
Setelah menemani Guna makan siang, Ayunda tidak diperbolehkan Guna pulang. Ia meminta Ayunda untuk menemaninya di ruangannya. Saat ini Ayunda sedang menatap suaminya yang terlihat sibuk membaca berkas-berkas yang ada di hadapannya. Sesekali Guna akan melirik istrinya itu yang sedang duduk di sofa. ketukan pintu membuat Guna menatap kearah pintu.
"Masuk" ucap Guna.
Sekretaris Guna membuka pintu dan masuk lalu segera menutup pintu. "Ada tamu buat bapak, namanya Ibu Lalisa" ucapnya.
"Persilahkan dia masuk, tunggu... lain kali kalau ada tamu yang datang langsung tanpa pemberitahuan segera konfirmasi dan kalah saya sedang bersama istri saya, saya tidak ingin diganggu!" ucap Guna.
"Iya Pak, saya permisi" ucapnya tersenyum melihat Ayunda yang saat ini tersenyum padanya. Sekretaris membuka pintu dan tampaklah seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan Guna.
"Guna" ucapnya terlihat ceria menatap Guna membuat Guna menaikan sebelah alisnya dan Ayunda menatap perempuan itu dengan waspada. "Kamu apa kabar?" tanyanya seolah sangat akrab dengan Guna. Ia mendekati Guna dan membuat Guna menatapnya dingin.
"Silahkan duduk!" pinta Guna.
Ayunda menatap gerak-gerik perempuan itu. Ia tahu perempuan itu menyadari kehadirannya, namun sepertinya ia berpura-pura tidak tahu jika ada dirinya disini. Suaminya memang tampan dan kaya atau bisa dibilang nyaris sempurna yang pastinya akan menjadi rebutan para wanita kalangan atas.
"Ya ampun Gun, udah hmm... sekitar berapa ya tiga tahun kali ya. waktu itu terakhir kita ketemu saat di Amerika" jelasnya.
"Saya sepertinya lupa" ucap Guna membuat Ayunda menahan tawanya sedangkan perempuan bernama Lalisa itu terlihat kesal.
"Lupa? kau lupa dengan aku Gun? Dulu kau sempat berkunjung dirumahku bersama Kakakku" ucapnya.
Guna mencoba mengingat dan akhirnya ia tahu jika perempuan ini adalah adik dari salah satu teman kuliahnya. "Kau adiknya Jatra?" tanya Guna.
"Iya" ucapnya tersenyum manis.
Ayunda tersenyum karena secantik apapun perempuan itu ternyata tidak membuat suaminya ini tertarik. Terbukti ingatannya yang luar biasa itu tidak dapat mengingat wanita cantik bernama Lalisa. "Ada perlu apa kau menemuiku?" tanya Guna.
Lalisa lagi-lagi tersenyum membuat Ayunda ingin sekali mendekati Guna saat ini juga dan mengatakan kepada perempuan itu jika ia adalah istrinya Gunadarma Candrama. Ayunda bisa melihat jika Lalisa ini sepertinya tertarik kepada suaminya. Tapi sebagai seorang istri seorang Guna, ia harus bersabar terlebih lagi mungkin perempuan ini adalah rekan bisnis Guna.
"Perusahaanku ingin bekerjasama dengan perusahaan kamu!" ucapnya membuat Guna menatapnya dengan dingin karena wanita ini terlihat sekali ingin menggodanya. Apalagi tatapan wanita ini seolah ingin menujukkan padanya jika ia tertarik padanya.
"Letakkan saja berkasnya di meja, nanti saya baca!" ucap Guna membuat Lalisa menghela napasnya.
"Saya dan istri saya ada acara makan malam bersama keluarga" tolak Guna dan ia sengaja menekan kata istri agar Lalisa mengerti jika ia memiliki istri. "Ayu kemari!" panggil Guna membuat Ayunda berdiri dan segera melangkahkan kakinya mendekati Guna. "Dia istri saya Ayunda" ucap Guna sengaja memperkenalkan Ayunda kepada Lalisa.
Lalisa merubah raut wajahnya karena tadi ia berpikir jika perempuan itu hanyalah kekasih Guna karena bisanya laki-laki kaya seperti Guna itu pastinya memiliki simpanan di kantornya. "Ayu" ucap Ayunda mengulurkan tangannya
"Lalisa" ucapnya. Lalisa menghela napasnya karena sepertinya tidak ada kesempatan untuknya untuk mendekati Guna. "Hhhmmmm... kalau begitu saya permisi dulu Pak Guna. Saya harap anda mempertimbangkan loroposal kerja sama ini!" ucap Lalisa formal membuat Ayunda tersenyum ramah walau sebenarnya ia ingin tertawa melihat ekspresi kemarahan dari Lalisa padanya.
"Oke" ucap Guna dan menatap Lalisa yang melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini dengan kesal.
Ayunda mendekati Guna, ia kemudian memeluk leher Guna dari belakang. Guna yang sedang menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya tersenyum dan menarik kepala istrinya itu dengan pelan agar mendekati wajahnya lalu ia mencium bibir Ayunda dengan lembut membuat mata Ayunda memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut suaminya yang terasa manis itu.
Guna menarik tangan Ayunda dan memangku Ayunda. "Kita mampir ke Rumah Kakek ya Mas! soalnya Dinda katanya lemas gitu, pengennya bobok aja di kamar. Dinda yang aktif banget gitu tumben jadi suka tidur Mas" ucap Ayunda.
"Om Raka pasti yang minta kamu kesana?" tanya Guna.
"Iya sekalian Om minta kita jemput Felisa, soalnya Gemal dan Vian lagi pergi ke Riau. Kadang aneh sama Gemal, dinas ke Riau aja maksa Vian buat ikut bilangnya nggak ada tukang pijatnya dia kalau dia capek. Ngeselin banget kan Mas Adik kamu itu!" jelas Ayunda membuat Guna tersenyum.
"Setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk menyampaikan rasa sayangnya Ayu!" ucap Guna.
"Kayak Mas Guna yang kayaknya jadi manja banget sama Ayu setelah nikah. Dulu uh... cuek banget hehehe" kekeh Ayunda.
"Bukan cuek, kalau belum halal apa-apa harus dibatasi Ayu!" ucap Guna membuat Ayunda memeluk Guna dengan erat.
"Ayo Mas kita jemput Felisa!" ucap Ayunda.
"Yaudah Mas tanda tangani ini dulu!" ucap Guna menunjuk berkas yang ada dihadapanya.
"Besok Ayu kesini bawa Ghavin ya Mas, sekalian Ayu jagain Mas hehehe... Hmm... kayaknya Mas harus pajang foto Ayu sama Ghavin disini biar mereka tahu kalau Mas itu sudah beristri dan punya anak. Dengan melihat foto Dinda dan Ghavin, Mas Guna jadi ingat kalau ada kesayangan Mas Guna, yang menunggu Mas dirumah!" ucap Ayunda membuat Guna tersenyum.
tbc...