
Adinda menghembuskan napasnya berulang kali ia menatap cermin dan mencoba berlatih agar ketika ia bertemu Raka Candraman alias Pak Candra dosennya, ia tidak gugup seperti ketika ia pertama kali bertemu. Adinda ingat bagaimana ketampanan seorang Raka yang membuat para mahasiswi S1 atau pun S2 merasa takjub dan mulai mengidolakan dosen baru itu.
Menjadi mahasiswa lagi setelah bekerja selama dua tahun bukanlah rencananya. awalnya Adinda melihat program beasiswa yang diinformasikan teman satu angkatanya di Grup chat membuatnya iseng mencoba siapa tahu ia bisa lolos dan mendapatkan beasiswa itu. Ternyata setelah ia mendaftar dan ikut tes, ia lulus dan mendapatkan beasiswa full. Bangga? tentu saja, ia begitu bangga dengan dirinya. Tadinya ia berharap tahun ini ia akan menikah dengan Rifki dan berhenti bekerja di Bank karena ingin fokus menjadi seorang istri yang baik. kesepakatan yang telah ia lakukan bersama Rifki agar keduanya memiliki banyak waktu karena sebagai seorang Dokter Rifki cukup sibuk dan dirinya juga sibuk bekerja di Banka yang cukup menyita waktu. harapan dan keinginan tinggal kenangan karena Rifki menduakan cintanya dan membuat Adinda kecewa.
"Hai Pak, gini hmmm... perkenalkan saya Adinda. saya mahasiswi S2 jurusan magister Administrasi publik. Gini pak... saya baru tahu kalau bapak itu ternyata Omnya kakak ipar saya Gundarma Fernan Candrama. kebetulan beliau juga tetangga saya, teman kecil saya dan keluarga bapak juga baik kepada keluarga saya" ucap Ayunda sambil menatap ekspresinya dicermin.
"Kayak kalau gue nggas kaya gitu ngomongnya sama Pak Candra gue bisa diusir dari ruangannya".
Adinda mengehela napasnya ia ingat ketika pertama kali mengikuti kuliah yang diajarkan Raka ia terlambat dan Raka dengan tatapan dinginya mengusirnya. Adinda merasa sangat terkejut karena selama ini ia tidak pernah diperlakukan kasar oleh dosen-dosennya. apalagi kali ini baru pertama kalinya ia terlambat karena motor maticnya pecah ban. mungkin bagi mahasiswa yang terlambat alasan pecah ban adalah alasan yang sering mereka katakan ketika terlambat tapi Adinda tidak berbohong karena itulah yang terjadi padanya.
"Pak Candra serem ekspresinya apalagi kalau lagi marah, kayak nahan boker muka merah yang galak itu ngeselin banget. hmm... walaupun ganteng sih" ucap Adinda menyisir rambut panjangnya.
"Hey Pak Candra gue ini pemenang putri bank se jabotabek tahu. bapak harusnya bersyukur bisa mengajar Adinda di kampus" ucap Adinda super pede namun. "Kalau gue ngomong begitu bisa-bisa gue diusir dan nilai gue bisa D terus beasiswa gue dicabut. TIDAK, JANGAN NARUTO. HINATA NGGAK SANGGUP HIDUP TANPA ABANG UTO"
Raka itu terlampau cerdas dan juga tegas tentu saja ia memiliki ingatan yang luar biasa. apalagi sosok Adinda yang cantik dan juga luar biasa vokal dikelasnya membuat Adinda menjadi sorotan para pria yang ada dikelas.
clek... pintu terbuka dan Adinda masuk kedalam kamar Ayunda sambil memakan peremen lolipopnya. Tadi pagi karena melihat anak kecil di TV sedang mengecup permen lolipop membuat Ayunda merengek dan menelpon Guna agar Guna segera membelikan peremen seperti yang ada di TV. Guna meminta sekretarisnya untuk membelikan permen itu dan segera memberikan permen itu kepada istrinya. "Udah mau jam satu kamu nggak kuliah?" tanya Ayunda.
"Kuliah mbak, astaga ini semua karena bayangin si kampret itu. Mbak tumben siang ada disini biasanya bobok manja dirumah sama Kak Guna" ucap Adinda.
"Mas Guna udah kerja diperusahan Kakek lagi jadi pagi tadi udah ke kantor" jelas Ayunda menyebikkan bibirnya.
"Wah jadi kakak iparku kekayaannya bakal meningkat. kalau gitu nanti kalau aku dapatin no ponsel Omnya honorku ditambah ya mbak, buat beli sepatu Mbak!" ucap Adinda membuar Ayunda kesal.
"Ogah... " teriak Ayunda.
**jangan lupa like ya....
mau di next**?