
Tangisan Felisa membuat Adinda segera menggendong Felisa dan membawa Felisa keluar dari kamarnya. Raka dengan wajah memerah malu karena ketahuan sedang bermesraan dengan istrinya, merasa bingung bagaimana menjelaskannya kepada putri sulungnya. Apalagi Felisa terlihat begitu terkejut dengan apa yang lakukan bersama Adinda. Apalagi ia tadi seolah tak ingin melepaskan bibir seksi istrinya itu hingga putri sulungnya mengatakan jika ia memakan bibir bundanya.
"Bunda nggak sakit kan Bun hiks...hiks...?" tanya Felisa sambil terisak dan matanya terlihat takut ketika Raka menatapnya datar. "Ayah jahat makan bibir bunda, gigi Ayah kan tajam ya Bun. Kok Ayah tega sama Bunda hua...hiks... hiks..." Felisa kembali memeluk Adinda dengan erat.
Adinda menahan tawanya dan ia melirik kearah Raka dengan tatapan jahilnya. Suaminya itu terlihat salah tingkah karena lagi-lagi bingung bagaimana membujuk Felisa. "Bunda nggak apa-apa sayang, bibir Bunda nggak berdarahkan?" ucap Adinda. Felisa memegang bibir Adinda yang terlihat merah dan sedikit membengkak.
"Ayah nggak boleh lagi makan bibir Bunda!" teriak Felisa membuat Adinda dan Vian yang sedang medekati mereka sambil mendorong kursi roda Farhan, terkejut mendengarnga dan keduanya tertawa.
"Hahaha... "
"Feli sini sama Ayah!" ucap Raka dengan wajah bertambah merah karena Adinda, Vivian dan Farhan mendengar ucapan Felisa.
"Ya ampun Om masih siang sudah ngajakin begituan," goda Ayunda membuat Raka benar-benar kehilangan muka saat ini.
"Ayah janji dulu sama Feli jangan makan bibir Bunda lagi!" lirih Felisa membuat mereka semua kembali tertawa terbahak-bahak kecuali Raka dan Felisa.
Felisa terlihat bingung dan Raka segera membawa Felisa menuju ruang makan agar segera menghindar dari godaan Farhan, Adinda dan Vivian.
"Makanya Dinda, kalau mau mesra-mersraan sama Om, lihat dulu didalam kamar ada anak apa nggak hahaha... kalian ngegemesin banget sih, sampai ketahuan sama anak," goda Ayunda.
"Udah deh Mbak nggak usah godain Dinda lagi!" ucap Adinda. "Pi, Dinda sudah masak makanan kesuakan Papi," ucap Adinda tersenyum manis kepada Papi mertuanya itu.
"Kek apa rasanya punya menantu secerewet Dinda?" tanya Ayunda.
"Nano-nano rasanya," ucap Farhan membuat mereka kembali tertawa.
"Hahaha...Astaga Kakek tahu aja nano-nano," tawa Ayunda.
"Asam manis tapi perlakuan Dinda sama Kakek itu selalu manis karena dia selalu memperhatikan mertuanya, bahkan Lastri bilang Raka beruntung memiliki istri seperti Adinda," ucap Farhan mengingat ucapan mantan istrinya.
"Kek, kenapa nggak balikan lagi sama nenek Lastri?" tanya Ayunda membuat Adinda melototkan matanya karena ia tidak ingin Farhan terlihat sedih.
"Kami berdua telah bersepakat agar menjaga hati anak-anak. Lastri memiliki ketiga anaknya yang lain sedangkan Kakek memiliki Aditya. Kita tidak mau mengorbankan perasaan anak-anak tapi kita sepakatan untuk selalu ada disaat Raka membutuhkan kita. Tidak harus menikah agar kembali berdamai dengan masalalu. Cukup mengingatkan anak-anak dan cucu-cucu arti dari sebuah keluarga ada suami dan istri yang menjadi kunci utama dalam kebahagiaan anak. Kakek nggak mau kalian gagal dalam. berumah tangga!" ucap Farhan.
Vivian, Adinda dan Ayunda tersenyum mendengar ucapan Farhan. "Ayo kita makan!" ucap Farhan sambil mengelus perutnya membuat Adinda terkekeh.
"Hehehe... iya Pi, udah kelaparan banget kayaknya," ucap Adinda
"Iya laper banget Papi nak," ucap Farhan membuat Adinda segera mengambil alih kursi roda Farhan dan mendorongnya menuju meja makan.
"Ayo makan Vian, Mbak Ayu!" ajak Adinda membuat keduanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu segera mengikuti Adinda menuju ruang makan.