CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Kemarahan Raka


Indra menatap Adinda dengan tatapan penuh kebencian apalagi ternyata Adinda saat ini telah menikah dan menjadi milik orang lain. "Saya ingin anaknya agar tidak bersekolah di sekolah yang sama dengan anak saya Bu Wahyuni. Anda tahu kan siapa mertua saya dan keluarga kami adalah salah satu donatur terbesar di Sekolah ini" ucap Indra.


Adinda membuka mulutnya karena kesal mendengar ucapan Indra. Saat ini koneksi mungkin lebih penting dari pada keadilan. Anaknya tidak bersalah dan tidak pantas dihina apalagi disakiti hatinya. Bagaimana jika anaknya memiliki trauma dengn kejadian ini. Adinda tidak ingin Felisa tubuh menjadi anak yang penyendiri bahkan selalu mengingat kenangan buruk saat ia dibully. Bagi Adinda kenyamanan dan ketenangan anaknya adalah yang paling utama saat ini.


"Bu Wahyuni, jika anak saya memang nakal dan bersikap tidak sopan pasti saya tidak akan membelanya. Saya juga tidak akan marah jika guru-guru disini menegur dan menasehati anaknya saya jika dia bersalah. Tapi nyatanya anak mereka yang salah dan orang tuanya ikut-ikutan menyerang anak saya, bahkan sengaja ingin membuat keributan dengan saya. Saya sebenarnya nggak mau menghubungi suami saya, tapi tindakan Pak Indra dan ibu Elysa benar-benar sudah keterlaluan," ucap Adinda kesal.


"Hubungi saja suamimu dan saya ingin dia mengajarkan istri dan anaknya agar tidak bersikap kurang ajar pada istri dan anak saya!" ucap Indra.


"Bu wahyuni saya minta anda mengeluarkan Felisa dari sekolah ini! karena saya merasa tidak aman jika anak saya harus satu sekolah apalagi sekelas dengan anak yang tidak tahu asal usulnya!" ucap Elysa membuat Adinda kesal dan ia menatap Elysa dengan tatapan tajam. "Kenapa? apa yang saya katakan salah? Semua satu sekolah ini tahu, kalau dia bukan anak anda, dia itu anak Panti. Jeng Monic yang bilang kalau dia dulu sering bertemu Felisa di Panti tempat keluarganya sering memberikan sumbangan."


Tanpa sadar Adinda meneteskan air matanya karena ia merasa sakit mendengar Elysa menyudutkan Felisa dan juga meminta agar Felisa dikeluarkan dari sekolah ini "Kamu pikir saya tidak bisa memberikan sumbangan kepada sekolah ini? Kau pikir kekayaanmu bisa membuat orang-orang tunduk padamu dan kau bisa melakukan apa yang kau inginkan? kau seorang ibu bagaimana jika anakmu disakiti? Aku tidak menyangka jika hatimu tidak secantik wajahmu!" ucap Adinda membuat Elysa ingin kembali menampar wajah Adinda, namun Adinda memegang tangan Elysa dan ia mendorong Elysa hingga Elysa terjatuh.


Indra segera membantu Elysa berdiri dan ia mendekati Adinda dan mencengkram tangan Adinda dengan kencang membuat Adinda meringis kesakitan. "Apa yang kau lakukan?" teriak Raka yang baru saja datang mendekati mereka dan membuat Indra melepaskan tangannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Raka menatap penampilan istrinya yang kusut. Raka memegang pipi Adinda dan ia melihat pipi istrinya itu lebam.


"Siapa yang memukulmu?" tanya Raka dingin membuat Adinda menatap Raka dengan tatapan berkaca-kaca. Adinda berusaha menahan air matanya agar tidak menetes. "Dimana Heru dan Ijal?" tanya Raka mengedarkan pandangannya kedua bodyguard yang harusnya menjaga istri dan anaknya.


"Dinda minta mereka nunggu di Mobil Yah," jelas Adinda.


Raka menatap Indra dengan tatapan dingin membuat Indra memucat. Ia sangat mengenal laki-laki hebat yang ada dihadapannya ini. Raka Candrama yang merupakan salah satu pemilik saham terbesar di tempat ia bekerja. Apalagi Raka juga merupakan tiga dari pewaris Candrama grup.


"Pak Raka," ucap Indra menatap Raka dengan wajah memucat dan ia merasa sangat menyesal karena telah membuat kesalahan besar.


Indra tidak tahu jika suami Adinda adalah Raka Candrama, ia kira yang menikah dengan Adinda adalah Rifki. Jika ia tahu Adinda adalah istri Raka Candrama, ia tidak akan membela istrinya apalagi menyakiti Adinda.


"Apa yang kau lakukan kepada istri saya?" tanya Raka. Adinda memegang lengan Raka, ia tidak ingin suaminya ini hilang kontrol dan akhirnya memukul Indra.


"Dinda nggak apa-apa!" lirih Adinda.


"Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi?" tanya Raka mengabaikan keinginan istrinya yang memintanya untuk bersabar dengan isyarat matanya.


"Dia yang memulainya, istri anda harusnya tahu bagaimana posisinya dan juga dia tidak menghormati saya. Dia yang mencari masalah dengan saya! Anda harus mengajarkan istri anda sopan santun!" ucap Elysa.


"Cukup Mi!" ucap Indra kesal dengan istrinya. Tindakan istrinya ini bisa menghancurkan keluargannya.


"Papi gimana sih, jelas-jelas tadi Papi belain Mami!" kesal Elysa.


"Nggak, Mami nggak salah!"kesal Elysa.


Raka menatap keduanya dengan dingin. "Tidak perlu meminta maaf, kau tunggu saja surat pemindahanmu ke luar kota Pak Indra!" ucap Raka membuat Indra menganggukkan kepalanya.


"Apa hak anda memerintahkan suami saya, anda tunggu saja keluarga saya tidak akan tinggal diam dengan masalah ini!" ucap Elysa.


Plak... Indra menampar wajah Elysa "Diam!" teriak Indra.


Raka memeluk Adinda dan kemudian menatap wajah Adinda yang saat ini terlihat lebam. "Sakit?" tanya Raka mengelus pipi Adinda.


"Nggak Kak," bohong Adinda karena jika ia menganggukkan kepalanya suaminya ini bisa saja meminta Indra memukul istrinya sebagai balasan karena memukul dirinya.


"Siapa keluargamu saya tidak takut?" ucap Raka dingin.


"Hartono grup," ucap Elysa tersenyum penuh kemenangan. Keluarganya merupakan salah satu konglomerat di negara ini dan semua orang pasti mengenal nama besar Hartono.


"Kau yang membuat saya memutuskan menarik investasi dan kerjasama yang terjalin diantara perusahaan kita," ucap Raka membuat Indra menggelengkan kepalanya. Perusahaan mertuanya saat ini menerima bantuan investasi dari Candrama grup.


Mendengar ucapan Raka membuat wajah Monica memucat. "Pak Raka saya tidak ikut-ikutan dalam masalah ini. Elysa yang memulai mencari masalah. Saya bersedia menjadi saksi. Dia mengatakan Felisa anak panti, anak pungut dan melarang putrinya bermain bersama Felisa!" jelas Monica.


"Memang kenyataan begitu kok," ucap Elysa.


"Diam, kalau kamu masih berbicara seperti itu juga kamu akan menerima akibatnya Elysa!" ancam Indra.


"Saya tunggu permintaan maaf anda kepada istri dan anak saya jika tidak kalian tunggu akibatnya!" ucap Raka. Raka kemudian merapikan jasnya dan melepaskan tangan Adinda yang memegang lenganya. Ia mendekati Indra dan Bugh... Raka memukul wajah Indra. "Saya paling benci laki-laki yang suka menyakiti perempuan terlebih lagi itu istri saya. Kamu juga telah menghina putri sulung saya. Atas dasar apa kalian mengatakan dia anak pungut dia putri saya!" ucap Raka membuat Felisa yang ternyata baru saja datang segera mendekati Raka dan memeluk kaki Raka.


"Ayah kita pulang Yah!" lirih Raka. Raka menggendong Felisa dan memeluknya.


"Kamu anak Ayah dan Bunda, Felisa. Anak sulung Ayah yang Ayah dan Bunda sayangi!" ucap Raka.


Felisa menganggukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya didada Raka. Adinda tahu jika putrinya saat ini sedang terisak. Felisa yang memilih Raka menjadi Ayahnya. Sejak pertama kali bertemu Raka, Felisa kecil yang dianggap bisu akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Ayah dan Bunda adalah orang tua Felisa!" lirih Felisa.


"Iya, nak! Kamu anak Ayah dan Bunda," ucap Raka yang kemudian mengajak Adinda dan Felisa segera keluar dari cafe ini.