
Adinda melihat kamar Raka yang terlihat rapi, kamar ini terlalu maskulin dan beberapa prabot berwarna hitam coklat dan putih mendominasi didalam kamar ini. Adinda bisa mencium aroma farfum yang sering dipakai Raka yang membuatnya tenang dan merasa nyaman saat memeluk Raka.
Raka duduk disofa dan mengamati pergerakan istrinya yang saat ini sedang melihat-lihat barang-barang miliknya. Tak ada satupun buku yang berada didalam kamar ini membuat Adinda bertanya-tanya kemana buku-buku yang Raka miliki.
"Bersih banget kamarnya, buku-bukunya mana?" tanya Adinda.
Raka berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya mendekati Adinda. "Kalau di Apartemen Kakak bukunya banyak" ucap Adinda mengingat Apartemen milik Raka yang pernah ia datangi. Adinda kemudian menolehkan kepalanya kearah Raka dan mata tajam Raka yang begitu mempesona itu menatapnya membuat wajahnya memerah karena memikirkan hal yang seharusnya tidak ia pikirkan. Adina yang malu tertangkap basah terpesona oleh Raka segera mengalihkan pandangannya.
"Bukunya sudah saya pindahkan ke ruangan lain karena saya ingin ketika saya berada dikamar ini bersama kamu, fokus saya hanya sama kamu!" bisik Raka ditelinga Adinda.
Raka memeluk tubuh ramping Adinda dan menghirup aroma tubuh Adinda yang sangat ia rindukan. Ia membalikan tubuh Adinda agar menghadap kearahnya dan ia menatap wajah Adinda dengan intens membuat napas keduanya memburu dan akhirnya Raka dengan cepat mendekatkan wajahnya agar tidak berjarak dan mencium bibir yang sangat ia rindukan dulu. Raka melakukannya dengan sedikit kasar membuat Adinda terkejut tapi ia membiarkan Raka menjelajahi bibirnya tanpa menolaknya. Adinda terbuai dan tanpa sadar ia mulai mencoba menggerakan bibirnya lalu membalas ciuman Raka membuat napas keduanya terengah-engah.
Raka mengangkat tubuh Adinda dan mengkaitan kedua kaki Adinda ke atas pinggangnya sambil tetap mencium Adinda dengan kecupan-kecupan kecil dileher jenjang yang putih itu. Raka membaringkan tubuh Adinda diatas ranjang, Raka membuka bajunya namun ketukan pintu membuat gerakannya terhenti dan Adinda tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..." tawa Adinda membuat Raka kesal dan ia segera melangkahkan kakinya menuju pintu. Raka membuka pintu dan sosok Gemal menunjukkan senyum manisnya sambil menatap Raka yang saat ini kesal.
"Ganggu ya?" goda Gemal.
"Kenapa?" tanya Raka sinis.
"Wah... ngamuk ya Om, jangan gitu dong Om ini masih sore udah mau kangen-kangenan aja hehehe..." ucap Gemal.
"Kamu mengganggu saya Gem, besok itu bisa dibicarakan!" kesal Raka.
"Marahkan Om, Gemal juga gitu Om. Om yang ngebantu Vivian sembunyi kemarin dari Gemal, jadi ini balasanya. Din... ada martabak manis didepan dibeliin mbak Karina!" teriak Gemal.
Adinda segera turun dari ranjang dan menekati mereka. Adinda mencium pipi Raka dan tersenyum manis. "Om kita tunda dulu warnya ya, malam nanti aja mabarnya!" ucap Adinda membuat Raka menatap Adinda dingin.
Adinda segera melangkahkan kakinya mengikuti Gemal. Gemal mengangkat kedua alisnya dan menurukan jempolnya ke bawah sengaja mengejek Raka. Pembalasan Gemal sungguh menyiksa Raka. Memang benar ia yang sengaja membuat orang suruhan Gemal saat mencari Vivian waktu itu melaporkan kabar palsu kepada Gemal jika mereka tidak menemukan Vivian. Padahal mereka telah mebemukan Vivian, Raka yang membantu Vivian bersembunyi karena atas permintaan Vivian yang mendatanginya sambil menangis dan meminta bantuannya.
tbc...
lanjutanya nanti ya hari ini aku update lagi satu part... jangan lupa jempol, komentar dan Vote ya!
kalau cerita Vivian dan Gemal novelnya sedang aku ketik. Disini lapaknya Guna dan Ayunda, Raka dan Adinda.
Baca juga Karina dan Alfa. kalian tinggal cari judulnya : Karina dan Alfa
Yang mau info cerita-cerita yang aku tulis dan nanti aku update novel terbaru infonya bisanya akan aku infokan di I-G ku ya : Puputhamzah24
terimakasi semuanya 🙏