CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Tatapanmu


Adinda merasa film yang ditontonnya saat ini sangatlah bagus. Apalagi matanya dimanjakan dengan set yang indah dan juga para aktor dan artis yang tampan. Sebenarnya sejak tadi ia masih memikirkan kemarahan Raka padanya, ia bingung kenapa Raka bisa semarah itu padanya hanya karena ia berbicara pada Adam. Ia juga tidak mengetahui jika Adam adalah adik tiri Raka. Mengingat itu semua membuatnya harus mencari cara agar Raka tidak marah lagi padanya, meski itu pun bukan salahnya.


Lampu dibioskop menyala menandakan film yang mereka tonton telah berakhir. "Bagus juga ya Din filmnya" ucap Bunga.


"Iya bagus gue suka banget sama penggambaran tempatnya yang indah. Pasti biyaya produksinya ini gede" ucap Adinda.


"Din, lo jadi kan ikut makan malam sama kita?" tanya Indah.


Adinda melihat jam ditangannya "Kayaknya lain kali gue ikut makan malam sama kalian, gue belum izin sama orang tua gue dan tunangan gue!" jujur Adinda.


Mulai dari sekarang ia harus membiasakan diri untuk meminta izin jika ingin pergi bersama teman-temannya apalagi jika pulangnya malam. Walau bagaimanapun sebentar lagi ia akan menjadi istri dari Raka Candrama dan ia tidak bisa lagi berbuat sesuka hatinya. Karena setelah menikah nanti ia akan menjadi tanggung jawab Raka dan semua hal yang berkaitan dengan dirinya, tentang apa yang ia lakukan akan disangkutpautkan dengan nama baik suaminya.


"Yuk, kita keluar!" ajak Bunga karena penonton yang lain telah keluar dan mereka tidak perlu berdesakan dengan penonton lain di pintu keluar teater.


"Temenin gue ke toilet yuk, gue kebelet pipis nih!" ucap Adinda.


"Ayo kita ke toilet dulu!" ucap Bunga.


"Iya sebenarnya dari tadi gue juga nahan pipis, tapi malas keluar tanggung tunggu filmnya sudah mau selesai!" ucap Indah.


Ketiganya segera melangkahkan kakinya menuju toilet. Adinda tidak menyadari ada sosok laki-laki yang sejak tadi mengawasinya dan ingin mendekatinya. Laki-laki pencemburu yang bernama Raka Candrama. Langkahnya terhernti didepan toilet perempuan karena ia tidak mungkin menerobos masuk kedalam dan menarik tangan Adinda agar mengikutinya.


Beberapa perempuan berbisik melihat ketampanan Raka. Raka terlihat lebih muda tanpa kemeja dan celana bahannya atau jas yang sering ia pakai. Raka saat ini memakai kaos, celana pendek dan sandal dikakinya. Gaya santai Raka terlihat seperti laki-laki berumur 25 tahun dan bukan seperti umurnya yang telah menyetuh angka tiga didepannya. Raka kemudian memilih duduk dan membuka ponselnya sambil menunggu Adinda keluar dari toilet.


Bisik-bisik dari kekaguman para perempuan disebelahnya yang mengatakan jika ia tampan, tidak membuat Raka melirik kearah mereka. Raka sibuk dengan pemikirannya apakah Adinda akan mudah membujuknnya untuk pulang bersamanya, apa ia harus seperti abg yang ada didepannya yang terlihat sedang membujuk kekasihnya agar jangan marah dan memohon maaf dengan tatapan penuh penyesalan.


Kalau merayu Adinda seperti itu saya akan terlihat bodoh.


Raka kembali melihat para abg lainnya yang sedang bergandengan tangan sesekali si laki-laki mengelus pipi si perempuan tanpa malu dan didepan umum seperti ini, membuat Raka berdecih tak suka.


Apa tidak ada tempat lain? dimobil misalnya atau didepan rumah saat mengantar wanitanya pulang.


Raka membayangkan jika ia akan segera di pukul Bagas jika ia mencium Adinda didepan rumah mereka. Perbuatan konyol yang membuatnya tersenyum tanpa sadar. Walau mungkin menyakitkan dipukul calon mertua, asalkan ia segera diizinkan menikah dengan Adinda secepatnya bagi Raka itu tidak akan menjadi masalah. Luka fisik bisa sembuh, tapi luka hati kehilangan Adinda tidak akan bisa sembuh.


Raka mendengar suara Adinda bersama kedua teman-temannya dan ia mencari sosok laki-laki yang mungkin saja ikut bersama Adinda tadi, namun tidak ia temukan. Membuat senyumnya manisnya terbit, Raka berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati mereka lalu menghadang jalan ketiganya.


Bunga dan Indah terkejut melihat Ceo tampan mereka saat ini berdiri dihadapan mereka. "Sudah nontonya?" tanya Raka membuat Adinda terkejut karena Raka berbicara seolah-olah keduanya tidak memliki masalah sebelumnya.


Kepala Om nggak kena pentok kan? bukannya tadi siang ngambek sama gue? kok tiba-tiba datang jemput gue. Ini pasti gara-gara Mbak Ayu, pantas saja nanyain gue dimana.


"Pak..." panggil Indah dan Bunga ramah, keduanya tidak menyangka jika Raka terlihat lebiha tanpan dengan pakaian santai seperti ini. Keduanya juga mengamati Raka yang sejak tadi menatap Adinda.


"Ini bukan kantor kalian tidak perlu bersikap seolah-olah saya akan memarahi kalian karena tertangkap basah nonton disaat jam kantor!" ucap Raka membuat keduanya menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Saya boleh membawa calon istri saya?" tanya Raka sambil mengangkat kedua alisnya.


"Boleh Pak silahkan hehehe... " kekek Indah. Keduanya mendorong tubuh Adinda dengan pelan.


"Din, kita duluan ya! nanti kita teleponan aja!" jelas Bunga. "Permisi Pak kita duluan ya!" ucap Bunga.


"Iiya...Pak kita duluan!" ucap Indah gugup. Keduanya melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Raka dan Adinda yang saat ini saling menantap.


tbc...