
Ayunda sejak tadi merasa gelisah karena Guna belum juga pulang dari kantor sedangkan jam menunjukkan pukul sembilan malam. Sebenarnya Ayunda tahu Guna pasti mencari solusi demi kesehatannya dan kandungannya dan ia seharusnya tidak marah kepada Guna apalagi mengatakan tidak ingin bertemu Guna. Ayunda menghela napasnya jika bukan karena permintaan Elin yang ingin mengerjai Guna, pasti ia tidak akan marah kepada Guna hingga membuatnya tidak bisa tidur sambil memeluk Guna beberapa hari ini.
Ayunda ingin sekali menghubungi Guna namu ia menahan keinginannya itu. Ayunda mendengar suara Ghavin yang menangis, membuatnya segera keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar Ghavin lalu mendekati Ghavin.
"Ghavin bangun ya Mbak?" tanya Ayunda ketika melihat pengasuh Ghavin menggendong Ghavin sambil mengelus punggung Ghavin dengan pelan.
"Iya Nyonya," ucapnya.
"Mbak Ghavin biar tidur sama saya saja Mbak, tolong bawa perlengkapan Ghavin ke kamar saya Mbak!" pinta Ayunda.
"Iya Nyonya," ucap pengasuh Ghavin dan ia menyiapkan semua perlekapan Ghavin termasuk susu dan juga pempes untuk Ghavin.
"Malam ini Ghavin bobok sama Mama!" ucap Ayunda.
Ghavin yang seolah mengerti dengan ucapan Ayunda memilih untuk memejamkan matanya lagi saat Ayunda menggendongnya dan isak tangisnya Gavin perlahan mulai mereda. Ayunda melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ghavin dan ia membawa Ghavin menuju kamarnya. Langkah Ayunda terhenti saat melihat Guna yang saat ini penampilannya terlihat kusut dan tatapan Guna yang dingin kepadanya membuatnya menelan ludahnya. Guna mengambil Ghavin dari pelukan Ayunda.
"Kamu tidak boleh membawa sesuatu yang berat Ayu!" ucap Guna membuat Ayunda terharu dan ingin memeluk suaminya itu, tapi ia menahannya. "Mas boleh masuk Yu?" tanya Guna. Ayunda menganggukkan kepalanya dan ia membukakan pintu kamar untuk mereka.
Guna membaringkan Ghavin yang terlelap, ia kemudian membuka pakaiannya dan meletakannya dikeranjang khusus pakaian kotor. "Sudah makan?" tanya Ayunda sambil menatap Guna yang saat ini melilitkan handuk dipinggangnya.
"Sudah," ucap Guna singkat. Guna melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi dan meninggalkan Ayunda yang saat ini masih menatap pintu kamar mandi yang telah ditutup Guna.
Ayunda mendekati Ghavin dan mencium dahi Ghavin dengan lembut. "Kak Ghavin nanti kalau dedek lahir Kak Ghavin main sama dedek dan kita pergi ke rumah uyut!" ucap Ayunda. Ia tersenyum membayangkan keluarga kecilnya berpergian bersama ke desa Oma Mawar. Pemandangan kebun teh membuatnya merasa nyaman dan tenang. Apalagi jika ingat air terjun disana membuatnya tersenyum, karena mengingat kisah romatisnya bersama Guna. Ayunda segera memejamkan matanya saat mendengar bunyi pintu kamar mandi akan terbuka. Ia sengaja berpura-pura tidur agar tidak tergoda segera berbaikan kepada Guna dan menghancurkan rencana yang disusun Elin.
Pintu kamar mandi terbuka, Guna melihat Ayu tertidur lelap dan ia segera mengambil pakaiannya dilemari lalu memakainya. Ia mendekati Ayunda dan Ghavin. Guna membaringkan tubuhnya dan ia mencium kening Ghavin dan setelah itu kening Ayunda. Guna mengelus kepala Ayunda dengan lembut membuat Ayunda ingin sekali membuka matanya, namun lagi-lagi ia menahanya.
Guna merasa sangat lelah dan ia membuka mulutnya menguap karena merasa sangat mengantuk. Ia memejamkan matanya dan kemudian terlelap. Ayunda membuka matanya dan ia sebenarnya tidak tega karena marah seperti ini kepada Guna. Terlihat kekanak-kanakan pada hal, ia dan Guna cukup membicarakan senuanya lalu mencari solusi bersama. Apalagi menurut Gemal, ia bisa menjalani proses kehamilan dengan sehat sampai melahirkan nanti. Asalkan terus memeriksakan kandungannya secara rutin agar mengetahui perkembangan janinnya.
*Ayu nggak bisa Mas, marahan lama kayak gini. Tapi kata Mami ini demi kejutan buat Mas Guna besok. Ayu tahu Mas Guna khawatir sama kesehatan Ayu tapi Ayu yakin kita bisa mengahdapapi ini sama-sama. Ayu itu udah bucin lama sama Mas Guna, Ayu mana rela ngambek lama-lama soalnya Ayu pengen dipeluk Mas.
Ayunda mengelus pipin Guna membuat Guna ingin menunjukkan senyumnya karena ia sebenarnya masih terjaga dan merasakan sentuhan lembut jemari istrinya dipipinya. Guna tahu jika Ayundanya ini tidak akan pernah lama marah padanya. Buktinya istrinya ini membiarkannya tidur dikamar ini setelah beberapa hari ia tidur di kamar tamu yang berada dilantai satu.
Ayunda menjauhkan tangannya dan kemudian ia memejamkan matanya. Kali ini ia benar-benar terlelap dan merasa bahagia karena Guna tidur bersamanya dan juga bersama putranya.
***
Pagi ini Guna masuk kedalam rumah mertuanya yang telah selesai di diperbesar dan juga didesain sesuai keinginan mertuanya. Rumah ini semakin luas karena Guna membeli rumah yang berada disamping rumah ini dan membangun kedua rumah ini menjadi satu.
Rumah utama tidak hancurkan namun di buat lebih besar dan megah. Guna puas karena rumah berlantai dua ini tidak kalah dari kemegahan rumah kedua orang tuanya. Guna juga membuat sebuah kolam renang disamping bangunab rumah dan ia yakin istrinya pasti akan senang, jika melihat perubahan rumah ini.
Gemal yang berada disamping Guna kagum dengan kemewahan rumah ini. "Berapa duit Kak?" tanya Gemal.
"Menurut kamu berapa?" tanya Guna.
"Widih sombong bener ya," ejek Gemal. "Aku beruntung dapat harta warisan rumah yang udah megah dan gede," ucap Gemal karena ia dan istrinya akan mewarisi rumah orang tuanya.
"Kau bisa membangun rumah orang tua kita lebih megah, Gem!" ucap Guna.
"Nggak kak, kasihan istriku kalau ngurusin rumah yang gede banget. Belum ngusrusin suaminya, belum lagi ngurusin anak," ucap Gemal.
"Pakai pembantu Gem!" ucap Guna.
"Mana mau dia ngurusin suaminya disuruh pembantu nanti suaminya yang ganteng ini diambil orang Kak" ucap Gemal membuat Guna meninju lengan Gemal.
"Kapan peresmian rumah ini?" tanya Gemal.
"Lusa kayaknya" ucap Guna membuat Gemal menganggukkan kepalanya.