CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Siaga


Hari ini kediaman Candrama semua keluarga sedang berkumpul bersama. Adinda menyarankan semua keluarganya untuk mengadakan arisan keluarga dan ternyata semuanya setuju termasuk Radina yang juga ikut dalam acara ini. Kehamilan Adinda saat ini menginjak sembilan bulan dan Raka menjadi lebih overprotektif padanya karena tinggal menunggu hari dimana Adinda akan melahirkan.


Adinda menolak untuk dioperasi karena ia ingin melahirkan secara normal. Raka mengikuti Adinda ke dapur membuat Adinda menghela napasnya.


"Kok ngikutin Dinda Kak? Kakak ngobrol aja sana!" pinta Adinda namun Raka tetap berdiri mengikuti Adinda.


"Kak... " kesal Adinda.


"Kalau kamu duduk manis dan nggak kesana-kemari Kakak nggak akan ngikutin kamu," ucap Raka.


"Ini pasti kerjaan Gemal kan?" tanya Adinda.


"Nggak ada, ini inisiatif Kakak Dinda," ucap Raka membuat Adinda menyipitkan matanya dan ia tidak percaya dengan ucapan Raka.


Mana ada inisiatif Kakak ini pasti kerjaan Gemal.


Adinda mencuci apel yang ia ambil dari kulkas dan ia mengambil pisau untuk mengupasnya. Raka menarik pisau ditangan Adinda. "Biar Kakak yang kupasin apelnya!" ucap Raka.


"Biar saya aja Tuan!" ucap salah seorang maid.


"Nggak apa-apa biar saya aja Mbak!" ucap Raka.


Raka mengupas Apelnya dan Adinda menatap kagum Raka yang dengan cepat mengupas apel untuknya. "Kakak kayak chef gitu buka apelnya, cepat banget."


Raka meletakkan apel yang ia kupas dipiring dan memberikan piring itu kepada Adinda yang saat ini tersenyum padanya dan tiba-tiba Adinda mengecup pipinya dengan lembut "Terimakasih Ayah," ucap Adinda membuat Raka menyunggingkan senyumannya.


"Senang banget Ayah siaga kita dek, cap bibir Mama obat buat Ayah senyum," ucap Adinda membuat Raka terkekeh.


Adinda melangkahkan kakinya mendekati keluarganya yang sedang berbincang diruang keluarga. Dengan isyarat matanya, ia meminta Raka agar tidak mengikutinya lagi dan Raka segera melangkahkan kakinya mendekati Gemal, Farhan, Aditya dan Bagas yang sedang berada di ruang tengah.


Ayunda tersenyum melihat tingkah Raka yang sejak tadi mengikuti Adinda kemanapun Adinda melangkah. Adinda duduk tepat disebelah Ayunda. "Mau mbak?" ucap Adinda memberikan piring yang berisi potongan apel untuknya.


Ayunda mengambil satu potong apel dan memakannya. "Din."


"Kenapa Mbak?" tanya Adinda.


"Kok si Om jadi sweet gitu sama kamu?" tanya Ayunda.


"Nggak tahu udah seminggu kayak gitu dia Mbak," ucap Adinda.


Sebenarnya tingkah Raka yang mengikuti Adinda kemanapun Adinda pergi memang atas saran Gemal. Gemal mengatakan agar Raka mengawasi Adinda karena sebentar lagi waktunya Adinda persalinan. Gemal juga bingung saat melihat Raka sepertinya mengikuti ucapannya tapi terlihat begitu berlebihan saat ini. Adinda ke toilet pun Raka pasti akan mengikutinya. Seperti beberapa hari yang lalu Adinda sangat terkejut karena tiba-tiba saja Raka telah berada dibelakangnya saat memasuki toilet.


"Ya ampun Mbak, Dinda kalau tahu Kak Raka kayak gini, mending Kak Raka nggak usah cuti kerja. Soalnya tiap hari Kak Raka itu mengawasin Dinda, Dinda jadi risih diliatin terus. Kalau Dinda meringis dikit aja apalagi sidedek nendang dia pasti keliatan panik," jelas Adinda membuat Ayunda tersenyum.


"Kamu bilang sama si Om, kalau kamu keberatan dia ngikuti kamu kayak gitu?" tanya Ayunda.


"Dinda bilang dong Mbak, tapi jawabanya itu loh Mbak, yang bikin Dinda akhirnya membiarkan Kak Raka bersikap overproktektif gitu sama Dinda," ucap Adinda sambi tersenyum manis.


"Emang si Om bilang apa?" tanya Ayunda Vivian dan Radina menatap Adinda dengan penasaran membuat Adinda tertawa.


"Hahaha penasaran ya?" ucap Adinda.


"Iya Din," ucap Vivian membuat Adinda terkekeh.


"Hehehe..."


"Apa dong Mbak? Kak Raka kan orangnya dingin gitu dan ya, gengsian juga jadi bikin kita penasaran so sweet juga nggak jawabanya?" ucap Radina.


"Ya deh kalau kalian penasaran. Hmmm...Kak Raka bilang, dia hanya ingin menjadi suami siaga. Siap antar jaga" ucap Adinda.


"Udah gitu doang?" tanya Ayunda.


"Iya gitu aja Mbak," ucap Adinda sambil mengunyah potongan apel yang ia makan.


"Nggak ada yang lain gitu Mbak kata-kata romantisnya?" tanya Radina.


"Nggak ada." ucap Adinda tersenyum senang melihat raut wajah kesal Ayunda, Vivian dan Radina. "Kok muka kalian jadi kesel gitu sama Dinda?" tanya Adinda.


"Astaga Dinda, jadi hanya karena kata-kata siaga kamu luluh dan membiarkan Kak Raka ngikuti kamu?" ucap Vivian.


"Hehehe iya, bagi Dinda sekarang semua apa yang diucapin Kak Raka itu mengandung makna romantis, misalnya Dinda kamu bisa nggak jalanya pelan aja. Kak Raka yang ngelarang Dinda gitu bikin Dinda ngerasa gimana gitu, tapi Dindanya gengsi juga pura-pura nggak suka dimanjain pada hal Dinda ngarep," jelas Adinda membuat Vivian, Radina dan Ayunda setuju jika Raka dan Adinda memang pasangan unik dan saling melengkapi.


"Benerkan kata Radina Mbak, Kak Raka dan Mbak Dinda ini pasangan yang cocok," ucap Radina


"Iya cocok karena sama-sama aneh!" ucap Ayunda mengunyah apelnya dengan kesal karena rasa penasarannya ternyata hanya dengan satu kata yaitu siaga. Kata-kata romantis bagi Adinda yang meluluhkan hati Adinda sehingga menerima perhatian dari Raka.


"Aku pikir si Om bakal bilang begini. Sayang Kakak ngikutin kamu itu takut kalau kamu kenapa-napa, apalagi buah hati kita kan akan segera dilahirkan," ucap Ayunda.


"Din... kamu pipis ya?" tanya Vivian membuat Radina dan Ayunda melihat kearah lantai.