CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
kalah


"Om... jauhkan tikus itu, Dinda nggak suka Om!" ucap Adinda mengeratkan pelukannya. "Om buang tikusnya!" teriak Adinda lagi membuat Raka tersenyum. Ia merindukan suara Adinda yang kesal ataupun marah padanya.


"Janji dulu sama saya kalau kamu nggak marah lagi!" pinta Raka.


"Iya" ucap Adinda. Asalkan tikus itu disingkirkan dulu ia akan melakukan apapun termasuk sedikit memaafkan Raka. Sebenarnya Adinda telah memaafkan Raka tapi tetap saja rasa kesalnya akan muncl jika mengingat Luna dan ucapan Raka saat itu.


Raka tersenyum dan ia membenamkan wajah Adinda ke dadanya. Ia membuka kaca mobii dan mengambil tikus mainan itu lalu membuangnya keluar. Raka mengelus rambut Adinda dengan penuh kemenangan, jangan panggil ia Raka Candrama jika ia tidak bisa mengalahkan siapapun yang bersikeras ingin melawannya.


Dua hari Dinda marah kepadanya membuatnya kesal. Raka paling tidak suka melihat perempuan yang menjadi tunangannya ini mogok bicara padanya. Ia lebih suka Adinda memarahinya atau memakinya hingga memancing perdebatan diantara mereka berdua.


Tikusnya sudah saya buang!" ucap Raka.


"Beneran sudah dibuang?" tanya Adinda mengangkat wajahnya menatap wajah Raka memastikan Raka tidak berbohong padanya.


kedua mata mereka bertemua menimbulkan sesuatu yang menghangat dihati keduanya hingga wajah Adinda memerah karena malu dengan kedekatan mereka. Tingkah Adinda yang seperti inilah yang memancing raka untuk mencium Adinda. Adinda merasa kontak mata seperti ini harus mereka hindari karena selain tidak baik untuk kinerja jantungnya, juga akan memicunya untuk mengikuti ucapan setan dan akhirnya melakukan hal-hal yang bisa membuat keduanya berdosa. Memang benar apa kata para orang tua, dari pada menjalin hubungan pacaran lebih baik berpacaranlah setelah menikah.


Aduh sih Om mau ngapain....


"Di Alexsander mall" ucap Adinda menyebut salah satu Mall terbesar di daerah ini. Raka mengelus rambut Adinda dengan lembut.


"Kenapa kamu bisa semarah ini sama saya? saya salah apa?" tanya Raka sambil mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi memegang tangan Adinda.


Adinda menghembuskan napasnya, Raka adalah laki-laki licik yang sepertinya tidak akan pernah bisa ia lawan. Selama ini tidak ada yang menandingi kelicikan dan ide-ide dipikirannya untuk mengerjai orang-orang terdekatnya tapi sepertinya kehadiran Raka membuat babak baru dalam kehidupannya. Raka licik melemparkan tikus ketubuhnya, siapapun perempuan yang dikejutkan dengan tikus yang menggelikan dan menjijikan pasti akan melakukan hal yang sama seperti dirinya.


"Om pikir apa yang Om lakukan itu yang terbaik buat Dinda? Nggak Om, Dinda sengaja nggak ngebalas perbuatan Luna yang menampar wajah Dinda dan menarik rambut Dinda. Dinda mau ngelaporin dia ke polisi Om kalai dia nggak berhenti ganguin Dinda" kesal Adinda.


"Oke saya yang salah, jadi lain kali kamu kasih kode sama saya!" ucap Raka menyunggingkan senyumannya karena saat ini aksi perang dinginnya dan Dinda akan segera berakhir. "Kalau mau marah dan perang sama saya, perangnya yang hangat-hangat saja ya Din. jangan yang dingin seperti ini!" ucap Raka.


"Om pokoknya Dinda nggak suka ya, Om dekat-dekat perempuan lain Om ngelarang Dinda jalan sama teman Dinda dan Dinda nggak boleh ini itu!" kesal Dinda. Mobil mereka sampai di Mall dan Raka segera memarkirkannya. Ia mematikan mesin mobilnya dan menolehkan kepalanya kearah Adinda.


"Saya bisa memberikan kamu kepercayaan asalkan kamu bisa menyakinkan saya, jika hanya saya satu-satunya laki-laki yang ada dihati kamu!" ucap Raka dingin. "Saya tidak akan melarang kamu jalan dengan teman kamu, baik itu perempuan atau laki-laki. Jadi yakinkan kepada saya Dinda agar saya tidak bersikap menyebalkan seperti ini kepada kamu!" ucap Raka.


tbc...