
"Kamu mau jadi istri saya?" tanya Raka melipat kedua tangannya sambil menatap Adinda dengan tatapan seriusnya.
Tidak...gue nggak mau...nikah sama dia bikin hidup gue pasti bagaikan di Neraka.
"Maksud Om?" tanya Adinda memutar bola matanya jengah dengan ucapan Raka.
"Saya jadi berpikir kalau kamu jadi istri saya, saya nggak perlu gaji kamu dan keinginan Papi saya bisa tercapai punya mantu kekanakan kayak kamu!" ucap Raka.
"Wah...tapi sayangnya Om, Dinda nggak mau Om" tolak Adinda. "Mana ponsel Dinda sini!" ucap Adinda mendekati Raka.
"Ambil sendiri!" ucap Raka menunjuk saku celananya.
"Om jangan salahkan Adinda kalau si lontong di daerah rawan becana Om Dinda pegang!" ucap Adinda mengangkat tangannya dipinggang sangking kesalnya. Adinda kemudian meniup poninya yang sudah tidak beraturan lagi bentuknya karena lelah menghadapi sikap Raka.
"Jadi itu keinginan terdalam kamu sebagai seorang perawan?" tanya Raka.
Ya Tuhan ini orang maunya apa sih ngeselin banget... kalau kelamaan ngejomblo jadi gini ya mulutnya corno semua
batin Adinda.
"Ganti nomor ponsel kamu nanti saya kembalikan ponsel kamu! ponsel jelek gini aja kamu bangga-banggakan!" ucap Raka mengeluarkan ponsel Adinda membuat Adinda segera ingin mendekati Raka.
Raka kembali memasukkan ponsel Adinda kedalam saku celananya. "Om Dinda mau balas chat teman Dinda Om! sini kartunya aja!" ucap Dinda memelas.
Raka tidak menanggapi permintaan Adinda ia membuka ponselnya yang lain dan mengubungi seseorang. "Assalmualikum Om" ucap Raka.
"Waalaikumsalam".
"Adinda sudah setuju Om" ucap Raka sambil menatap Adinda yang saat ini melototkan matanya.
"Oke nak, kalau Om setuju-setuju saja!" ucap Bagas Papa Adinda.
"Makasi Om, Assalamualikum" ucap Raka.
"Walaikumsalam".
Raka menutup ponselnya dan melipat tangannya sambil menatap Adinda. "Tadi pagi Papi saya sadar" ucap Raka.
"Serius Om? Om nggak ngehalu kan?" tanya Adinda membuat Raka menghela napasnya.
"Saya serius Dinda, Papi saya sudah sadar" jelas Raka lagi. Menghadapi Adinda ia memang harus memiliki stok kesabaran yang banyak.
"Alhamdulilah, ayo kita lihat Kakek!" ucap Adinda tersenyum senang. "Tunggu tadi siapa yang Om hubungi?" tanya Adinda penasaran.
"Papa Dinda?" tanya Dinda.
"Iya" ucap Raka.
"Ngapain telepon Papa Dinda?" tanya Adinda.
"Izin sama dia kalau mulai sekarang kamu bekerja dengan saya!" ucap Raka.
"Wah Om seenaknya aja izin sama Papa Dinda, Yang memutuskan. Dinda kerja sama Om Apa nggak itu Dinda sendiri, nggak ada kaitanya sama Papa Dinda!" ucap Adinda.
"Apa salahnya kalau saya berinisiatif meminta izin?" tanya Raka dingin.
"Mana ada bos minta izin sama orang tua karyawannya. fix ini Om beneran bucin ya sama Dinda?" ucap Adinda menatap Raka dengan tatapan menyelidik.
"Bucin, apa itu?" tanya Raka.
"Makanya Om jangan kebanyakan makan micin jadi gini deh, kagak ngerti bahasa gaul. Om tinggal jawab gini aja Om. Dinda saya itu bucin sama kamu!" ucap Adinda.
Raka hanya menaikkan satu alisnya "Terserah kamu mau bucin mau micin yang jelas kamu harus menuruti keiinginan saya dan jangan membantah saya!" ucap Raka. "Mulai besok kamu kerja dengan saya!"
"Yah udah Dinda mengalah deh kerja satu bulan aja ya Om!" ucap Adinda kesal karena Raka adalah makhluk yang paling susah ia lawan. Berdebat panjang lebar dengan Raka tetap tidak akan membuatnya menang.
"Kamu tidak bisa menentukan untuk berhenti menjadi asisten saya, karena hanya saya yang bisa memberhentikan kamu!" ucap Raka.
"Iya ndoro... tapi awas ya kalau kerjaannya banyak Dinda langsung berhenti!" ancam Dinda. "Om ayo kita ke tempat Kakek!" ucap Adinda
"Nanti saja sebentar lagi!" ucap Raka karena ia tidak ingin bertemu wanita parubaya yang selalu datang menjenguk Papinya itu saat ini. wanita itu selalu datang dijama sekarang.
"Kamu ambil ini dan duduk disana. ini jadwal saya mulai besok kamu yang urus semua jadwal saya, nanti sekretaris saya akan menghubungi kamu dengan ponsel itu!" jelas Raka.
Dinda melangkahkan kakinya mengambil berkas itu dan kemudian kembali duduk di sofa. "Jadi ponselnya ini buat Dinda?" tanya Dinda.
"Iya" ucap Raka.
"Oke makasi tapi tetap ya ponsel Dinda dibalikin!" ucap Adinda.
"Iya nanti saya balikin!" ucap Raka membuat Adinda tersenyum senang.
Wah nggak jadi gue beli ponsel baru dari uang yang diberikan Kak Guna karena berhasil ngebujuk Om-om ini pulang. Uangnya mau aku sumbangin buat panti dan beli baju hehehe. Kalau rejeki mah nggak kemana...
Adinda sibuk membaca berkas dan kemudian menyusun jadwal Raka lewat pesan yang diberikan Sekretaris Raka. Raka mengamati Adinda yang terlihat serius. Ia kembali mengingat apa yang diucapkan Farhan pagi tadi ketika ia sadar dari komanya. Guna juga meminta Raka untuk memikirkan keinginan Farhan, agar Farhan semangat untuk sembuh dan bisa berkumpul bersama mereka lagi.