulu ya!" pinta Guna.
"Mas mau minta Ayu gugurin kandungan Ayu? Ayu nggak mau!" ucap Ayunda.
"Kamu salah paham Yu!" ucap Guna membuat Ratna dan Elin yang berada dilantai dua segera melangkahkan kakinya menuju lantai tiga. Teriakan Ayunda terdengar membuat mereka merasa khawatir.
"Kenapa nak?" tanya Ratna mendekati Guna.
"Ayu marah sama Guna, Ma."
"Ada masalah apa?" tanya Ratna bingung. Satu hari ini ia memang pergi bersama Herlina besannya untuk membeli makanan yang akan dikirim untuk Alfa dan Karina.
"Ayu hamil," ucap Guna membuat Ratna menghela napasnya. Ia tahu betapa Guna sangat mengkhawatirkan kondisi kesehatan Ayunda, jika Ayunda hamil dalam waktu kurang dari satu tahun setelah melahirkan Ghavin. Menantunya ini bahkan mengatakan baginya cukup memiliki Ghavin, jika itu akan membuat istrinya kesakitan lagi seperti saat melahirkan Ghavin.
"Guna khawtir Ma dan Guna butuh waktu untuk berpikir!" ucap Guna membuat Ratna menepuk bahu Guna.
"Yu, ini Mami dan Mama. Buka pintu nak!" pinta Ratna.
"Mama... Mami, Ayu nggak mau ketemu Mas Guna!" teriak Ayunda salah mengartikan sikap Guna dan ia takut Guna mengatakan jika ia tidak setuju dengan kehamilan ini.
Ratna menatap Guna dengan sendu begitupun dengan Elin "Biarkan Mama dan Mamimu yang bicara sama Ayu nak, kamu tenangi diri dulu dan konsultasi sama Gemal tentang kehamilan Ayu dan resikonya!" ucap Ratna.
"Iya Ma," ucap Guna melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju lantai dua.