CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Butuh bantuan


Tatapan mata Elysa menajam ia sangat benci dengan sikap Adinda yang tidak tunduk padanya. Apalagi Adinda sama seperti Felisa yang mudah membuat orang tertarik padanya. Kehadiran Felisa yang memang terlihat imut dan cantik membuat anaknya terlihat tidak diperhatikan oleh guru bahkan teman-temanya. Nisa selalu mengatakan jika Felisa memiliki lebih banyak teman dari pada dirinya dan Nisa kesal karena Felisa yang sering dibela guru-gurunya jika mereka bertengkar.


"Kalau anda tidak siap memiliki anak angkat sebaiknya anda tidak memungutnya!" ucap Elysa.


"Saya sangat siap dan anak saya sangat penurut dan sopan. Anda bisa menanyakan kepada guru ataupun teman-temannya kenapa anak saya lebih banyak teman dari pada anak anda. Harusnya anda tidak usah mengkritik saya tapi anda berkaca dengan diri anda sendiri dan berhenti mengatakan jika anak saya anak pungut. Dia anak saya!" ucap Adinda dingin.


Tentu saja ucapan Adinda membuat Elysa sangat marah. "Kau hanya seorang cinderlla yang beruntung memiliki suami cukup kaya hingga berani memasukkan anak panti itu di Sekolah ini!" ucap Elysa.


"Cukup! jangan pernah kau mengatakan kata-kata yang menyakiti putriku!" ucap Adinda dengan tatapan penuh amarah karena Elysa kembali mengatakan Felisa anak panti. "Bu tolong bawa putri saya bermain diatas!" ucap Adinda kepada seorang Guru.


"Tapi Bu," Guru itu menolak namun Adinda menatap Guru itu dengan tatapan memohon.


"Putri saya tidak boleh melihat dan mendengar pertengkaran ini Bu!" ucap Adinda karena ia tidak ingin Felisa melihat dan mendengar keributan ini.


Guru itu menatap Guru yang lainnya dengan tatapam ragu, namun akhirnya ia segera membawa Felisa dan beberapa anak yang lainnya bermain dilantai dua. "Anda pikir saya takut dengan anda?" tanya Adinda dingin.


"Bagus kalau kau tidak takut. Kau pasti telah menjebak laki-laki kaya dan itu terlihat dari penampilanmu yang kampungan dan murahan!" ucap Elysa.


"Bukannya sebaliknya, Kau yang pastinya hanya seorang wanita materialitis. Kau cantik dengan plastik siapapun bisa cantik jika memiliki uang dan mengoperasinya di klinik kecantikan." ucap Elysa.


"Dasar ******!" teriak Elysa mendekati Adinda lalu menarik rambut Adinda.


"Kau yang ******, kau harusnya takut padaku karena hidung mahalmu itu bisa patah oleh tanganku!" teriak Adinda yang juga membalas Elysa dengan menarik rambut Elysa dengan kasar.


"Jeng Adinda, Jeng Elysa cukup!" ucap Monica membuat Adinda menjauh namun Eysa segera menampar wajah Adinda dengan keras dan kemudian mendorong Adinda membuat Adinda segera berdiri dan ingin membalas tamparan Elysa. Adinda mengangkat tangannya, namun sebuah tangan menghentikannya.


Adinda menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam dan ia menghela napasnya karena dunia terasa begitu sempit hingga ia harus kembali bertemu dengan laki-laki kurang ajar ini. Laki-laki itu terkejut melihat Adinda dan ia tidak menyangka jika perempuan yang sedang berkelahi dengan istrinya adalah wanita yang pernah ia cintai. Adinda ingat bagaimana ia dulu selalu menghindar dari laki-laki ini. Bahkan Rifki manta tunangannya itu pernah menghajar laki-laki kurang ajar ini karena berani mendekatinya.


Laki-laki itu bernama Indra Kusuma yang merupakan atasan Adinda saat dulu Adinda bekerja di salah satu Bank Swasta. Indra beberapa kali mencoba mendekati Adinda dan bahkan dengan cara-cara tidak terduga. Saat masih bekerja di Bank, Adinda sering sekali mendapatkan coklat diatas mejanya dan juga pesan diponselnya yang mengajak Adinda makan malam bersama. Tentu saja Adinda menolak ajakan Indra, karena Indra adalah pria beristri.


Dulu Rifki berkelahi dengan Indra karena Indra memaksa Adinda untuk masuk kedalam mobilnya. Saat itu hujan sangat deras dan Adinda sedang menunggu Rifki datang menjemputnya. Indra ingin mengantar Adinda pulang, namun Adinda menolak. Indra yang kesal dengan penolakan Adinda akhirnya memaksa Adinda untuk masuk kedalam mobilnya dengan mengangkat tubuh Adinda. Untung saja saat itu Rifki datang dan melihat kejadian itu, Rifki memukul Indra dan perkelahian pun terjadi.


"Pi, dia itu kasar dan menyebalkan. Mami nggak terima Pi dia mengatakan kata-kata kasar yang menghina Mami, Pi!" ucap Elysa.


Adinda tersenyum sinis karena saat ini Indra sedang menatapnya dengan tatapan dalam. Indra pernah mengatakan padanya jika istrinya tidak mencintainya dan tidak menghormatinya hingga ia merasa muak. "Saya harap Pak Indra bisa mengajarkan istri Bapak bersikap sopan kepada orang lain!" ucap Adinda dingin.


Indra mengeraskan rahangnya "Ternyata kau tidak pernah berubah Adinda. Kau masih tetap angkuh dan sombong!" ucap Indra karena masih kesal dengan Adinda yang menolak cintanya.


"Kalian pasangan serasi dan sifat kalian pun sama tapi sayang..."


Kau bukanlah pria setia Pak Indra.


"Ibu Wahyuni saya harap ibu bisa bersikap adil karena perempuan bar-bar ini berani menyakiti hati istri saya!" ucap Indra menunjuk wajah Adinda.


Kak Raka lama banget kesini masa Dinda harus melawan mereka sendiri sih... Dinda butuh bantuan.


batin Adinda.