CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Berdamai


Setelah puas bermain mereka semua akhirnya pulang, Ayunda merasa ini seperti kencan yang tidak akan pernah ia lupakan. Kuda mereka juga telah diberikan makanan dan minuman oleh Pak Ujang sehingga kondisi kuda mereka kembali prima. Mereka pulang sekitar pukul tiga siang.


Saat ini Oma Mawar berdiri didepan teras sambil menatap mereka dengan garang. Guna membantu Ayunda untuk turun dari kuda dan menyerahkan kudanya kepada pengurus kuda. "Bagus ya kalian, Oma sudah dikurung dan kalian pergi gitu aja tanpa izin Oma!" kesal Oma Mawar.


"Kamu Gia, apa-apan naik kuda sama Kalandra kamu dan Kalandra pacaran? apa kata orang-orang didesa ini tentang kalian?" tanya Oma Mawar sinis.


"Kalau di kota sudah biasa Oma goncengan, naik motor aja status temenan cewek sama cowok biasa aja tuh. Kalau main kuda-kudaan baru Oma Khawatir" ucap Gia.


"Bocah edan" ucap Oma Mawar memukul Gia dengan tongkatnya membuat Arjun menghela napasnya..


"Hahaha ampun Oma... ampun. jangan marah nanti cepat tua!" teriak Gia tertawa terbahak-bahak karena Oma memukulnya. Pukulan Omanya tidak sekeras pukulan Mamanya jika ia melanggar perintah sang Mama.


"Oma bisa nggak satu hari saja nggak buat Arjun pusing?" tanya Arjun.


"Kamu itu sama kayak bapakmu, semua apa yang menjadi nasehat dari Oma selalu kalian tolak. Begini cara kamu mendidik Gia? besok-besok ini anak bisa hamil duluan!" teriak Oma Mawar.


"Kalandra kamu itu sudah dewasa jadi jangan deketin cucu saya!" ucap Oma Mawar.


"Cucu Oma yang suka sama saya, saya bisa apa Oma?" canda Kalandra namun tidak dengan Oma Mawar yang sangat kesal saat ini dan menganggap ucapan Kalandra itu benar.


Ayunda merasa terselamatkan karena Oma saat ini sedang kesal dengan Gia dan Kalandra. "Ayo kita ke kamar!" bisik Guna memegang tangan Ayunda dan segera pergi ke kamar mereka. Ia tidak ingin ikut campur masalah mereka apalagi nanti Oma Mawar akan mengatakan sesuatu yang kasar keada istrinya. Guna ingin menjaga perasaan Ayunda saat ini.


Ayunda dan Guna segera mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu Ayunda mengambil Ghavin dari pengasuhnya dan membawanya kekamar mereka. Guna sedang menghubungi Raka tersenyum saat melihat kedatangan Ghavin dan Ayunda. Ayunda membiarkan Guna sibuk membicarakan bisnis dan setelah Guna selesai membicarakan bisnis mereka, Guna mendekati Ayunda dan Ghavin. Ia memeluk Ayunda yang tebaring sambil menyusui Ghavin diatas ranjang.


"Besok kita pulang, malam ini kita bicara sama Oma. Sudah cukup kamu menerima ucapan kasar Oma!" ucap Guna mengelus rambut Ayunda dengan lembut.


"Tapi kita belum membujuk Oma untuk bertemu Mami Mas!" ucap Ayunda.


"Mas yang akan membujuknya, tapi jika Oma masih bersih keras marah kepada kita, kita bisa apa? mungkin hanya waktu yang bisa membuatnya luluh. Perkerjaan saya sudah menunggu Ayu, saya tidak mau merepotkan Om Raka dan juga Gemal serta Vivian" ucap Guna.


"Iya Mas, terserah Mas aja. Ayu ikut keputusan Mas Guna" ucap Ayunda.


"Oke sayang" ucap Guna memejamkan matanya sambil memeluk istrinya.


***


Pukul tujuh malam mereka semua makan malam bersama namun Ayunda tidak melihat keberadaan Omanya. Ia penasaran kemana sang Oma saat ini. "Gi, Oma mana?" tanya Ayunda.


"Oma lagi marahan sama kita jadi dia sedang ngambek dikamar. Maunya dibujukin seperti biasa tapi Gia lagi malas karena besok Oma gitu lagi marah-marah" ucap Gia.


Ayunda menghela napasnya dan menatap suaminya yang sedang mengunyah makananya. Sedangkan Kalandra dan Arjun sibuk membicarakan bisnis mereka. "Mas Ayu ke kamar Oma ya Mas. Bujukin Oma makan kasihan kalau Oma tidak makan Mas!" ucap Ayunda.


"Kalau kamu mau ngebujuk Oma, Mas izinin tapi, kamu jangan sampai nangis!" ucap Guna memperingatkan istrinya betapa kejam mukut Oma yang bisa saja membuat istrinya itu menangis.


"Iya Mas" ucap Ayunda segera berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar Oma yang terletak di ujung rumah ini.


Ayunda saat ini telah berdiri didepan pintu kamar Oma Mawar, ia mengetuk pintunya dengan pelan. "Assalamualikum Oma" panggil Ayunda. Ayu meronggoh ponselnya dikantung celannya dan ia berencana ingin menghubungi Mami Elin nanti jika ia bisa berbicara dengan Oma Mawar dengan lancar dan damai.


"Oma" panggil Ayunda.


"Masuk!" ucap Oma Mawar membuat Ayunda melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Oma Mawar. Ayunda tersenyum melihat Oma Mawar sedang duduk dikursi goyang sambil memainkan ponselnya. "Mau apa kau kemari?" tanya Oma mawar tanpa menatap Ayunda.


Ayunda menujukkan senyum ramahnya "Ayu minta maaf Oma jika Ayu mengganggu Oma!" ucap Ayunda membuat Oma Mawar mengalihkan pandangannya menatap Oma Mawar.


"Sudah pasti itu, kamu memang harus minta maaf kepada saya!" ucap Oma Mawar namun Ayunda mencoba memaklumi sikap Oma Mawar padanya dan ia memilih untuk berbicara lembut.


"Pasti Oma akan segera memaafkan cucu menantunya ini!" ucap Ayunda membuat Oma Mawar menatap Ayunda dengan sinis.


"Ayu sayang sama Oma walaupun Oma mungkin membenci Ayu. Ayu hanya ingin menyampaikan permintaan maaf Ayu karena Ayu bukan cucu menantu idaman Oma. Tapi Ayu sangat mencintai Mas Guna Oma. Harta kekayaan yang dimiliki keluarga Mas Guna bukan tolak ukur Ayu saat setuju menikah dengan Mas Guna" ucap Ayunda membuat Oma mawar tertegun mendengar ketulusan dari ucapan Oma Mawar.


"Saya mencintai Mas Guna sejak dulu Oma. kekayaan Mas Guna hanya bonus bagi saya Oma. Yang saya suka dari Mas Guna bagaimana cara Mas Guna mencintai saya!" ucap Ayunda.


"Apa kamu benar-benar mencintai Guna?" tanya Oma Mawar.


"Iya Oma sangat" ucap Ayunda sambil. menahan rasa harunya mengingat perlakuan Guna yang sangat mencintainya. Sebagai seorang perempuan Ayunda merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Guna.


Oma Mawar menghela napasnya "Mungkin Ayu memang tidak sehebat perempuan yang ingin dijodohkan Oma dengan Mas Guna dulu. Tapi cintanya Ayu kepada Mas Guna sangat besar dibandingkan cintanya perempuan yang ingin Oma jodohkan kepada Mas Guna" ucap Ayunda memegang tangan Oma Mawar dan kemudian berlutut lalu meletkan tangan Oma Mawar keatas kepalanya. "Oma, Ayu mohon sama Oma terima telepon Mami Elin. Mami sering menangis kalau ingat Oma. Mami kangen sama Oma!" ucap Ayunda membuat mata tua itu akhirnya luluh dan meneteskan air matanya.


"Apa dia tidak berniat menjemput Oma ke Jakarta Ayu?" tanya Oma.


"Mami sangat ini bertemu Oma, dia pasti akan menjemput Oma!" ucap Ayunda dan mengangkat ponselnya lalu menujukan wajah Elin yang menangis melihat wajah ibunya yang telah merawatnya selama ini. Ayunda sejak tadi sengaja menghubungi Elin dengan video call agar Elin mendengar suara Ibunya.


"Ibu" lirih Elin. "Maafkan Elin ya Bu, pernikahan Guna dan Gemal atas permintaan mereka sendiri Bu. Bukan karena keinginan Elin semata Bu" ucap Elin.


Isak tangis terdengar membuat Oma Mawar menangis terseduh-seduh melihat wajah putrinya "Jemput ibu, kalau mau ibu ke Jakarta sama kamu. Tapi kamu dan Adit yang jemput!" ucap Oma Mawar manja.


"Iya Bu, pasti kita akan jemput Ibu!" ucap Elin tersenyum.


Ayunda merasa sangat senang akhirnya Oma Mawar dan Mami Elin berdamai. Oma mawar saat ini berbicara dengan Mami Elin sambil mengelus kepala Ayunda dengan lembut.