CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Permintaan konyol


Berkumpul bersama keluarga adalah suatu hal yang paling menyenangkan bagi Ayunda. Apalagi Oma Mawar dan Gia telah datang sedangkan Arjun dan kedua orang tuanya akan menyusul ketika ulang tahun Elin digelar nanti. Ayunda sedang memasak bersama Ratna Mamanya.


"Adinda ini kemana sih Yu? katanya mau datang sampai sekarang belum datang juga!" ucap Ratna karena ia akan meminta putri bungsunya itu untuk membuatkan bolu gulung dan beberapa kue lainnya.


"Dinda lagi mabuk Ma" ucap Ayunda segera menutup mulutnya karena lupa jika Adinda ingin memberikan kejutan nanti kepada semua keluarga. "Mabuk cinta sama si Om hehehe" kekeh Ayunda membuat Ratna ikut terkekeh.


"Kamu ini Yu, udah kayak Dinda aja sekarang hobi banget becandain orang tua" ucap Ratna mengingat tingkah nakal putri bungsunya itu.


Guna yang baru saja sampai mendekati Ayunda dan memeluk pinggang istrinya itu yang sedang mengaduk soup buatannya. "Mas apa-apaan nih...ada Mama disini nggak malu apa?" tanya Ayunda dengan wajah memerah karena malu membuat beberapa orang yang berada didapur tersenyum melihatnya.


"Kan hanya meluk dikit Yu" ucap Guna dan ia dengan cepat mengecup pipi Ayunda. cup... Guna melepaskan pelukannya dan segera mendekati Ratna lalu mencium punggung tangan Ratna.


"Kok pulang cepat Gun?" tanya Ratna.


"Jemput Gemal dihotel Ma, kalau nggak ketahuan udah pulang dari riau eh... dia enak-enakan di hotel sama Vian. Jadi tadi Guna kasih mobil biar dia yang menyambut Oma Mawar di Bandara" ucap Guna.


"Mas Guna gimana sih, Oma kan masih marah sama Vian Mas. Kasihan Vian nanti Mas" ucap Ayunda.


"Nggak apa-apa itu kan memang kelakuan Gemal yang memaksa Vian nikah sama dia" jelas Guna.


Tangisan Ghavin terdengar membuat Ayunda segera mencuci tangannya dan melepaskan celemek yang ia pakai. Ia mendekati Ghavin namun tatapan Ghavin mengarah pada Guna membuat Guna terkekeh. Apalagi Ghavin merentangkan tangannya kepada Guna "Wah ternyata anak Papa tahu kalau Papa yang lebih baik dari Mama" ucap Guna segera mengambil Ghavin dari gendongan pengasuhnya.


"Ma... jelas-jelas Ayu yang nyusuin dia tapi diannya lebih sayang sama Papanya" ucap Ayunda membuat Ratna tekekeh.


Ghavin terlihat tertawa saat Guna menggendongnya. "Vhin Mama kesal ya Vhin sama kamu" ucap Ayunda membuat Ghavin tertawa.


"Papa itu hanya tidak bisa nyusuin Ghavin aja, ya Vin" ucap Guna.


Guna mengajak Ghavin duduk di ruang tengah membuat Ayunda melangkahkan kakinya mendekati Guna dan Ghavin "Mas...Ayu bisa minta tolong nggak?" tanya Ayunda.


"Bisa apa aja yang kamu minta kecuali kamu minta punya pacar baru nggak akan Mas kabulin!" ucap Guna membuat Ayunda memukul lengan Guna dan tangis Ghavin pun terdengar. "Wah anak Papa nggak rela Mama pukul Papa ya nak?" ucap Guna membuat Ayunda memeluk lengan Guna dengan manja.


"Gini Mas sepertinya Melan terkena masalah" ucap Ayunda mengingat teman sekantornya dulu.


"Oo... dia sudah dipecat" ucap Guna.


Melan lagi hamil kasihan dia kalau dipecat.


"Kenapa?" tanya Ayunda sendu. Ia sangat mengenal Melan yang cerdas dan teman yang bisa diandalkan saat bekerja.


"Suaminya yang minta" ucap Guna membuat Ayunda tekejut kapan sahabatnya itu menikah.


"Sudah, tapi pernikahan mereka dihadari kerabat dekat saja" ucap Guna. Ayunda lega karena ternyata sahabatnya itu telah menikah.


Teriakan Adinda bergema dan membuat suasana tiba-tiba terdengar ramai. "Asslamualikum, Adinda datang" teriak Adinda. Raka saat ini terlihat sedang menggendong Felisa dan ia berjalan disamping Adinda.


"Wah kayaknya ada yang senang nih" goda Ayunda. "Udah diperiksa tadi?" tanya Ayunda.


"Udah Mbak" ucap Adinda tersenyum "Ghavin sini Bunda gendong!" ucap Adinda.


"Jangan Dinda!" ucap Raka dingin membuat Guna dan Ayunda tersenyum melihat kemarahan Raka.


"Dinda kan kangen Yah sama Ghavin" ucap Adinda.


"Kamu nggak boleh gendong siapapun!" ucap Raka. Membuat Adinda kesal karena suaminya terlihat berlebihan.


"Masa nggak boleh, ibu hamil aja tadi ada gendong anaknya sebesar Felisa" ucap Adinda. Tadi saat berada dirumah sakit memeriksakan kandungannya, Adinda melihat seorang ibu hamil yang juga sedang memeriksa kandungannya sedang menggendong anaknya.


"Suaminya aja yang tidak bertanggung jawab. Bisa-bisanya menyuruh istrinya yang hamil besar menggendong anaknya dan pergi periksa ke dokter hanya berdua dengan anaknya" ucap Raka.


Adinda duduk disamping Ayunda. "Mbak suami Dinda ini berlebihan banget Mbak, Dinda nggak boleh keluar rumah tanpa dia Mbak. Kuliah juga, Dinda diminta cuti kuliah" ucap Adinda.


"Turuti saja Din!" bisik Ayunda.


"Ayu jangan ajari Dinda yang macam-macam!" ucap Guna memarahi istrinya karena biasanya istrinya ini bisa saja menyarankan hal yang aneh agar membuat Raka kesal.


"Mana ada Pa, Ayu menasehati Dinda Pa. Ayu bilang agar Dinda turuti apa maunya si Om!" ucap Ayunda.


"Dinda sebenarnya pengen rambut suami Dinda di cat abu-abu Mbak" ucap Adinda membuat Raka membuka mulutnya. "Tapi Dinda udah tebak pasti dia nggak mau" ucap Adinda.


Raka melototkan matanya, ia menurunkan Felisa dari gendongannya "Feli main ditaman sama si mbak!" ucap Raka menujuk pengasuh Felisa yang sedang berada didapur membantu Ratna dan maid yang lain.


"Jangan aneh-aneh Dinda, saya ini dosen dan Ceo kamu jangan ngerjain suami kamu ya Din!" ucap Raka kesal. Perang antara Adinda dan Raka pun dimulai.


"Tuh kan Mbak, baru minta cat rambut aja suami Dinda udah kayak mau marahin Dinda gitu. Kalau Kak Guna diminta Mbak Ayu cat rambut warna kuning, Kak Guna mau?" tanya Adinda.


Guna tersenyum, tentu saja ia tidak akan mau mengikuti permintaan konyol istrinya itu selama ia bisa membujuk istrinya itu dengan keinginan yang lain. Ayunda bisa mengerti tapi Adinda yang manja pasti akan membuat Raka kesulitan membujuknya. Karena sepertinya akan sangat menyenangkan melihat raut wajah kesal Raka, membuat Guna menganggukkan kepalanya.


"Kalau hanya cat rambut, itu sih gampang pasti Kakak bakalan ikutin maunya istri Kakak!" ucap Guna membuat Raka menatap tajam Guna.


tbc...