
Setelah makan bersama Guna dan Ayunda, Adinda saat ini terbaring disofa kekenyangan sambil menoton film korea kesukaannya bersama Farhan. Sedangkan Guna dan Ayunda segera pamit pulang. Ayunda mengelus perutnya dan itu tak luput dari pengamatan Farhan.
"Kamu gemukan Din" ucap Farhan.
"Iya Pi, makanan enak sayang Pi kalau nggak dihabisin, hidup itu dinikamati asal jangan berlebihan Pi" ucap Adinda membuat Farhan terkekeh.
"Hehehe... ada-ada aja kamu Din" ucap Farhan.
"Pi kok suami Dinda lama banget ya Pi pulangnya?" ucap Adinda membuat Farhan mengerutkan dahinya.
Kelakuan aneh Dinda dimulai beberapa hari yang lalu. Raka biasanya sering pulang jam delapan malam dan Dinda yang selalu mengikuti Raka sudah menjadi hal biasa jika pukul delapan keduanya baru pulang.
"Nggak lama, dulu kamu juga pulang jam delapan dari Kantor!" ucap Farhan.
"Beda Pi, Dinda kan kangen Pi. Lama banget pulangnya!" ucap Adinda.
Farhan menghela napasnya dan kembali menatap layar TV. Ia sesekali melirik menatunya itu yang saat ini sedang memakan cemilan didalam toples. "Besok buatin Papi japanese cake Din, gulanya pakek gula jagung saja!" ucap Farhan.
"Nggak janji ya Pi, soalnya Dinda lagi malas Pi. Maaf ya Pi!" ucap Adinda.
"Kamu kayaknya nggak sayang sama Papi lagi ya Din" ucap Farhan membuat Adinda menyebikkan bibirnya.
"Dinda sayang sama Papi, dosa tahu Pi nggak sayang sama mertua. Dinda kan bukan menantu jahat kayak di sinetron Pi, hiks... hiks... " Tangis Adinda membuat Farhan terkejut karena biasanya Adinda akan semakin menggodanya hingga keduanya akan tertawa terbahak-bahak tapi kali ini menantunya itu menangis membuat Farhan hampir tidak percaya.
"Jangan nangis dong Din, masa kamu kayak Felisa sih nak?" ucap Farhan. Farhan belum pernah mengurus anak perempuan yang cengeng sebelumnya seperti Felisa dan sekarang Adinda yang menangis dihadapanya. Dulu saat ia mengangkat Vivian sebagai cucunya, Vivian hanya bisa bermanja dan merayunya jika menginginkan sesuatu, tapi tanpa menangis manja seperti ini. Dulu Farhan takut saat Vivian yang pernah mengancam akan mengakhiri hidupnya dan itu sangat mengerikan bagi Farhan.
"Papi belikan apa yang kamu mau asal jangan nangis!" ucap Farhan.
"Dinda itu sayang sama Papi tapi ini semua karena ini...Dinda jadi suka tidur dan malas ke dapur Pi, maaf ya Pi hiks...hiks... !" ucap Adinda menunjuk perutnya membuat Raka yang baru saja datang mendengar perdebatan Papinya dan istrinya itu dengan tatapan penasaran. Raka mendekati mereka sambil melonggarkan dasinya namun langkah kakinya tehenti.
"Maksud kamu? perut? kamu yang aneh ini.... Dinda kamu mau kasih Papi cucu?" tanya Farhan menatap Adinda dengan tatapan seriusnya.
Adinda menganggukkan kepalanya membuat Farhan segera berdiri tanpa sadar "Terimakasih Tuhan, aku masih diberikan kesempatan melihat anak dari putra bungsuku" ucap Farhan yang kemudian bersujud sambil mengangkat kedua tangannya keatas dan berdoa.
"Papi, kaki Papi kan sakit. Asam uratnya nanti kambuh lo Pi... jantung Papi nggak apa-apa?" tanya Adinda mendekati Farhan dan membantu Farhan agar segera berdiri dan duduk di kursi rodanya.
Sementara itu sosok laki-laki yang saat ini berada dibelakang mereka sedang mencerna ucapan Adinda. Ia merasa berita ini sangat mengejutkan. Ia akan menjadi ayah dari seorang bayi yang akan lahir dari rahim istrinya dan ini adalah kabar yang luar biasa baginya.
Tanpa kata Raka segera menuju lantai dua dengan cepat. Ia segera mandi dan membersihkan dirinya sebelum ia menemui istrinya. Raka bahkan tersenyum sejak mengetahui istrinya hamil. Katakanlah ia seperti orang gila tapi anugerah ini membuatnya benar-benar sangat bersyukur. Ia berjanji akan menjadi Ayah yang baik untuk anak-anaknya dan memberikan kasih sayang yang besar kepada keluarga kecilnya. Setelah selesai mandi Raka keluar dari kamar dan melihat Farhan dan Adinda tertawa terbahak-bahak dilantai dasar. Raka mengambil ponselnya dan segera mengatur pertemuannya bersama dokter besok untuk memeriksa kehamilan istrinya. Ia kemuidan meminta supir pribadi Adinda untuk membelikan susu hamil untuk Adinda.
Raka menuju kamar Felisa dan melihat Felisa sedang sibuk belajar bersama pengasuhnya. Melihat kehadiran Raka membuat Felisa merentangkan tangannya. Raka segera menggendong Felisa. "Ayah baru pulang?" tanya Felisa.
"Iya, gimana sekolahnya?" tanya Raka.
"Di Sekolah Feli punya teman yang banyak Ayah. Teman Feli juga bilang kalau Bunda Feli cantik sekali. Tapi tadi yang jemput Feli Mama Ayu, Yah" jelas Felisa.
Raka tersenyum, ia harus memberikan pengertian kepada Feli karena saat ini Adinda sedang hamil dan prilakuknya sedikit berbeda dari sebelumnya. Adinda tertidur pulas hingga lupa untuk menjemput Felisa.
"Feli bisa janji nggak sama Ayah?" tanya Raka. Felisa menganggukkan kepalanya.
"Bisa Yah!" ucap Felisa membuat Raka mengelus kepala Felisa dengan lembut dan ia mencium dahi Felisa.
"Bunda sekarang lagi hamil dan Feli akan punya adek" ucap Raka membuat Felisa tersenyum.
"Kapan kita jemput adiknya Yah?" tanya Felisa.
Raka tersenyum lembut "Hmmm maksud Ayah, didalam perut Bunda ada adiknya Felisa, keluarnya nanti kalau perutnya Bunda udah besar sekali. Jadi mulai sekarang Feli kalau mau minta gendong, minta gendongnya sama Ayah ya nak! kalau Feli minta gendong sama Bunda kasihan adeknya!" ucap Raka membuat Felisa menganggukkan kepalanya.
"Iya Yah" ucap Felisa. Pengasuh Felisa tersenyum melihat Raka yang sangat menyayangi Felisa. Jika saja para maid yang lain tidak menceritakannya siapa Felisa, ia tidak akan tahu jika Felisa bukan putri kandung Raka dan Adinda.
"Sekarang Felisa belajar dan setelah itu bobok ya nak!" ucap Raka.
"Siap Ayah!" ucap Felisa tersenyum sambil menjukkan semua giginya.
Setelah itu Raka keluar dari kamar Felisa dan ia menuju lantai dasar. Ia mendekati Adinda dan Farhan. Raka duduk disofa tepat disamping Adinda membuat Adinda terkejut.
"Loh... kapan Kakak pulang?" tanya Adinda.
"Kayaknya seru banget ketawanya, tapi ini matanya kenapa kayak habis menangis? Ada yang mau kamu jelasakan kepada saya Dinda?" tanya Raka menatap Adinda dengan tatapan seriusnya.
tbc...