CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Maunya dirayu


Acara resepsi secara sederhana langsung dilakukan setelah akad nikah hingga pukul dua siang. Lelah? tentu saja Adinda lelah, apalagi ternyata acara keluarga ini cukup banyak tamu yang hadir. Keluarga besar Ratna dan Bagus sangat kompak dan mereka semua pulang hingga acara benar-benar berakhir. Raka pun diperkenalkan secara khusus kepada seluruh keluarga.


Saat ini Adinda memilih beristirahat di dalam kamar. Adinda mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Bunyi ketukan pintu membuat Adinda segera membuka pintu kamarnya dan tersenyum saat menatap wajah datar yang saat ini berada dihadapanya. Adinda merasa canggung ketika melihat Raka, membuat Raka segera mendorong pelan pintu kamar dan ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.


"Apa ini caramu menyambut kehadiran suamimu?" tanya Raka membuat wajah Adinda memerah karena malu.


"Dinda kan bingung Kak, siang bolong gini kakak datang ke Kamar Dinda" ucap Adinda.


Raka melangkahkan kakinya sambil membawa kopernya lalu meletakannya ke sudut ruangan. "Tutup pintunya!" pinta Raka membuat Adinda membuka mulutnya.


Astaga mau ngapain si Om? jangan-jangan dia mau ngajakin...astaga yang benar aja om. keliatan banget ya aura Om-Om kesepiamya.


batin Adinda.


"Dinda jangan bengong gitu!" ucap Raka membuat Adinda segera melangkahkan kakinya menutup pintu kamarnya.


Raka membuka bajunya membuat jantung Adinda berdetak dengan kencang. Adinda menelan ludahnya saat matanya menatap punggung Raka yang terlihat atletis.


Dari belangkang aja udah Wow apalagi depannya. Astaga pikiran gue udah kemana-mana.


Raka melempar pakaiannya ke wajah Adinda membuat Adinda terkejut. "Main lempar aja, kakak mau nyiksa istri sendiri kayak di film-film?" kesal Adinda.


Raka menghembuskan napasnya "Kamu bengong dari tadi mikirin apa?" tanya Raka.


"Ngapain siang bolong Kakak masuk ke kamar Dinda?" tanya Adinda membuat Raka mengerutkan dahinya.


"Baru pagi tadi kamu jadi istri saya dan sekarang kamu lupa kalau kamu sudah punya suami" ucap Raka sinis.


"Dinda ingat Kak tapi tetap aja jangan sekarang!" ucap Adinda membuat Raka mendekati Adinda dan pletak Raka menyetil dahi Adinda.


"Saya hanya ingin mengganti pakaian saya Dinda, saya mau keluar membantu saudara kita beres-beres didepan!" ucap Raka segera mengambil pakaiannya yang berada didalam koper dan melangkah kakinya masuk kedalam kamar mandi.


Adinda merasa sangat malu saat ini. Ia merutuki kebodohanya karena telah melakukan hal yang konyol dan memalukan. Raka kembali keluar dan segera membuka pintu kamar tanpa menghiraukan Adinda yang sejak tadi melihat pergerakannya. Adinda menghela napasnya ia kemudian membaringkan tubuhnya sambil membuka ponselnya. Ada banyak ucapan selamat dari teman-temanya termasuk dari mantan kekasihnya Rifki.


Rifki:


Selamat menempuh hidup baru Dinda. Aku hanya mengucapkan selamat tanpa doa, karena doaku adalah semoga kau cepat menjanda dan kembali padaku!


Membaca pesan dari Rifki membuat Adinda kesal. Baginya lebih baik ia tidak membaca ucapan selamat dari Rifki. Ingin sekali Adinda memukul wajah tampan Rifki yang menyebalkan itu sekarang juga. Adinda sebenarnya ingin membantu keluarganya tapi ia dilarang dan diminta untuk beristirahat dikamar.


Pukul lima sore Raka menatap istrinya yang saat ini tertidur pulas. Ia menggoyangkan lengan Adinda. "Bangun Dinda!" ucap Raka.


"Nanti Ma limat menit lagi!" ucap Adinda membuat Raka menghela napasnya.


"Dinda sudah sore!" ucap Raka lagi namun Adinda tetap saja kembali tertidur pulas "Adinda!" panggil Raka lagi dengan nada yang cukup tinggi membuat Adinda terduduk.


"Mama gangguin aja Dinda masih ngantuk!" ucap Adinda. Dengan perlahan ia membuka matanya dan kemudian terkejut saat melihat wajah tampan yang mempesona saat ini sedang menatap wajahnya dan kemudia memegang wajahnya. Mata Raka mengamati wajah Adinda membuat Adinda menelan ludahnya saat jarak keduanya terlalu dekat.


****** gue, ini kan suami gue...astaga please jangan marah ya Kakanda.


"Mandi sudah sore!" ucap Raka.


"Iya Kak" ucap Adinda.


"Kamu mirip kuntilanak Dinda" Raka sambil menunjuk wajah Adinda membuat Adinda segera turun dari ranjang dan ia menatap wajahnya dicermin sambil membuka mulutnya karena ia sangat terkejut saat ini.


Astaga malu-maluin aja...pantesan Kak Raka nggak mau peluk gue apa lagi cium gue.


Batin Adinda prihatin.


Eyeliner yang dimata Adinda telah berlepotan sehingga membuat sekitar daerah matanya menjadi hitam dan juga rambut panjang nya yang kusut berantakan terlihat mengerikan. Apalagi lipstik yang ada di bibirnya saat ini telah berlepotan kemana-mana karena tangannya yang tanpa sadar mengelap bibirnya.


"Lain kali kalau mau tidur makeup diwajah kamu dibersihkan dulu!" ucap Raka membuat Adinda menyebikkan bibirnya.


"Jadi kalau Dinda jelek begini, Kakak nggak mau peluk Dinda?" tanya Adinda.


"Mau, walaupun memeluk kamu saat ini seperti memeluk hantu!" ucap Raka.


"Yaudah nggak usah peluk pergi sana!" kesal Adinda.


Raka mengangkat sudut bibirnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Adinda membuat Adinda membuka mulutnya karena terkejut dengan sikap Raka yang sama sekali tidak berniat membujuknya.


Astaga Kak Raka benar-benar pergi, Nggak ada niat mau ngerayu Dinda. Awas saja ya tunggu pembalasan Dinda.


batin Adinda.


tbc...