
Ayunda duduk di sofa dan ia menatap Guna yang saat ini sedang memeriksa berkas yang harus segera ia tandatangni. melihat Guna yang sibuk bekerja membuat Ayunds tersenyum tanpa sadar. Guna terlihat begitu tampan saat sedang bekerja dengan serius saat ini.
Guna menekan teleponnya dan menghubungi sekretarisnya "Siapkan rapat setelah makan siang dan pesankan makan siang dua porsi untukku dan istriku!" ucap Guna.
Guna kemudian mendekati Ayunda dan duduk disamping Ayunda. "Kita makan siang disini saja ya!" pinta Guna.
"Iya, tapi aku harusnya pulang aja Mas!" ucap Ayunda.
"Rapatnya hanya satu jam aku janji nggak akan lama. kamu bisa nonton dari laptopku atau bisa membaca buku disini!" ucap Guna menunjuk buku-buku teori tentang bisnis dan manajemen yang pastinya akan membuatnya bosan.
"Maunya baca Novel Mas. nggak suka baca yang berat-berat, aku bukan Vivian!" kesal Ayunda.
"Ayu, kamu dan Vivian jelas berbeda. kalau sifat kamu sama kayak Vivian aku tidak akan setuju menikahi kamu!" ucap Guna.
Guna dan Ayunda mendengar suara seseorang dengan nada yang tinggi meminta masuk keruangan Guna. clek... sosok Vivian muncul dengan senyum yang menawan namun ketika melihat kehadiran Ayunda senyum Vivian hilang. saat diluar ia sempat berdebat dengan sekretaris Guna yang melarangnya untuk masuk.
"Mas kita makan siang yuk!" ajak Vivian.
"Saya makan siang bersama istri saya Vi!" ucap Guna.
"Aku hubungi kakek biar kita makan siang bersama!" ucap Vivian sambil tersenyum sinis kepada Ayunda.
"Tidak perlu karena saya hanya ingin makan siang bersama istri saya disini!" ucap Guna.
Vivian menatap Guna dengan tatapan kesal. "Kakak nggak ingat apa kata Kakek? Kak, dia itu hanya akan menjadi istri bayangan Kakak. karena aku yang akan menjadi istri Kakak!" ucap Vivian.
"Tapi kau tidak diakui kakek sebagai cucu menantunya!" teriak Vivian.
Guna menghembuskan napasnya "Istriku hanya satu yaitu Ayunda. aku harap kau tidak mengganggu rumah tanggaku Vivian. kau sudah melewati batas. selama ini aku diam karena aku tidak ingin membuat keributan!" ucap Guna.
"Jika kau menganggapnya istrimu kenapa kau tidak mengumumkan perinkahanmu Kak?" tanya Vivian menatap Guna dengan amarah yang memuncak.
"Aku akan segera mengumumkannya, aku menunda pengumuman pernikahan kami karena adikku dan kakak Ayunda belum bisa pulang. aku tidak berniat menyembunyikan pernikahan kami!" ucap Guna. "Aku hanya tak ingin Ayunda merasa tidak nyaman dikantor karena para karyawan yang lain tahu dia istriku tapi ternyata aku salah" ucap Guna membuat Ayunda menatap Guna dengan tatapan haru.
"Jika kau tidak ingin menikahiku Kak akan kupastikan kau tidak akan menjadi pewaris Candrama!" teriak Vivian.
"Aku tidak peduli, jika kau mau kau saja yang menjadi Ceo menggantikan aku. bukankah kau cucu kandungnya? kau lebih berhak atas segalanya" singgung Guna karena Vivian begitu tidak tahu diri karena berani mengancamnya. "Keluar sekarang juga dari ruangan ini!" ucap Guna dingin.
Vivian terisak dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan ruangan Guna. Guna mengerutkan dahinya saat melihat wajah Ayunda yang terlihat masih sangat terkejut. "Kenapa?" tanya Guna.
Ayunda menggelengkan kepalanya dan segera memeluk lengan Guna dengan manja. "Kalau Kakek benar-benar memaksamu menikahi Vivian bagaimana?" tanya Ayunda menatap Guna dengan tatapan seriusnya.
"Aku tidak akan pernah menikahi Vivian sejak dulu aku hanya menganggapnya adikku. aku beruntung bertemumu di club karena jika tidak mungkin aku harus berusaha membujukmu untuk menikah denganku!" ucap Guna membuat Ayunda memeluk Guna dengan erat.
"Besok aku kembali bekerja Mas" ucap Ayunda.
"Tidak, aku akan mengizinkan kau bekerja sampai tanganmu sembuh!" ucap Guna membuat Ayunda menyebikkan bibirnya. "Jangan kayak bebek gini dong bibirnya bikin gemes aja" bisik Guna membuat Ayunda terkekeh.