
Hari ini Ayunda meminta Guna untuk mengantarnya melihat putra mereka. Guna mendorong kursi roda yang diduduki Ayunda dan menuju ruangan dimana putra mereka dirawat. Mereka memasuki ruangan, dan mendekati bayi yang bertulisakan nama Nyonya Ayunda di inkubatornya. Ayunda merasa haru ketika melihat putra mereka yang tampan dan sangat mirip dengan suaminya itu bergerak. Ayunda memperhatikan bibir Ghavin yang mungil dan hanya bibir mungil itu yang mirip dengan dirinya.
"Ghavin" panggil Ayunda, ia meneteskan air matanya saat melihat bayinya yang mungil itu terlihat begitu kecil dan imut.
Ghavin memang telah diberikan asi yang telah diperah. Walau ASI milik Ayunda masih sedikit tapi Dokter menyarankan untuk tetap diberikan ASI karena ASI mengandung faktor pertumbuhan dan faktor imun yang tidak didapat disusu formula. Ayunda telah bertekat akan memberikan asi esklusif sampai Ghavin berumur enam bulan dan sudah bisa diberikan makanan pendamping.
"Mas dia mirip kamu ya Mas!" ucap Ayunda.
"Tapi bibirnya mirip kamu ya Yu!" ucap Guna mengagumi bayi kecil mungil buah hatinya bersama istrinya yang sangat ia cintai.
Sementara itu Adinda dan Raka yang mencari Guna dan Ayunda. Mereka segera menyusul Ayunda dan Raka di ruang perawatan Ghavin saat mengetahui keberadaan keduanya dari suster. Adinda dan Raka melihat Guna dan Ayunda yang saat ini memandang anaknya dari dalam inkubator dengan haru. Adinda dan Raka tidak diperbolehkan masuk dan keduanya hanya bisa melihat mereka dari kaca jendela.
"Om kalau Dinda mau melahirkan nanti pasti sakit banget ya Om, jadi Om tugasnya ngapain?" tanya Adinda membuat Raka mengerutkan dahinya.
"Ngelihatin kamu yang kesakitan!" ucap Raka membuat Adinda menghela napasnya dan kemudian memukul lengan Raka karena kesal.
"Masa Om hanya ngeliatin Dinda?" tanya Adinda kesal.
"Terus Om harus ngapain? harus pura-pura sakit kayak kamu?" Ucap Raka membuat Adinda rasanya ingin sekali memukul kepala Raka, jika itu tidak dosa.
"Om, masa nggak ngerti maksud Dinda sih Om!" ucap Adinda menatap Raka dengan miris.
"Kamu jelaskan dong Din biar nanti kalau kamu hamil Om ada persiapan kalau kamu kesakitan" ucap Raka.
"Om ****!" Adinda mencubit lengan Raka membuat Raka terkekeh. "Masa Om nggak ngerti maksud Dinda?" ucapan Adinda membuat Raka tersenyum.
"Saya nggak akan mungkin membiarkan kamu menghadapi rasa sakitmu sendiri Dinda. Saya pasti akan memeluk kamu atau bahkan... " Raka mengelus perut Adinda seolah perut Adinda sedang hamil "Mengelus perut kamu dan bilang..." ucapan Raka terhenti.
Raka tersenyum sinis melihat Adinda sepertinya sangat penasaran dengan apa yang ingin ia ucapkan. "Dan bilang, makanya kalau makan itu jangan kebanyakan buncit kan perutnya mana belum hamil sudah buncit kayak gini!" ejek Raka membuat Adinda melototkan matanya.
"Om jahat banget sih...Dinda nanyanya serius kok dibecandain?" ucap Adinda ingin sekali rasanya ia marah tapi apa daya ia tidak akan bisa menang dari Raka.
"Perut Dinda nggak buncit!" kesal Adinda.
Raka menepuk-nepuk dengan pelan kepala Adinda "Kamu itu pertanyaannya itu yang berbobot Dinda, udah anak S2 pertanyaanya nggak jelas gitu. Gimana kamu penelitian tesis nanti!" ucap Raka.
"Kok jadi bahas tesis, Om? Om ngeselin banget Dinda kan bahas masalah perumahtanggaan kita nanti Om, jadi sepertinya nanti Dinda bakalan jadi istri kupersu" ucap Adinda menatap Raka dengan sendu.
"Kupersu?" tanya Raka bingung dengan pembendaharaan kata-kata Dinda yang aneh.
"Kurang perhatian suami! Dinda pasti jadi seperti itu melihat sikap Om yang nggak peka sama Dinda!" jelas Adinda membuat Raka tersenyum.
"Saya sangat perhatian sama kamu Dinda, buktinya saya nggak memperbolehkan kamu pergi sesuka hati kamu apalagi pergi bersama laki-laki lain!" ucap Raka.
"Itu namanya cemburan Om!" ucap Dinda.
Kok gue jadi pengen nyubit pipi si Om. Tapi gue belum berani hihihi...
"Cemburu itu tanda sayang saya sama kamu Dinda" ucap Raka membuat jantung Dinda berdetak dengan kencang.
Curang kok hanya gue sih yang bucin sama si Om...