CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Setuju atau tidak?


Saat ini Adinda sedang melamun didapur sambil mengupas bawang putih dan bawang merah dengan seorang pembantu dan juga Ayunda. Ayunda meneteskan air matanya disamping Adinda karena matanya terasa perih saat mengiris bawang merah.


"Non Ayu, biar Mbok saja yang potong bawangnya!" ucap Mbok Jumi.


"Tanggung Mbok, dikit lagi selesai hiks...perih banget" ucap Ayunda.


Adinda menatap sekilas Ayunda dan kemudian kembali mengupas bawang putih. Ayunda yang agak aneh dengan sikap adiknya sejak kejadian tadi sore, membuatnya kesal karena penasaran. "Dek kamu nggak kerasukan hantu air gara-gara tenggelam tadi kan ya?" goda Ayunda.


"Apa-apaan sih mbak" kesal Adinda.


Vivian mendekati mereka dan mengambil beberapa saos dari dalam lemari es dan meletakannya diatas meja. "Jadi Mbak buat sambal merconnya?" tanya Vivian sambil. menuangkan saos kedalam mangkok.


"Jading dong, makanan boleh agak kebaratan-baratan, tapi rasa lidah gue masih suka makanan khas Indonesia saus barbeque tanpas sambel mana enak" ucap Ayunda.


"Dinda" panggil Ayunda.


Adinda saat ini sedang sibuk dengan pemikirannya yang memikirkan pelukannya bersama Raka. pelukan yang membuatnya tanpa sadar tertidur dipelukan Raka karena merasa sangat nyaman.


Ternyata meluk Om Raka adem banget ya....


"Dinda..." panggil Ayunda lagi.


Vivian tertawa melihat Adinda dan Ayunda, ia kemudian menarik pipi Adinda membuat Adinda kaget. "Vian jahil banget!" teriak Adinda saat melihat pelaku yang menyakiti pipinya. ia memegang pipinya yang sakit dan menatap Vivian dengan kesal.


"Lo dipanggilin Mbak Ayu Din!" ucap Vivian. Adinda menolehkan kepalanya pada makhluk cantik yang saat ini melototkan matanya.


"Ada apa Nyi loro?" tanya Adinda terseyum manis membuat Ayunda kesal.


"Kamu kenapa melamun kayak gitu? mikirin apa kamu? awas ya mikirin yang jorok!" ucap Ayunda.


"Wah... Mbak jangan asal ngomong, negeselin banget sih!" ucap Adinda kesal.


Vivian mengeluarkan daging sapi, daging ayam, dan beberapa makanan yang dibakar lainya dari dalam kulkas. Sebagian daging telah selesai dibakar Gemal dan Guna "Kakek, Mami dan Papi baru saja datang. Om Bagas, Tante Ratna dan Kak Alfa juga udah datang" jelas Vivian.


"Sini biar Dinda yang ngulek cabenya, Mbak dan Vivian kesana aja. Mbok Jumi bantuin aku masak tomyam untuk Kakek dan numis cabe merconya ya mbok!" ucap Adinda.


"Iya non" ucap Mbok Jumi.


Tadi pagi Ayunda memang membuat Tomyam tapi belum sempat Farhan memakannya, sepanci tomyam telah habis dimakan Gemal. "Masak yang enak ya adikku dan jangan melamun!" ucap Ayunda.


"Kita sesana ya Din!" pamit Vivian.


"Iya, bilang sama Gemal jangan rakus itu daging untuk Dinda disisakan jangan dimakan sendiri!" ucap Adinda. "Tapi nggak usah Vian, Dinda hampir lupa kalau lo mana berani marahin suami lo yang sok cakep itu!" ucap Adinda membuat Vivian hanya tersenyum.


Adinda dan Vivian kemudian menuju are kolam renang yang dijadikan tempat pesta barbeque keluarga mereka. Melihat kedatangan Adinda Guna segera mendekati istrinya itu dan mengajaknya duduk dimeja makan bersama yang lainnya. Malam ini cuaca sangat bersahabat, membuat semua keluarga terlihat sangat akrab dengan menceritakan beberapa hal yang menjadi topik pembicaraan mereka. Termasuk mengenai rencana pernikahan Alfa yang akan dipercepat.


Setengah jam kemudian Adinda membawa sepanci Tomyam dengan pelan menuju tempat berkumpulnya para keluarganya. Raka melihat Adinda yang membawa panci ditangannya membuatnya segera mendekati Adinda dan tanpa kata mengambil alih panci berisi tomyam lalu membawanya keatas meja.


Adinda merasa kepanasan dan kelelahan membuat sosok Alfa merangkul adiknya bungsunya itu dengan sayang. "Sepertinya ada kabar baik ya dek?" tanya Alfa.


"Semua kabar yang nggak menyedihkan adalah kabar baik buat Dinda" ucap Adinda membuat Alfa terkekeh.


"Kak, apa kabar calon Kakak ipar Dinda?" tanya Adinda karena beberapa waktu yang lalu calon Kakak iparnya itu tertimpa musibah.


"Karin sedang masa pemuliahan" ucap Alfa membuat Adinda menghela napasnya.


"Kasihan Mbak Karin" ucap Adinda "Kakak harus sering menghiburnya!".


"Iya hanya itu yang bisa Kakak lakukan untuk saat ini dek!" ucap Alfa.


Adinda kemudian duduk disamping kedua orang tuanya dan juga disamping Raka. Raka mengambil piring Adinda dan meletakan daging sapi panggang kesukaan Adinda lalu memberikannya kepada Adinda. Farhan tersenyum melihat interaksi antara Adinda dan juga Ayunda. Apalagi saat ini Vivian juga terlihat lebih ceria dari pada biasanya.


"Kakek senang sekali hari ini" ucap Farhan tersenyum melihat mereka semua.


Untung saja Ayunda, Adinda, Gemal, Vivian, Guna dan Raka sepakat untuk merahasiakan kedatangan Lastri dan Luna sore tadi dan kejadian Adinda yang hampir tenggelam karena ceroboh. Mereka tidak ingin Farhan khawatir memikirkan hubungan Raka dan Lastri yang memburuk.


"Kalian semua adalah harta kakek yang paling berharga. Sebentar lagi Kakek bakalan punya cicit dan Kakek baru menyadari jika Kakek telah sangat-sangat tua saat ini!" jelas Farhan.


"Kakek masih mudah kok!" ucap Adinda.


"Umur boleh tua kek tapi Kakek tetap terlihat muda kok dengan pemikiran Kekek, buktinya semua restauran milik Kakek banyak anak muda yang suka datang" ucap Gemal membuat semuanya tertawa dan kembali kagum dengan Raja bisnis bernama Farhan Candrama.


"Kamu ini bisa aja Gemal hahaha" tawa Farhan.


"Dinda..." panggil Farhan membuat Adinda mengangkat wajahnya dan melihat kearah Farhan "Jangan panggil Kakek dong, pacarnya Raka masa panggil Papinya Raka Kakek!" ejek Farhan membuat Adinda tersenyum dengan wajah memerah karena malu.


Kita belum pacaran kok Kek...


batin Adinda.


"Jangan lama-lama pacarannya ntar Raka kalah sama Alfa yang sebentar lagi mau nikah" ucap Farhan membuat semuanya tertawa. "Alfa kapan kira-kira pestanya?" tanya Farhan


"Sekitar seminggu lagi kek" ucap Alfa.


"Alfa nggak pacaran Pi, itu yang jadi calonya Alfa sahabatnya sendiri" jelas Elin.


"Waw, Alfa Kakek setuju sama kamu. Pendekatan saat pacaran nanti bisa kebablasan bagusnya menikah lalu pacaran!" ucap Farhan.


"Kayak Ayu dan Mas Guna ya Kek?" ucap Ayunda.


"Iya kayak kalian, Gemal dan Vivian kan juga kayak gitu" jelas Farhan.


"Bagas dan Ratna apa kalian setuju dengan keinginan saya yang ingin melamar Adinda untuk Raka?" ucap Farhan membuat Adinda melototkan matanya dan menatap kedua orang tuannya itu dengan jantung berdetak dengan kencang. Ia kemudian menolehkan kepalanya melihat kearah Raka.


Raka membisikkan sesuatu di telinganya. "Sejauh apa kamu mencoba menghindari saya, saya akan tetap mencari cara untuk mewujudkan keinginan Papi saya!" bisik Raka. ia menyunggingkan senyumannya yang sialnya terlihat sangat tampan.


Gue harus gimana? astaga makin hari perasaan gue sama si Om kok kayak gini ya? Arghhh... ini gawat banget.


tbc...