
Bagas menatap Raka dengan kesal, baru kali ini ia dipermainkan seorang anak muda. Apalagi anak muda itu akan menjadi menantunya. "Kau bisa mengatakannya jika kau ingin segera menikahi Adinda tanpa harus melakukan kebohongan seperti ini!" ucap Bagas.
Adinda memukul lengan Raka sambil menahan air matanya karena kesal bercampur haru dengan tingkah Raka saat ini. "Waktu Om bersihkeras ingin saya menunggu Adinda hingga Adinda menyelesaikan S2nya. Saya sudah menawarkan pernikahan tapi Om menolak karena mengatakan butuh waktu untuk Om percaya jika saya benar-benar menginginkan Adinda bukan hanya sekedar dari desakan Papi saya. Saya hanya tidak ingin berpacaran karena sebelumnya saya memang tidak pernah berdekatan dengan wanita kecuali Vivian. Pacaran lama tidak ada gunaya Om karena akan memperbayak dosa saja. Lagian umur saya Dan Adinda sudah cukup dewasa untuk menikah" ucap Raka.
"Om tidak pernah berdekatan dengan wanita? Bohong, Om punya pacar waktu SMA" ucap Adinda.
"Itu pacaran monyet" ucap Raka membuat Adinda dan Alfa tertawa.
"Cinta monyet Om hahaha" ucap Adinda.
"Iya itu maksud saya. Saya hampir kebablasan sama Dinda Om, kalau Om mendengar nasehat dari ustad pasti mereka juga menyarankan Om untuk segera menikahkan saya dengan Adinda!" ucap Raka.
"Memang kamu sudah meminta sara ustad?" tanya Bagas.
"Belum Om, karena saya belum perlu meminta saran ustad kan saya sudah punya tujuan yang baik dan jelas Om karena gaya pacaran saya dan Dinda udah nggak sehat lagi makanya saya mau pernikahan kita dipercepat!" ucap Raka.
"Astagfirullah" ucap Bagas menepuk jidatnya membuat Adinda menyebikkan bibirnya menatap sang Papa.
"Sehat kok Pa, Dinda nggak ngapa-ngapain sama Om" ucap Adinda.
"Dianya Dinda yang nggak sehat!" teriak Bagas membuat Alfa dan Raka tertawa.
"Yaudah, saya setuju jadi nikahnya nggak usah menunggu terlalu lama, dua bulan setelah resepsi pernikahan Alfa!" ucap Bagas.
"Iya Om" ucap Raka.
"Om, saya Papa mertua kamu Raka. Tadi kamu panggil saya Papa dan sekarang Om besok kamu panggil saya Kakak? kayak kamu manggil Aditya?" singgung Bagas menatap Raka dengan sinis. "Raka sini kamu!" ucap Bagas meminta Raka mendekatinya. Raka mendekati calon mertuanya itu dan Bugh... pipi Raka terkena pukulan membuat Adinda menjerit.
"Papa... jangan!" teriak Adinda menatap Papanya dengan kesal. Air mata menetes dipipi Adinda. "Papa jahat banget wajah Om kesayangan Dinda jadi kayak gini! kalau enam hari lagi nggak sembuh gimana Dinda bisa pamer ke sanak keluarga saat pesta resepsinya Kak Alfa hiks...hiks...".
"Itu biar imbang Dinda, satu pukulan Papa satu pukulan Alfa. Bocah licik ini udah berani ngelawan Papa!" ucap Bagas.
"Makasi Papa mertua!" ucap Raka tersenyum tanpa ada rasa penyesalan dengan apa yang ia lakukan saat ini.
"Dinda obatin sana calon suami kamu yang terlalu pintar ini!" kesal Bagas.
"Suami? kalian belum menikah Adinda, dia masih calon... ingat ya calon!" ucap Bagas.
Raka menggerakan pipinya dan tak tanggung-tanggung calon kakak ipar dan calon mertuanya ini memukul wajahnya dengan sangat keras. "Om ayo kekamar Dinda!" ucap Adinda.
"Ngapain ke kamar mau mesum lagi kalian? itu di ruang tv saja!" ucap Alfa tak kalah galak dari Bagas.
"Iya" ucap Adinda.
Raka menahan tawanya, baru kali ini ia mempermalukan dirinya sendiri, hanya untuk mengalahkan Bagas yang bersihkeras menuda keinginnanya untuk mempersunting Adinda.
Raka keluar dari ruangan kerja Bagas bersama Adinda. Guna menahan tawanya melihat kondisi wajah Raka. Ternyata Bagas dan Alfa memukul wajah Raka dengan sangat keras. Untung saja waktu menikahi Ayunda Alfa tidak ada. Jika tidak, ia bisa saja dipukul Alfa jika karena kejadian saat itu yang membuatnya harus segera menikahi Ayunda.
Adinda melangkahkan kakinya menuju lantai dua bersama Raka dan ia mengajak Raka untuk duduk diatas sofa. Adinda mengambil kotak obat dan ia segera mengobati wajah Raka. Adinda meneteskan air matanya tanpa sadar membuat Raka menghapusnya dengan jemarinya.
"Om kenapa nekat gini, pada hal rencananya Dinda mau bilang ke Papa kalau Dinda mau pernikahan Dinda dan Om dipercepat hiks...hiks... malam tadi Dinda mimpi kita nggak jadi nikah karena Om memilih Luna hiks...hiks... " tangis Adinda.
"Saya kan maunya nikah sama kamu bukan Luna. Jadi kamu nggak usah khawatir!" ucap Raka.
Tidak ada ringisan kesakitan yang Raka tunjukan agar Adinda tidak kembali khawatir padanya. "Sakit ya Om?" tanya Adinda.
"Sedikit tapi saya senang!" ucap Raka mengelus pipi Adinda dengan lembuat.
Adinda meniupkan pipi Raka yang lebam membuat Alfa yang datang mendekati adegan mesrah itu segera melemparkan bantal kewajah Adinda. "Ternyata memang kamu juga yang mancing-mancing ya Dek. pantasan aja Raka kayak gini!" ucap Alfa.
Adinda memeluk Raka dan meletakan kepala Raka dibahunya seolah melindungi Raka dari Alfa. "Awas ya Kak berani pukul suami Dinda!" teriak Adinda.
"Belum nikah Din...dia belum jadi suami kamu masih Omnya Mbak!" ucap Ayunda yang sedang melangkahkan kakinya bersama Guna.
"Dia kakanda Dinda tahu!" ucap Dinda membuat Raka menghela napasnya dan memilih memejamkan matanya saat semua keluarganya menertawakan mereka.
tbc...
aku update lebih dari dua kalau rangking novel ini naik. Vote ya biar aku semangat!!!