CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Tawaran yang merugikan


Adinda mengikuti Raka masuk kedalam lobi hotel, beberapa karyawan hotel yang melihatnya segera membungkukkan tubuhnya. Adinda mempercepat langkahnya karena langkah kaki Raka yang besar membuatnya sulit untuk menyusul Raka.


"Om kira-kira dong kalau jalan. Ini mau ngajakin Dinda apa nggak sih!" kesal Adinda membuat beberapa orang menatap Adinda dengan terkejut karena berani berteriak dengan Ceo baru mereka.


"Makanya jadi orang itu jangan lelet!" ucap Raka memperlambat langkahnya


Raka masuk kedalam lift namun Adinda menghentikan langkahnya membuat Raka menarik lengan Adinda agar masuk kedalam lift bersamanya. "Kamu mau kabur?" tanya Raka.


"Iya" ucap Adinda menyilangkan kedua tangannya didadanya.


"Sok cantik" ucap Raka membuat Adinda ingin sekali memukul kepala Raka agar ucapan Raka tidak sesadis ini padanya.


"Asal Om tahu ya, Dinda bisa menutut Om ke pengadilan karena berani menyetuh Dinda Om! pasti niat Om mengajak Dinda kesini ada maksud terselubung. Apalagi Om itu cowok mesum" ucap Adinda membuat Raka menaikan satu alisnya mencerna ucapan Adinda.


"Jadi kamu mau kita begituan di hotel ini? itu maksud kamu mengatakan saya mesum?" tanya Raka.


"Mana ada, otak Om itu harus dicuci bersih biar nggak mesum. Kalau mahasiswa dikampus tahu bagaimana dosen idolanya yang ternyata suka mencium mahasiswanya dan ngajakin mahasiswa polos kayak aku ke hotel pasti mereka pada ilfil sama Om dan Om bakalan dipecat!" ucap Adinda.


"Yang pernah saya cium itu hanya kamu, kamu mau cari korban lagi yang lainya kamu tidak akan mendapatkannya. Satu-satunya perempuan yang menggoda saya itu hanya kamu" jelas Raka.


"Saya nggak pernah menggoda Om, jangan bercanda Om" kesal Adinda.


Ting pintu lift terbuka, keduanya segera keluar dari dalam lift. Ternyata lantai ini merupakan kantor yang mengurusi semua administrasi yang ada di hotel mewah ini. Raka melangkahkan kakinya keluar dari lift, ia membalik tubuhnya dan menarik tangan Dinda saat Dinda sengaja tidak ingin mengikutinya.


Raka menyeret Adinda agar mengikutinya membuat Adinda menahan tubuhnya "Ayo ikut saya!" ucap Raka.


"Nggak mau Om!" ucap Adinda.


"Kalau Om macam-macam ponsel Om, Dinda buang!" ucap Adinda kesal.


"Buang saja!" ucap Raka yang kemudian menggendong Adinda dibahunya membuat Adinda terkejut.


"Turinin Dinda Om!" teriak Adinda membuat beberapa orang menatap mereka dengan terkejut.


"Sinta buka pintunya!" ucap Raka kepada sekretarisnya.


"Baik Pak" ucap Sinta


"Mbak tolongin saya!" ucap Adinda membuat Sinta tersenyum tipis saat Adina mencoba menggapai tangan Sinta.


Raka melangkahkan kakinya masuk keruangannya dan mendudukan Adinda di sofa. Adinda mengedarkan pandangannya dan melihat ruangan ini ternyata sangat luas. Raka duduk di meja kerjanya dan menghidupkan laptopnya. Adinda berdiri dan mendekati pintu keluar namun saat dia mencoba membuka pintu ternyata pintu itu telah Raka kunci.


"Om sebenarnya mau apa dari Dinda? jangan kekanal-kanakan dong! udah S3 pikiran kayak bocah" kesal Adinda kembali duduk di sofa dan menatap Raka dengan sinis.


"Mulai sekarang kamu jadi asisten saya!" ucap Raka.


"Enggak, enak saja merintah-merintah Dinda. Dinda mau fokus kuliah bukan bermain-main sama Om yang suka mempermainkan saya!" kesal Adinda dengan napas yang memburu.


"Saya akan memberi kamu gaji yang besar. Kamu hanya menemui saya setelah jam kuliah selesai dan memberikan jadwal saya. kamu juga akan mengikuti saya bertemu para investor dan memeriksa perusahaan cabang lainnya!" ucap Raka.


"Om kayak bos besar saja. Emang Om, Kak Guna apa?" ucap Adinda.


"Asal kamu tahu ya saya begini juga karena Guna. perusahaan Candrama sangat besar, Guna tidak bisa menghandel semuannya sendiri hingga Kakek akhirnya membagi perusahaan ini menjadi dua bagian. Guna memegang perushaan dibidang produk-produk perusahaan makanan, minuman, peralatan dan perlengkapan dan juga obat-obat herbal. Saya mengelolah poperti hotel, Resort berserta Mall yang baru saja dirintis" jelas Raka.


"Saya sulit berkomunikasi sama orang lain dan pasti asisten saya akan pusing dan stres karena mengikuti keinginan saya. Kalau kamu kan sudah biasa Dinda!" ucap Raka.


"Nggak mau, siapa yang biasa menghadapi Om? Asal Om tahu ya waktu Dinda itu berharga Om. pulang kuliah Dinda bisa santai tidur dirumah sambil nonton atau baca novel. Dinda juga bisa nongkrong-nongkrong cantik di cafe sambil cari gebetan Ceo kaya kayak di novel" ucap Adinda.


"Saya Ceo juga Dinda, kamu kalau nongkrong sama saya kamu sudah kayak di novel-novel yang kamu bilang itu!" ucap Raka.


"Om Ceo?" tanya Adinda.


"Iya" ucap Raka.


"Wah encok tuh pinggang, udah jadi Dosen jadi CEO juga ckckck..." ejek Adinda.


"Makannya saya butuh kamu untuk mengatur jadwal saya dan juga asisten saya dikampus!" ucap Raka. "Saya bakal kasih kamu gaji yang besar!" ucap Raka.


"Oke asal Om memenuhi syarat dari Dinda!" ucap Adinda membuat Raka menyunggingkan senyumannya.


"Apa itu?" tanya Raka.


"Pertama, Om dilarang cium Dinda kayak kemarin! kedua hari sabtu dan minggu Dinda mau libur Om!" ucap Dinda.


"Nggak bisa, yang namanya asisten dia harus selalu bersama saya dan kalau yang cium kamu, itu kan kamu yang mau!" ucap Raka membuat Adinda membuka mulutnya.


"Nggak kapan Dinda minta cium sama Om, Om jangam ngarang! Kalau Om nggak bisa memenuhi syarat Dinda, Dinda nggak mau jadi asisten Om. Walau gaji gede tapi jiwa dan raga Dinda tersiksa lebih baik nggak" ucap Adinda.


Raka berdiri dan mendekati Adinda ia kemudian mendorong tubuh Adinda hingga membuat Adinda berada diposisi berbahaya tepat dibawah Raka. "Kamu jawab iya jika tidak saya bakal mencium kamu sekarang juga!" ucap Raka membuat Adinda menelan ludahnya.


"Libur hari minggu!" tawar Adinda namun Raka semakin mendekati wajahnya membuat Adinda mendorong tubuh Raka dengan kasar.


Raka memegang kedua tangan Adinda dan mengunci pergerakan Adinda "Jawab iya!" ucap Raka memaksa.


"Enggak!" ucap Adinda membuat Raka kesal dan ia menyetuh bibir Adinda.


"Iya" lirih Adinda membuat Raka menjauhkan tubuhnya sambil terseyum.


"Good" ucap Raka mengelus kepala Adinda. "Satu lagi awas kalau kamu memberikan kesempatan untuk kembali sama mantan pacar kamu itu!" ancam Raka.


"Itu bukan urusan Om, Dinda mau pacaran sama siapa juga. Tunggu dulu Om suka sma Dinda kan? Ayo ngaku?" tanya Adinda mengingat tingkah Raka padanya.


"Kenapa kalau saya tidak suka kamu berdekatan sama Rifki? itu urusan saya dan kalau saya bilang kamu tidak boleh kamu harus mengikuti keinginan saya!" ucap Raka.


"Wah... hebat banget Om ya. Emang Om suami Dinda apa?" tanya Dinda kesal.


"Kamu mau jadi istri saya?" tanya Raka melipat kedua tangannya sambil menatap Adinda dengan tatapan seriusnya.


Tidak...gue nggak mau...nikah sama dia bikin hidup gue pasti bagaikan di Neraka.


tbc


jangan lupa di vote ya!!!