CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Adinda ngambek


Setelah makan malam dan perbincangan keluarga selesai, Raka, Farhan, Adinda dan Felisa pulang ke Kediaman Candrama. Farhan secara khusus meminta semua keluarga untuk berkumpul dirumahnya dan merayakan ulang tahun Elin di kediamannya. Ia juga meminta Raka untuk menyiapkan pesta yang mewah karena egonya yang tinggi ingin menunjukkan kemewahaannya kepada Oma Mawar.


Adinda sengaja belum mengumumkan kehamilannya karena permintaan Farhan. Saat Acara berlangsung nanti, baru Farhan akan mengumumkan berita bahagia ini. Dalam perjalanan pulang celotehan Felisa membuat mereka semua tersenyum.


"Kakek Feli takut sama poyangnya Ghavin. Dia jahatin Kakek" ucap Felisa membuat Farhan yang duduk dibelakang bersama Felisa tersenyum.


"Oma Mawar itu baik sayang!" ucap Farhan mengelus kepala Felisa.


"Tapi Feli takut matanya melotot gitu kalau ngomong Kek" jelas Felisa membuat Adinda menahan tawanya.


"Dinda" tegur Raka.


"Iya maaf Kakanda" ucap Adinda.


"Nggak usah takut sayang nanti kalau Oma datang ke Rumah kita, Feli salim tangan Oma dan cium pipinya!" ucap Raka.


"Nanti Omanya marah" ucap Felisa takut jika ia mendekati Oma Mawar, Oma Mawar akan marah padanya.


"Oma Mawar itu baik Feli, apalagi sama anak Bunda yang cantik ini!" ucap Adinda.


"Kakek jangan nangis ya Kek kalau Oma marahin Kakek!" ucap Felisa membuat Adinda tertawa.


"Hahaha" tawa Dinda.


"Dinda" tegur Raka lagi.


"Hahaha... Dinda ngebayangin Oma marah sama Papi terus Papinya nangis. Lucu banget" ucap Adinda.


"Lucu apaan Din, kamu ini suka banget ngetawain Papi" kesal Farhan.


"Papi kan jarang ketawa setelah kenal Dinda aja Papi jadi suka ketawa" ucap Adinda membuat senyum Farhan terbit. Apa yang dikatakan Adinda memang benar, dulu Farhan terlalu serius dan jarang tersenyum.


Mobil memaski kawasan kediaman Candrma, lima orang Satpam membuka garasi dan juga lima orang bodyguard yang mengikuti mereka dengan mobil yang lain juga segera turun dari mobilnya dan mengeluarkan kursi roda Farhan.


"Dua orang maid dan suster yang merawat Farhan menyambut mereka. Felisa digendong pengasuhnya dan ia segera membawa Felisa untuk mengganti pakaiannya dan menemani Felisa tidur dikamarnya.


"Papi langsung tidur ya Pi setelah minum obat!" ucap Adinda.


"Iya Dinda" ucap Farhan membuat Raka tersenyum.


Adinda sering berdebat dengan Papinya tapi Papinya terlihat senang karena apa yang diperdebatkan mereka biasanya mengenai Farhan yang melanggar makanan yang tidak diperbolehkan Dokter untuk memakannya. Farhan yang duduk dikursi roda dan ia segera dibawa suster menuju kamarnya untuk beristirahat.


Raka memegang tangan Adinda dan ingin mengajaknya melangkahkan kakinya menuju kamar mereka. Namun Adinda menahan langkah kakinya. "Dinda lapar Kak!" ucap Adinda.


"Mau makan apa?" tanya Raka.


"Pempek kapal selam" ucap Adinda membuat Raka melototkan matanya.


"Buatin!" pinta Dinda.


"Jangan ngerjain Kakak, Dinda!" ucap Raka.


"Siapa juga yang mau ngerjain Kakak, kalau nggak mau ya nggak apa-apa!" ucap Adinda melangkahkan kakinya menuju kamar mereka diikuti Raka dari belakang.


"Besok aja ya bahannya nggak ada!" ucap Raka.


"Nggak usah turutin apa maunya Dinda. Cat rambut aja nggak mau, buatin pempek nggak mau juga. Dinda nggak mau lagi minta apapun sama Kakak. Dinda bisa sendiri nyiampin apa yang Dinda mau!" ucap Adinda.


"Oke" ucap Raka datar membuat Adinda membuka mulutnya.


Raka membuatnya sangat kesal karena Raka dengan mudahnya menyetujui ucapannya pada hal itu semua adalah keluhannya dan wujud dari kemarahannya. Tapi sepertinya Raka yang tidak peka merasa ucapan Adinda itu bukanlah masalah besar hingga Raka menyetujui keinginannya itu.


Adinda melangkahkan kakinya dan duduk di kursi. Ia mengambil kapas dan membubuhkan remover diatasnya lalu menyapukan kapas itu untuk menghapus makeupnya. Adinda saat ini lebih memilih mengacuhkan Raka. Adinda mengambil gaun tidurnya dan memakainya didepan Raka yang saat ini sedang duduk disofa menatapnya. Adinda membaringkan tubuhnya diatas ranjang membuat Raka berdiri dan keluar dari kamar mereka.


Gimana mau manja-manja sama suami. Ini malah dicuekin, mau ini itu aja nggak dikabuli. Lagi hamil gini kan harusnya diperhatikan.


Adinda menatap langit-langit kamarnya, Ia rasanya ingin pulang ke Rumah orang tuanya tapi sayangnnya saat ini Rumah orang tuanya sedang dibangun oleh Guna. Kalau ia bersama Mamanya pasti Mamanya akan segera membuatkan pempek kapal selam yang ia sukai itu.


Beberapa menit kemudian pintu kamar kembali terbuka membuat Adinda melihat Raka yang sedang membawa nampan segelas air susu, segelas air putih dan juga sepiring pempek kapal selam. Adinda sengaja segera memejamkan matanya berpura-pura tidur membuat Raka menaikan satu alisnya.


"Nggak usah pura-pura tidur dan ngambek kayak anak kecil!" ucap Raka membuat Adinda membuka matanya dan menatap Raka yang wajahnya saat ini sangat dekat dengannya.


"Siapa yang kayak anak kecil?" tanya Adinda menatap Raka dengan kesal.


Rake menarik tubuh Adinda dengan pelan dan mendudukanya. Raka mengambil piring yang berisi pempek kapal selam dan meletakkannya dipangkuan Adinda "Ayo makan!" ucap Raka.


"Aku maunya buatan kamu!" ucap Adinda.


Raka menjetikkan dahi Adinda dengan lembut "Saya itu sangat mengenal kamu yang suka ngerjain orang Dinda. Makan ini saja ya! saya sudah tanya sama Mama Ratna pempek kesukaan kamu ini dimana belinya. Saya langsung pesan dan minta diantar dengan cepat biar masih panas!" ucap Raka.


Adinda menyebikkan bibirnya namun ia tidak bisa mengendalikan nasfsu makannya setelah melihat pempek kapan selam yang ada dihadapannya. Ia segera memakan pempek itu dengan lahap membuat Raka tersenyum. Adinda kesal karena sangat sulit untuknya membuat Raka menuruti keinginannya. Adinda tidak tahu jika Raka pun saat ini juga mengalami sesuatu yang aneh karena ia tiba-tiba sangat suka memakan rujak bahkan ia menjadi doyan buahan. Raka tidak ingin Adinda mengetahuinnya karena gengsinya yang setinggi langit. Salah seorang karyawannya mengatakan, jika suami ikut menyukai makanan yang terbilang aneh dan bukan kebiasaannya untuk memakannya ketika istrinya sedang hamil, berarti si suami sangat mencintai istrinya melebihi cinta istrinya.


Setelah menghabiskan makanannya dan meminum susu yang diberikan Raka, Adinda segera membaringkan tubuhnya diranjang. Saat ini ia sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa membuat Raka mengikuti keinginannya merubah warna rambutnya menjadi warna abu-abu.


Kak Raka lebih keras kepala dibandingkan Kak Guna.


"Kalau Rifki yang Dinda minta rambutnya dicat abu-abu pasti dia mau!" ucap Adinda sengaja mengeraskan suaranya membuat Raka mengeraskan rahangnnya sambil menatap Adinda dengan tatapan kesal.


tbc...


Vivian dan Gemal sudah aku update dilapaknya. Ini novel tersendiri dan alurnya juga lambat. Judulnya : Mr. Arogan suamiku


klik profilku yaitu foto gambar puputhamzah nanti muncul beranda novel-novelku atau cari aja dipencarian novel dan ketik judul Mr. Arogan suamiku.