CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Cinta apa nggak?


Raka melepaskan pelukannya dan melihat mata Adinda yang basah. Ia mengambil tisu dan membersihkan wajah Adinda. Raka mengelus pipi Adinda dengan lembut. Ia tidak suka melihat Adinda menangis, Ia lebih suka melihat Adinda yang selalu membuat keributan dengan keceriaannya. Raka memang aneh karena merasa senang melihat kekesalan Adinda bahkan ia selalu sengaja ingin mencari masalah dengan Adinda dan berdebat dengannya.


Adinda menatap Raka dengan tatapan sendu "Beri Dinda waktu Om, setidaknya Dinda ingin menikah dengan orang yang Dinda cintai!" ucap Adinda.


"Habiskan banyak waktu bersama saya, saya akan menunjukkan padamu bagaimana cara saya mencintai kamu!" ucap Raka.


Om Raka mencintai gue apa gue nggak salah dengar.


"Om mencintai Dinda?" tanya Dinda penasaran dan ingin mendengar jawaban Raka.


"Saya nggak bilang saya mencintai kamu, saya hanya tertarik sama kamu, karena kamu itu merepotkan saya dan tingkah aneh kamu itu membuat saya tertarik ingin masuk kedalam kehidupan kamu!" ucap Raka sambil menghidupkan mesin mobilnya. Adinda menatap Raka dengan sinis. Jelas-jelas tadi ia mendengar Raka mengatakan jika Raka akan menunjukan cara ia mencintai Adinda.


Ribet banget sih sama si Om jelas-jelas dia kayaknya suka sama gue... gue sih bukannya kepedan tapi lihat gelagat dia yang menghapus no ponsel teman-teman laki-laki gue dan menatang Rifki. itu semua menunjukkan jika dia cinta sama gue.


"Saya akan melepas kamu kalau ada laki-laki yang dalam waktu dekat ini, lebih baik dari saya tapi kalau saingan saya seperti Rifki, laki-laki itu bukan tandingan saya!" ucap Raka super percaya diri membuat rasa kagum Dinda hilang sudah.


*J*ujur kenapa sih, kalau Om cinta sama Dinda. Tapi kalau cinta harusnya kayak Kak Guna dan Mbak Dinda dong. Nggak beratem terus kayak gini.


"Om ngaku aja deh kalau cinta kan sama Dinda?" goda Dinda membuat Raka mengusap wajah Dinda dengan telapak tangannya.


"Jangan kepedean jadi cewek pantas aja diselingkuhin Rifki" ejek Raka membuat Adinda menyebikkan bibirnya dan mendorong tangan Raka agar menjauh dari wajahnya.


"Ngomong sama Om itu buat Dinda emosi aja!" kesal Adinda.


Dinda mengalihkan pandanganya dan memilih untuk membuka ponselnya. "Om udah ngehapus teman-teman Dinda. Hohoho Dinda bisa dengan mudah mendapatkan nomor mereka. Om harus tahu ya, Dinda ini populer dikampus, apalagi ditempat Dinda kerja dulu. Banyak yang suka sama Dinda tapi karena Dinda waktu itu sudah punya pacar jadi Dinda hanya temanan aja sama mereka. Sekarang Dinda sedang jomblo dan Dinda bakalan menyeleksi cowok-cowok yang mau jadi pacar Dinda!" ucap Dinda sambil melihat ekspresi Raka yang datar.


Melihat Raka yang diam saja membuat Adinda kesal. Adinda merasa dirinya begitu bodoh karena menganggap perlakuan Raka itu sebagai bentuk kecemburuan Raka tapi lagi-lagi ia salah karena semua yang dilakukan Raka hanya karena Papinya.


Mobil masuk kedalam perkarangan kediaman Candrama. Rumah yang bagaikan hotel mewah ini kelihatan begitu sepi. Harusnya rumah ini memiliki banyak penghuni. Dinda tidak bisa membayangakan jika ia harus hidup dirumah mewah ini sendirian. Raka memasukkan mobilnya ke dalam rumah yang merupakan tempat khusus berisi mobil-mobil milik Farhan.


Gila kakek kaya banget kenapa Kakek nggak cari pendamping waktu bercerai dari ibunya si Om. Kalau Kakek punya pasangan paling tidak ada yang ngurusin Kakek. Memang sih cari cinta sejati itu bagi para laki-laki kaya pasti sulit, karena selalu beranggapan jika perempuan yang mendekatinya itu hanya menginginkan hartanya.


Raka mengetuk dahi Adinda "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Raka.


"Nggak ada" bohong Adinda.


Mereka keluar dari mobil. Adinda mengikuti Raka dari belakang. Ia merindukan kolam renang yang berada ditengah-tengah rumah ini. "Om, Dinda mau berenang!" ucap Adinda.


"Kamu nggak bisa berenang jadi jangan sok mau berenang!" ucap Raka.


"Yaelah Om pelit amat sih, numpang aja nggak boleh. Kalau sama Kakek pasti Dinda diizinin!" ucap Adinda.


"Kamu harusnya bukan bilang pengen numpang berenang di kolam renang tapi numpang berendam!" ucap Raka membuat Adinda merasa terhina.


"Sombong banget si Om, Om harusnya ngajarin Dinda Om bukan ngejekin!" ucap Adinda.


"Memang kamu siapanya saya?" tanya Raka sambil. melanjutkan langkahnya menuju kamar Kakeknya.


"Keponakan Om" ucap Adinda.


"Saya nggak punya keponakan perempuan dan keponakan saya hanya Gemal dan Guna!" ucap Raka membuat Adinda kesal.


"Om bilang Dinda calon istri Om! baru minta diajari berenang aja nggak mau apalagi kalau Dinda minta berlian gede segede tinju!" ucap Adinda membuat Raka menatap Adinda sinis.


Dua orang maid membungkukkan tubuhnya melihat kedatangan Raka dan Adinda. keduanya menuju lantai dua. "Om capek kalau tinggal disini enakkan kalau ada lift. Om, kira-kira kalau malam di ruamah Om ini ada setannya nggak?" tanya Adinda.


"Waktu kamu nginap disini ada setannya apa nggak?" tanya Raka memperlambat langkahnya


"Nggak ada" ucap Adina.


"Kalau kamu mau ngelihat setan disini, kamu ikut saya kedalam kamar saya!" ucap Raka menunjuk kamarnya yang berada diujung koridor.


"Emang ada setan dikamar Om?" tanya Adinda penasaran. "Soalnya dikamar Dinda disana waktu Dinda nginap normal-normal aja Om" jelas Dinda.


"Setannya bakal muncul kalau kamu dan saya tidur dikamar saya!" ucap Raka membuat Adinda mencerna ucapan Raka dan ia menatap Raka dengan horor karena tahu maksud Raka.


"Mesum!" teriak Adinda memukul lengan Raka.


tbc...