CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Cintanya Raka


Semua keluarga telah pulang hanya Raka yang menginap di Rumah Sakit. Sebenarnya Ratna ingin menginap disini, tapi Adinda memintanya pulang untuk beristirahat di Rumah. Raka meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan box bayinya ke Kamar ini. Raka membawa sepiring makanan dan duduk disamping Adinda. Ia menyuapkan Adinda membuat Adinda segera membuka mulutnya dan tersenyum melihat perhatian suaminya.


"Enak," ucap Adinda.


"Ini kan makanan di Restauran Favorite kamu," ucap Raka.


"Yang chefnya itu ganteng banget ya Yah?" ucap Adinda membuat Raka terbatuk dan Adinda tersenyum melihat tingkah suaminya yang memendam amarah dan memilih untuk menghela napasnya. Raka mengalihkan pembicaraannya agar rasa cemburunya tidak menyinggung istrinya.


"Makan yang banyak biar kamu bertambah gendut!" ucap Raka membuat Adinda melototkan matanya.


"Kok gitu sih? kalau Dinda gendut, Kakak pasti nanti nggak suka sama Dinda lagi. Apalagi masih ganteng gini, walau udah punya buntut dua!" ucap Adinda menyebikkan bibirnya.


Raka merasa sepertinya ia salah bicara karena mengatakan istrinya gendut, pada hal ia hanya ingin mengalihkan rasa cemburunya agar Adinda tidak membahas ketampanan laki-laki lain yang membuat darahnya mendidih.


"Dinda gendut gini kan karena habis melahirkan," ucap Adinda tidak rela menjadi gendut dan takut Raka tidak akan mencintainya lagi.


"Segendut apapun kamu, Kakak tetap cinta," ucap Raka mencoba merayu Adinda membuat Adinda menyunggingkan senyumannya.


"Nggak malu kalau Kakak ngajakin Dinda ke acara perusahaan dan bentukan Dinda kayak buntalan sapi?" tanya Adinda.


"Kamu cantik kenapa Kakak mesti malu!" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya dengan besar dan Raka segera menyuapkan sesendok nasi kedalam mulut Raka. Adinda mengunyanya sambil tersenyum. Ia menatap wajah Raka dengan tatapan penuh cinta.


"Kakak udah makan?" tanya Adinda.


"Nanti setelah kamu makan!" jelas Raka.


"Kakak besok kalau banyak kerjaan di Kantor Kaka pergi aja Kak! Biar Mama yang jagain Dinda," ucap Adinda.


"Kakak bisa mengerjakan tugas kantor dari sini Dinda, Kakak tidak tenang meninggalkan kamu dan Rayhan disini!" jelas Raka membuat Adinda menganggukkan kepalanya karena suaminya ini tidak akan mau menuriti ucapannya jika menyangkut dirinya. Bahkan semua jadwal Raka yang harusnya mengunjungi beberapa hotel dibatalkan untuk bulan ini dan ia menyerahkah tugasnya itu kepada para asistenya.


"Kakak nggak ngajar lagi?" tanya Adinda.


"Ada asisten untuk dua minggu ini yang akan memantau para mahasiswa," jelas Raka.


"Biar saya saja yang gendong Rayhan Sus!" ucap Raka.


"Silahkan Pak," ucap Suster menyerahkan Rayhan kepada Raka. Raka menggendong Rayhan yang masih menangis dengan hati-hati.


Rayhan terbuai dan tangisnya terhenti saat sentuhan lembut didahi munglinya. Seolah telah mengerti jika saat ini ia sedang digendong sang Ayah. Raka melangkahkn kakinya mendekati Adinda membuat Adida tersenyum senang melihat dua jagoanya saat ini terlihat akur bersama.


"Rayhan kalau gede jangan berantem sama Ayah ya nak!" ucap Adinda.


"Dia paling berantemnya sama kamu Din," ucap Raka membuat Adinda menyebikkan bibirnya.


"Rayhan itu pasti cari istri yang cantik kayak Bundanya," ucap Adinda.


"Pikiran kamu udah jauh banget ya Din, udah mikirin istrinya Rayhan," ucap Raka tak habis pikir dengan ucapan istrinya yang telah memikirkan masa depan putra mereka.


"Hehehe...Memang Dinda nggak cantik?" tanya Adinda.


"Cantik semua wanita kalah sama kecantikan kamu," ucap Raka.


Rayhan kembali terlelap dan Raka meletakan Rayhan disamping Adinda. "Kamu, Rayhan dan Felisa adalah harta yang paling berharga yang Kakak miliki," ucap Raka membuat Adinda tersenyum.


"I love u tuan pencemburu," ucap Adinda membuat Raka tersenyum lembut.


"Cinta Ayah ke Bunda tidak akan pernah berkurang, setiap hari akan selalu bertambah!" ucap Raka.


"Wah tumben romantis? siapa yang ngajarin?" tanya Adinda.


"Papa," ucap Raka Membuat Adinda melototkan kepalanya karena Papanya Pak Bagas yang mengajarkan suaminya untuk berbicara manis seperti ini.


"Pantesan saja Mama langsung mau dinikahin Papa, Papa rayuannya maut hehehe..." kekeh Adinda.