CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Mencintai tunangan?


Adinda berpura-pura tidak mengenal perempuan cantik itu, sebenarnya ingin ia berkata kasar karena tatapan sinis yang ditujukan perempuan itu seolah ia adalah seorang tersangka yang harus dihukum. Adinda melangkahkan kakinya dengan santai melewati perempuan itu, tapi tiba-tiba perempuan itu mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh.


"Astagfirullah ibu dosen kok tega ya sama mahasiswinya!" kesal Adinda segera berdiri dan membersihkan sikunya yang terasa perih. jika Adinda tidak menahan tubuhnya dengan siku tangannya, mungkin wajahnya akan terkena pot bunga. "Kalau wajah Dinda jadi lecet ibu akan kena marah tunangan saya!" ucap Adinda kesal.


Lo nggak tahu kan kalau gue ini sekarang calon istrinya Om Raka hihihi... Lo mau bilang Lo calon istrinya? jangan mimpi ya Bu.


"Apa maksud kamu?" tanya Luna sinis.


Perempuan yang sengaja ingin menyakiti Dinda adalah Luna yang juga merupakan Dosen dikampus ini. Luna sejak beberapa hari yang lalu memang ingin mendekati Adinda namun setiap ia berusaha mendekati Adinda, selalu saja ada Raka disampingnya. Saat ia sedang mengajar tadi, ia melihat Adinda melangkahkan kakinya menuju toilet, Luna segera memberikan tugas kepada mahasiswannya dan ia segera keluar dari kelas untuk menemui Adinda. Ia bermaksud untuk memberikan Adinda pelajaran dan mengancam Adinda agar segera menjauh dari Raka.


"Masa nggak tahu maksud saya, Bu?" tanya Adinda sengaja ingin memancing kemarahan Luna karena saat ini ia juga sangat kesal dengan Luna.


"Kamu jauhi Raka!" ucap Luna menatap Dinda dengan tatapan benci.


"Kagak bisa Bu, Saya cinta mati sama TUNANGAN SAYA" ucap Adinda penuh penekanan. "Mana bisa saya jauh-jauh dari dia, lagian ibu siapanya dia sih?" tanya Adinda menatap Luna dengan sinis.


"Kamu..." teriak Luna sangat kesal melihat Adinda.


"Udah ya Bu, cari aja laki-laki yang masih jomblo diluar sana. Nanti ibu bisa jadi gila Bu kalau mengharapkan tunangan orang lain. Ibu mau saya posting di IG kalau ibu itu PETUNA perebut tunangan orang. Ibu pasti malu Bu!" ucap Adinda mencoba mengancam Luna agar Luna sadar jika ia adalah wanita kuat dan tidak takut dengan ancaman Luna.


Luna mendekati Adinda dan plak...Luna menampar Adinda membuat Adinda tersenyum. Ia kemudian menatap Luna dengan tatapan penuh kemenangan. "Kamu saya peringatkan jangan coba-coba jadi penghalang hubungan saya dengan Raka!" ucap Luna kesal melihat Adinda yang terlihat menantangnya.


Luna menarik rambut panjang Adinda membuat Adinda menringis. ia sengaja tidak ingin melawan saat ini dan membiarkan Luna menyakitinya. Beberapa mahasiswa yang melewati koridor terkejut melihat Luna dan Adinda. Keduanya merekam kejadian ini secara live.


"Aduh sakit Bu, Ibu tega banget sih... saya salah apa sama ibu hiks...hiks... " tangis Adinda pecah membuat Luna segera melepaskan tangannya yang sedang menjambak rambut Adinda karena tangis Adinda memancing para mahasiswa mendekati mereka.


Seorang laki-laki tampan mendekati kerumunan yang telah mengganggu aktivitas kelasnya. Ia melihat salah seorang dosen muda yang cantik memukul seorang perempuan cantik "Kalian berdua ikut saya sekarang juga! dan semuanya bubar!" teriaknya.


Adinda dalam hatinya saat ini ingin tertawa karena merasa menang, apalagi saat ini keadaannya sangat mengenaskan. pengorbanannya tidak sia-sia karena membuat Luna murka padanya hingga menamparnya dan menjambaknya. Adinda yakin ia bisa menyingkirkan mak lampir yang berusaha merebut tunangannya.


Untung saja tadi Adinda sempat melihat Tio Handoyo salah satu cucu pemilik kampus sedang mengajar dikelasnya. Kesempatan ini tidak akan Adinda sia-siakan agar bisa membuat Luna malu karena tingkah Luna yang bar-bar.


Adinda dan Luna mengikuti Tio dari belakang. Bunyi ponsel disaku celana Adinda membuat Adinda segera mengangkatnya. "Waalikumsalam, Dinda menuju ruangan Pak Tio. Dinda dipukul mak lampir!" ucap Adinda membuat Tio tersedak mendengar ucapan Adinda. Tio berusaha menahan tawanya sedangkan Luna menggenggam tangannya menahan emosinya. Ia merasa Adinda terlihat begitu tenang walapun keadaanya saat ini sangat mengenasakan.


Bagi Adinda ini bukan perkelahian karena ia sama sekali tidak membalas Luna yang telah menyakitinya. Bersandiwara dengan merasa takut dan teraniyaya akan membuatnya menang.


Jangan salahkan Dinda ya Mak, kalau Mak jadi pembicaran yang hebo di kampus. Makanya Mak jangan suka ngancem orang...karir Mak lampir sekarang jadi taruhannya. Mak harusnya deketin ini Pak Tio yang belum punya tunangan. Pak Tio ini kan kaya juga seperti calon suami Dinda Mak....


Batin Dinda sambil menatap Luna dengan tatapan sendu yang merasa teraniyaya. Saat ini keduanya telah berada diruangan dosen yang berada di gedung belajar ini. Adinda ingin tahu apa yang dilakukan Luna untuk membela dirinya dan juga bagaimana sikap Raka saat melihat keadaannya saat ini.