CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Keseharian Dinda


Adinda saat ini sedang membaringkan tubuhnya disebelah Felisa. Sedangkan Raka juga terbaring sambil memeluk Adinda. Sudah lima hari Felisa tinggal bersama Karina dan juga Alfa. Felisa menangis meminta Raka untuk menjemputnya karena ia ingin pulang. Adinda menatap wajah cantik Felisa dan ia mengelus pipi Felisa dengan lembut.


Felisa memiliki kamarnya sendiri di Rumah Ini. Saat ini Adinda memang telah benar-benar pindah ke kediaman Candrama sedangkan Vivian dan Gemal untuk sementara kembali ke apartemen Gemal yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.


"Dia pintar banget Kak, tadi bilang kalau bobok nggak usah ditemanin Bunda, Feli bisa bobok sendiri, gitu katanya tadi sama Dinda" ucap Adinda.


"Di Panti dia memang mandiri Din, setelah tinggal sama kita dia manja karena takut kita pergi darinya. Tadi di mobil saat pulang kesini Feli nangis dan tanya kenapa kita nggak jemput dia kemarin. Dia suka tinggal sama Karina dan Alfa tapi dia nggak mau kalau jauh dari kita" ucap Raka.


Adinda mengecup dahi Felisa dengan lembut "Feli merasa dia hanya punya kita Kak, dia nggak mau tinggal lama-lama sama Mbak Karina karena takut kita melupakannya" ucap Adinda.


Raka mengeratkan pelukannya membuat Adinda tersenyum "Bagaimana bisa lupa kalau dia juga bagian dari kita dan selamanya akan tetap menjadi putri berharga kita" ucap Raka dan disetujui Adinda. "Malam ini kita tidur bertiga disini!" ucap Raka.


"Wah... tumben mau tidur bertiga biasanya minta jatah" goda Adinda membalik tubuhnya menghadap Raka dan mengelus dagu Raka. "Bosan?" tanya Adinda.


"Nggak akan pernah bosan, tapi hari ini saya kasihan sama kamu dan tidak ingin kamu kelelahan" ucap Raka.


"Tumben Kak mikirin Dinda sampai segitunya" ucap Adinda.


"Tidur Dinda!" pinta Raka.


"Iya" ucap Adinda mencoba memejamkan matanya namun ia merasakan Felisa memeluknya dari belakang membuat Adinda kembali membuka matanya karena kaki mungil itu meletakan kakinya di pinggangnya. "Kak, kamu mirip sama Feli kalau bobok" ucap Adinda membuat Raka membuka matanya dan melihat ke arah Felisa.


Raka melepaskan pelukan Adinda, kemudian mengangkat tubuh Felisa dan memindahkannya ke tengah. Saat ini Felisa tidur ditengah Raka dan Adinda. "Biar Adil kalau dia mau peluk Bunda atau Ayahnya" ucap Raka membuat Adinda tersenyum.


"Kalau dia gede nanti pasti Ayahnya bakalan overproktetif banget sama dia" ucap Adinda.


"Iya nanti juga ada adik laki-lakinya yang bakal jagain dia juga!" ucap Raka dengan jahil menyentuh perut Adinda membuat Adinda memukul tangan Raka.


"Jahil banget tangannya, Dinda kan belum hamil" ucap Adinda.


"Kayaknya bentar lagi hamil Din!" ucap Raka kembali mengelus perut Adinda membuat Adinda tersenyum dan membiarkan tangan besar Raka mengelus perutnya seolah ia benar-benar sedang hamil saat ini.


Adinda berulang kali membuka mulutnya dengan besar karena mengantuk. ia kemudian memejamkan matanya dan ikut terlelap bersama Felisa. Raka tersenyum dan mengecup kening Felisa dan juga kening Adinda. Dua perempuan yang sangat penting dalam hidupnya dan ia berjanji akan berusaha untuk membahagiakan keduanya. Kehadiran keduanya melengkapi dunia Raka yang dulunya hanya tentang dirinya sendiri dan kehidupan sepi yang ia jalani.


Subuh pukul lima lewat Adinda membuka matanya dan melihat kesamping mencari keberadaan Raka namun suaminya itu sepertinya telah pergi ke masjid. Adinda menyelimuti Felisa dan segera menuju kamarnya bersama Raka untuk mandi dan sholat. Setelah itu Adinda menuju ke lantai dasar untuk membantu maid membuatkan sarapan.


Statusnya menjadi Nyonya Raka Candrama membuatnya merubah tingkah lakunya yang dulu sangat susah dibangunkan dan malas mandi pagi menjadi berbanding terbalik. Dinda setiap pagi bangun pagi, mandi pagi dan menyiapkan sarapan untuk keluargannya.


Semua maid tersenyum melihat kedatangan Adinda karena nyonya majikan mereka yang sekarang, sangat baik kepada mereka dan menganggap mereka seperti keluarga. "Masak apa ya kita hari ini?" tanya Adinda.


"Nyonya pengen makan apa?" tanya salah satu dari mereka.


"Panggil nama aja, canggung banget mbak dipanggil Nyonya" jujur Adinda.


"Udah kebiasaan gitu Nyonya, Nona Vivian juga kita panggil Nona kok dari kecil walau sama seperti Nyonya Nona Vivian nggak mau dipanggil Nona!" ucapnya.


"Jangan naksir ya Tin, tahu kan nasib pelakor gimana? " Ancam Dinda sengaja menggoda Tina.


"Ampun Nyah...ampun!" ucap Tina membuat mereka semua tertawa.


"Nyonya tuan biasanya suka omelet Nyah" ucap Ijah maid senior di rumah ini.


"Iya Bi, biar saya yang buat, hmmm... jus buat Papi jangan lupa ya tanpa gula!" ucap Adinda.


"Siap bos cantik" ucap mereka.


Adinda memasak dan setelah selesai ia menatanya di meja makan. Adinda melihat suster telah membawa Farhan keluar dari kamarnya, Adinda segera mendekat dan mencium tangan Farhan sebagai ritual paginya kepada mertuanya.


"Asslamualikum Pi, selamat pagi" ucap Adinda membuat Farhan tersenyum. Farhan senang karena ia tidak salah memilih Adinda sebagai menantunya.


"Raka mana?" tanya Farhan.


Adinda menujuk Raka yang ternyata baru saja datang bersama Felisa dan menuju kolam renang. "Itu Pi!" ucap Adinda.


"Kamu nggak mau berenang juga?" goda Farhan.


"Males Pi, soalnya Kak Raka sering ngejekin Dinda yang susah banget diajarin renang" ucap Adinda membuat Farhan terkekeh. "Dinda kalah sama Feli, Feli udah bisa berenang lihat tu, pi!" ucap Adinda menujuk Felisa yang terlihat begitu lincah berenang.


"Waktu kamu diculik Brian, Felisa kan nangis terus karena kamu nggak pulang-pulang. Jadi Karina dan Vian yang jagain Feli tapi tetap aja masih nangis kalau ingat kamu. Akhirnya papi sewa guru renang buat ajarin Feli dan ditambah lagi Ayahnya yang ngajarin!" jelas Farhan.


"Iya Pi, Kak Raka nggak bolehin Dinda belajar renang sama orang lain padahal guru renangnya cewek Pi" jelas Adinda.


"Dia memang gitu Din, hanya sama Felisa dia mau berbagi kamu, sama Papi aja di pelit banget makanya kamu diajak pergi kemanapun dia pergi. Masa kita nggak pernah lagi nonton drama korea, kalau nonton sama Vian dia itu hanya diam aja nggak ketawa lucu kayak kamu dan Ayu" jelas Farhan.


"Iya Pi, Dinda kuliah aja ditungguin sama Dia dia ruang kerjanya di kampus" ucap Adinda.


"Papi lupa, kalian ada undangan dari Brian" ucap Farhan meminta suster mengambil undangan yang ada di ruang kerjanya


"Kak Raka mana mau datang" ucap Adinda.


"Pasti mau" ucap Farhan.


"Pi, Dinda sih nggak masalah datang ke kastil seram itu tapi kalau mereka bakalan berantem lagi lebih baik nggak usah Pi" ucap Adinda.


"Berantem kecil Dinda, asal Raka tidak mengusik hubungannya dengan Radina, Brian pasti akan menghormatinya" jelas Farhan.


tbc...