CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Kejutan


Hari ini Ayunda, Ghavin dan Guna pulang ke Jakarta. Oma Mawar menangis haru saat mereka berpamitan dan ia berjanji akan datang ke Jakarta jika Elin dan Aditnya menjemputnya. Gia juga berjanji akan segera mengunjungi mereka dan meminta izin kepada Orang tuanya untuk liburan di Jakarta selama satu bulan.


Dalam perjalanan menuju Jakarta Ayunda tertidur pulas disamping Guna. Saat ini mereka telah berada di dalam pesawat. Beberapa hari ini adalah pengalaman yang menyenangkan bagi Ayunda. Apalagi Oma Mawar telah menerimanya sebagai cucu menantu walaupun Oma Mawar tidak menunjukkannya dengan kata-kata penegasan kalau ia telah menjadi bagian dari keluarga Hutama.


Guna mengelus rambut Ayunda dengan lembut saat istrinya itu terlihat terjaga dan ia menarik kepala Ayunda ke bahunya agar kepala Ayunda bisa bersandar dibahunya. "Tidurlah, sebentar lagi kita sampai!" bisik Guna.


Beberapa menit kemudian pesawat tiba di bandara soekarno hatta. Guna mengelus pipi istrinya itu dan kembali berbisik "Kita sudah sampai Ayu" ucap Guna membuat mata Ayunda perlahan-lahan terbuka dan kemudian ia tersenyum melihat Guna. Ayunda melihat kesampingnya dan mengambil Ghavin dari pengasuhnya


"Biar Ayu yang gendong Mbak! Anak Mama masih bobok" ucap Ayunda dan ia meminta kain gedongan kepada pengasuh Ghavin.


Pintu pesawat terbuka Ayunda dan Guna berdiri dan bersiap untuk keluar dari pesawat. Guna bisa saja memakai fasilitas pesawat pribadi milik keluarganya tapi sebagai seorang pembisnis ia merasa rugi jika menggunakan pesawat pribadi hanya bertiga saja. Berbeda dengan Raka yang memang sering menggunakannya jika pergi bersama Adinda. Raka tidak ingin Brian kembali mengganggu Adinda karena Brian merasa suka berbicara dengan istrinya itu. Jadi Raka selalu ingin Adinda pergi mengikutinya kemanapun ia pergi, apalagi jika itu ke luar kota.


Mereka turun dari peswat dan melangkahkan kakinya masuk kedalam Bandara. Guna melihat kedatangan Gemal dan Vivian yang ternyata datang menjemput mereka. "Ghavin..." ucap Vivian mendekati Ayunda dan mengambil Ghavin dari pelukan Ayunda.


"Kalian berdua aja yang jemput kita? Nyonya besar mana?" tanya Ayunda.


"Siapa Mbak Nyonya besar?" tanya Vivian membuat Ayunda terkekeh.


"Adinda siapa lagi" ucap Ayunda. Ghavin terbangun dan ia menatap Vivian dengan tatapan terkejut namun tidak menangis. Saat Vivian tersenyum kepadanya, Ghavin ikut tersenyum.


"Aduh kangen banget sama kamu nak... " ucap Vivian mencium pipi Ghavin membuat Ghavin tertawa. "Dinda lagi dikampus kalau Om Raka lagi dihotel, Mbak" ucap Vivian.


"Tumben si Om nggak ikut ke kampus?" ucap Ayunda.


"Nanti dijemput lagi sama si Om lagian Adinda sekarang punya supir pribadi dan juga bodyguard yang diam-diam mengikutinya" jelas Vivian.


"Kalau kamu Vi, Tumben akur sama dia?" tanya Ayunda mengarahkan tatapannya kearah Gemal yang saat ini sedang berbicara serius kepada Guna.


"Mana ada Mbak, tadinya Vian mau jemput Mbak sama Mami kesini. Tapi Mami bangunin dia dan dia terpaksa pergi kesini sama Vian" ucap Vivian.


"Udah, ayo pulang!" ucap Guna mendekati mereka. Ia membawa koper bersama Gemal yang juga ikut membantu.


Mereka segera masuk kedalam mobil dan menuju Rumah kediaman Bagus dan Ratna. "Vian kamu kapan datang ke ketempat Oma?" tanya Ayunda membuat Guna tersenyum sedangkan Gemal melototkan matanya.


"Nggak kita belum mau kesana!" ucap Gemal.


"Wah kayaknya ada yang khawatir nih sama istrinya?" goda Ayunda.


Gemal mengendarai mobilnya sambil menghela napasnya "Dia mana bisa setangguh kamu Mbak, nanti nangis tiap hari disana" ucap Gemal membuat Vivian memilih diam.


Beberapa menit kemudian mereka sampai dikediaman Bagas dan Ratna. Tapi Ayu terkejut karena bukannya mereka masuk kedalam rumah Bagas dan Ratna tapi mobil mereka masuk kedalam rumah mertuanya.


"Loh kok berhenti dirumah Mami?" tanya Ayunda.


Guna tersenyum melihat keterkejutan Ayunda "Rumah Om Bagas dan Tante Ratna kan lagi dalam masa pembangunan proyeknya Kak Guna jadi untuk sementar kalian semua tinggal disini!" ucap Gemal membuat Ayunda tersenyum dan mencubit lengan Guna.


"Mas ngeselin kok nggak kasih tahu Ayu?" tanya Ayunda.


"Kejutan sayang!" ucap Guna.


Gemal menghentikan mobilnya dan mereka turun dari dalam mobil. Guna merangkul Ayunda dan menatap Rumah orang tua Ayunda yang sedang dibangun dari rumah orang tuanya "Rumahku istanaku sayang, kamu mewarisi rumah orang tuamu dan itu rumah tua yang akan selalu dikunjungi keluarga besar kita yang lain. Ada kak Alfa sekeluarga dan ada Om Raka sekeluarga. Sudah kewajiban Mas untuk membangun rumah kita lebih megah dengan uang hasil kerja keras Mas, Ayu" jelas Guna.


"Tapi Ayu nggak enak Mas" ucap Ayunda.


"Kenapa mesti nggak enak, uang Mas uang kamu sayang!" jelas Guna.


Ayunda melihat orang tuanya dan juga mertuanya menyambut kepulangannya. Elin melangkahkan kakinya mendekati Ayunda dan segera memeluk Ayunda dengan erat. Ia mengucapkan terimakasih karena Ayunda telah membuat Oma Mawar mau berbicara dengannya.


"Makasi banyak nak, jika bukan karena kamu Ibu tidak akan mau berbicara dengan Mami, apalagi bertemu dengan Mami!" Ucap Elin terharu.


"Sama-sama Mi, ini semua sudah kewajiban Ayu Mi, karena disini juga Ayu salah karena tidak bertemu Oma sebelum Ayu dan Mas Guna menikah!" jelas Ayunda.


Ratna tersenyum melihat putrinya pulang membawa kemenangan. Ia mengacungkan jari jempolnya. "Hebat Yu, Mama ikut bahagia" ucap Ratna.


"Pi minggu depan kita jemput Ibu ya Pi!" ucap Elin kepada suaminya.


"Tentu saja Mi, ibu sudah seharusnya tinggal bersama kita. Jangan tinggal terus didesa bersama Harun!" ucap Aditya membuat Elin tersenyum.


"Udah... Kita makan dulu, Gemal udah lapar nih!" ucap Gemal membuat Elin menjewer telinga Gemal.


"Kamu juga belum minta maaf sama Oma, kenapa ngehidari Oma terus. Bahkan kamu nggak pernah menguhubungi Oma?" tanya Elin.


"Sakit Mi, Mami jahat banget sama Gemal. Malam tadi Gemal sibuk banget Mi karena ada banyak pasien kecelakaan beruntun. Gemal baru pulang pukul lima eh... pukul delapan dibangunin buat jemput Kak Guna. Gemal masih capek Mi. Kalau masalah Oma gampang nanti Mi, Gemal cium pipinya beres. Oma pasti nggak bakal marah lagi sama Gemal!" ucap Gemal.


"Udah ayo kita makan nggak usah ribut!" ucap Aditya mengajak semua keluarganya masuk kedalam rumahnya.