
Adinda memang tidak pernah datang ke perkumpulan orang tua murid disekolah putrinya ketika ia sedang mengandung Rayhan dan sampai sekarang. Raka selalu menyempatkan diri untuk datang ke Sekolah Felisa, namun hanya mengantar dan menjemput Felisa atau menemui guru wali kelas Felisa. Adinda selama ini selalu menitipkan uang arisan para perkumpulan orang tua murid kepada wali kelas Felisa. Oleh karena itu, ia tidak mengenal para ibu-ibu wali murid lainnya.
"Bun, ikut Ayah aja ke Kantor dan ke Kampus!" ajak Raka.
"Nggak Yah kali ini Bunda harus datang ke acara perkumpulan ibu-ibu wali murid kelas Felisa Yah, iya kan nak?" ucap Adinda sambil menguncir rambut Felisa.
"Bunda nggak usah datang nggak apa-apa!" ucap Felisa karena ia tidak ingin merepotkan Adinda.
Felisa sangat bersyukur telah diadopsi Raka dan Adinda. Kata-kata anak adopsi telah sering ia dengar apalagi bisik-bisik beberapa orang para orang tua wali murid saat menatapnya, membuat Felisa segera menghindar jika salah satu dari mereka ingin berbicara kepadanya.
"Mama kamu kok nggak pernah datang?"
"Kamu anak adopsi ya?"
"Kamu beneran anak angkat Raka Candrama?"
"Pantesan Mamanya nggak pernah ikutan acara kita, anak ini mungkin nggak terlalu penting bagi mereka, maklum jeng anak pungut,"
Felisa tidak pernah berpikir jika Raka dan Adinda tidak menyayanginya karena kenyataannya Raka dan Adinda selalu menyempatkan diri menghabiskan waktu bersamanya. Apalagi di hari minggu dan sabtu, Adinda dan Raka selalu mengajaknya bermain dan pergi mengunjungi Farhan atau ke tempat wisata seperti kebun binatang.
Adinda memakaikan bedak tabur di wajah Felisa dan karena gemas Adinda segera mencium pipi Felisa. "Kemarin Bunda nggak pernah datang ke acara arisan para orang tua wali murid, karena Bunda hamil dan saat Rayhan lahir, Bunda sibuk ngurusin Rayhan. Sekarang adek Reyhan kan nggak rewel dan bisa ditinggal, jadi Bunda bisa datang ke acara Felisa di Sekolah!" ucap Adinda membuat Felisa menganggukkan kepalanya. "Felisa sarapan dibawah ya nak!" ucap Adinda meminta Felisa menuju ruang makan.
"Iya Ma," ucap Felisa melanghkahkan kakinya dengan cepat membuat Adinda tersenyum.
Saat ini tinggal Raka dan Adinda yang berada didalam kamar. Adinda mengambil dasi dan memasangkannya ke leher Raka. Raka yang tinggi membungkukkan tubuhnya agar istrinya itu tidak perlu menjijitkan tubuhnya. Adinda tersenyum saat dasi yang ia pasang dileher Raka terlihat rapi.
"Kak tanyain dong sama bagian Administrasi Falkultas tentang jadwal wisuda Dinda Kak!" pinta Adinda.
"Udah Kakak daftarin Dinda," ucap Raka.
Raka menaikan sebelah alisnya "Mahasiswi teman tidur, teman makan, mahasiswi yang lahirin anak Pak Dosenya. Mahasiswi yang seperti itu memang harus wajib diurusin, nanti kalau nggak diurusin kalau malam ngambek kan gawat!" ucap Raka membuat Adinda tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... bisa aja Pak Dosenku ini!" mendengar tawa Adinda membuat Raka tersenyum.
"Tapi nggak gratis ya Din, ada pelayaan ekstranya dari kamu!" ucap Raka.
"Beres sayangku, cintaku, kasihku, suamiku, dosenku dan Ceoku," ucap Adinda mengecup pipi Raka dengan cepat membuat Raka kembali tersenyum karena perlakuan manis dari istrinya.
"Nanti kamu jangan berantem ya Din di Sekolah!" ucap Raka.
"Emang Dinda jagoan apa pakai berantem segala Dinda bukan Kakak yang nantangin mantan Dinda buat adu jotos," ucap Adinda mengingat masalalu membuat Raka mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu ingat ya Din, kamu jangan pernah menghubungi Rifki lagi!" pinta Raka.
"Iya sayangku," ucap Adinda.
Adinda terkekeh, Raka adalah laki-laki yang sangat pemcemburu melebihi dari Guna. Contohnya saja saat Adinda mulai berdandan saat pergi ke pesta Raka pasti akan protes jika pakaian atau makeup yang ia pakai membuatnya terlihat cantik. Alasan Raka yang Membuatnya hanya bisa tersenyum bahagia melihat sikap cemburu suaminya itu.
"Kakak lebih suka kamu terlihat cantik hanya di depan Kakak saja Dinda. Kakak tidak suka berbagi kecantikan bidadari Kakak kepada orang lain"
Adinda tentu saja tidak bisa marah mendengar ucapan manis Raka yang seperti itu. Ia tersenyum dan langsung menghamburkan pelukannya karena gemas dengan suaminya yang dulu terlihat angkuh dan sombong tapi sekarang menjadi sangat penyayang.
"Nanti arisannya jam berapa? biar Kakak yang jemput kamu dan Felisa!" ucap Raka.
"Oke bos, suatu kehormatan bagiku dijemput Paksu yang super sibuk ini!" ucap Adinda membuat Raka mengelus kepala Adinda dengan lembut.