CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Pelukkan dan tangis


Semua persiapan yang diperintahkan Guna kepada para maid dan karyawannya telah dipersiapakan. Saat ini mereka sedang menunggu jenazah Harun dan Sani tiba. Namun baru saja Guna menerima telepon dari Raka, jika kemungkinan jenazah akan sampai besok pagi karena proses disana cukup memakan waktu dan keadaan Arjun yang terpukul, juga membuat Raka mengambil keputusan untuk berangkat ke Jakarta pada pagi harinya.


Guna melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya dan ia terkejut saat melihat Elin yang mendekatinya dengan air mata yang menetes deras. Kaki Elin terasa sulit berdiri, Elin pernah mengalami kejadian seperti ini dan akhirnya kejadian ini menimpa kedua keponakannya Arjun dan Gia.


"Guna, hiks... hiks... " tangis Elin membuat Adinda dan Ayunda ikut menangis.


Sementara itu Gia menatap Elin dengan tatapan penasaran. Gia sangat takut dengan apa yang terjadi saat ini, apalagi melihat Elin yang sedang menangis. Sejak Elin baru saja sampai dirumahnya ia dikejutkan dengan pemandangan rumahnya yang telah pasangi tenda. Elin menutup matanya saat melihat papan bunga berada didepan rumahnya. Ia segera membalikan tubuhnya dan sengaja tidak ingin melihat papan bunga itu. Elin ingin bertanya secara langsung kepada Guna yang sepertinya berada dirumah mertuanya. Aditya menarik tubuh istrinya dan memeluknya.


Elin segera melepaskan pelukan Aditnya. ia kemudian membalik tubuhnya menatap suaminya lalu ia bisa dengan jelas melihat papan bunga yang bertuliskan ucapan turut berduka dan nama yang tertulis disana, membuat Elin histeris lalu menangis keras. Elin terduduk membuat Bagas berusaha menopang tubuh Elin agar tidak terjatuh dan membawa Elin masuk ke rumah Bagas dan Ratna.


"Apa itu semua benar, nak?" taya Elin nanar dengan air mata yang mengalir deras.


"Iya Mi," ucap Guna.


"Kenapa? hiks... hiks... kenapa ini harus terjadi lagi, kenapa?" teriak Elin.


Gia menggigit bibirnya dan ia berlari menuju teras. Ia melangkahkan kakinya keluar dari pagar diikuti Adinda yang mencoba menyusul Gia. Gia menatap papan nama yang berada di rumah Elin dan Aditya. Hatinya teluka seperti tersayat-sayat, pedih, perih hingga membuat pikirannya berkecamuk saat ini. Gia merasa tidak adil dengan apa yang menimpanya dan matanya terlihat kosong membuat Adinda menarik tubuh Gia dan memeluk Gia dengan erat.


"Mbak ini bohong kan?" tanya Gia membuat Adinda menangis tergugu dan mengeratkan pelukannya.


Adinda tak mampu berkata-berkata, bibirnya keluh. Ia hanya bisa memberikan pelukan hangatnya. Tubuh Gia meluruh dan akhirnya Gia kehilangan kesadarannya membuat Adinda berteriak memanggil Guna. Guna segera melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Elin yang juga jatuh pingsan dipelukan Aditya. Guna segera menggendong Gia dan membawa Gia masuk kedalam rumah.


"Kak bawa ke kamar saja Kak!" pinta Adinda sambil terisak.


Adinda menemani Gia didalam kamarnya sedangkan Ayunda saat ini duduk disebelah Elin yang mulai sasar namun ketika terbangun kembali mrnngis histeris. Aditya berusaha menenangkan Elin. Semua keluarga saat ini sedang berduka. Bagas dan Ratna menjaga Oma Mawar dirumah sakit yanv saat ini kondisinya sangat memperhatikan di ruang ICU.


"Kenapa ini harus terjadi kepada adikku?" ucap Elin membuat Aditya memeluk Elin dengan erat.


"Pi, Harun bahkan belum menikahkan Arjun dan Gia hiks...hiks..." tangis Elin.


"Pi, Mami nggak sanggup Pi. Ini begitu berat bagi Mami!" ucap Elin menempuk dadanya membuat Ayunda ikut menangis dipelukan Guna.


"Kamu bisa sayang kamu kuat, kamu adalah Kakak yang sangat Harun dan Sani sayangi sayang. Kamu nggak sendirian, Papi, anak-anak dan cucu-cucu kita masih ada menemani kamu sayang. Nanti suatu saat kita akan kembali kepada-Nya hanya menunggu waktu kapan kita dipanggil," jelas Aditya.


"Pi... hiks...hiks..." Elin mengeratkan pelukannya. "Mami kuat Pi, Gia miana?" tanya Elin sendu.


"Gia ada didalam kamar Adinda Mi" ucap Guna.


"Pi hiks...hiks... kasihan Gia Pi," tangis Elin kembali pecah mengingat keponakannya yang lucu dan manja itu saat ini telah kehilangan kedua orang tuanya.


"Kamu bisa menguatkannya, sayang. Kamu Maminya!" ucap Aditya membuat Elin menganggukkan kepalanya.


"Guna Papi serahkan masalah pemakaman dan semuanya sama kamu!" ucap Aditya.


"Iya Pi," ucap Guna.


Elin berdiri dan Aditya membantunya memapah Elin menuju kamar Adinda yang terletak dilantai dua. Keduanya masuk dan melihat Gia yang ternyata telah sadar dan menangis terseduh-seduh dipeliukan Adinda. Melihat kedatanhan Elin Gia segera mengamburkan pelukannya.


"Mami, Gia nggak punya Mama dan Papa lagi hiks...hiks...Gia nggak sanggup Mi. Papa kenapan ninggalin Gia hiks... Mama kenapa nggak ajak Gia juga!" tangis Gia.


Elin mengelus kepala Gia dengan lembut. "Papa dan Mama Gia udah tenang disana saya! ikhlas nak, mungkin sulit untuk ikhlas taoi Mami tahu kamu pasti bisa nak!" ucap Elin. Elin menangkup wajah Gia dengan kedua tangannya dan ia mencium dahi Gia dengan erat. "Mami janji akan selalu menjaga Gia dan menyayangi Gia!" ucap Elin.


Adinda hanya bisa menangis saat ini. Bibirnya keluh dan ia tidak bisa berkata apapun untuk saat ini. Adinda mengelus kepala Gia dengan lembut. Ayunda mendekati Gia, Elin dan Adinda. Ia memeluk Elin dan keempatnya saling memeluk sambil menangis.


Menangislah untuk meluapkan rasa yang berkecamuk di dada hingga perasaan sedih itu sedikit menguap. Kita tahu rasa kehilangan pasti akan terjadi kepada setiap manusia dan kita yang ditinggalkan akan mengingat dan mengenangnya. Namun setiap jalan kehidupan memiliki arti dan makna tersendiri. Tidak semuanya indah dan tidak semuanya menyedihkan tapi satu hal yang harus diingat, jika itu semua bisa kita hadapi dengan ikhlas, kuat dan berusaha sebaik mungkin. Percayalah kebahagian itu akan datang.