CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Kekesalan Guna


"Jadi kamu kesini mau apa?" tanya Oma Mawar menatap Ayunda dengan dingin membuat Ayunda menelan ludahnya.


"Ayu ingin bertemu Oma" ucap Ayunda.


"Bertemu denganku? sekarang kita sudah bertemu dan kau boleh pergi!" usir Oma Mawar membuat Ayunda tidak begitu saja menyerah.


"Tidak hanya sekedar bertemu Oma, Ayu mendengar banyak cerita tentang Oma dari Mami Elin" ucap Ayunda.


"Jika kedatangnmu ingin membujukku agar menyetujui kamu menjadi istri Guna, saya rasa itu tidak perlu. Pendapatku tidak penting bagi Guna dan Gemal. Aku memang bukan Oma kandungnya jadi kehadiranku atau pendapatku tidak akan mengubah apa yang mereka inginkan!" ucap Oma Mawar menujukkan raut wajah kecewanya.


Guna menghela napasnya ia menatap Oma Mawar dengan sendu. Ia sangat menghormati Oma Mawar karena Omalah yang selama ini membesarkan Maminya. "Oma maaf jika Oma tidak menyetujui hubungan Ayunda dan Guna. Guna juga tidak akan menyetujui siapapun perempuan yang akan Oma jodohkan kepada Guna, karena bagi Guna hanya Ayunda yang Guna inginkan menjadi istri dan ibu dari anak-anak Guna!" ucap Guna.


"Apa kau mencintainya?" tanya Oma menatap Ayunda dengan sinis dan ia akhirnya mulai menerka perempuan disamping Guna ini yang memiliki wajah yang cantik dan penuh daya pikat. Wanita seperti ini sangat berbahaya jika yang ia inginkan hanyalah harta dan kekuasaan.


"Padahal Oma telah menyiapkan peremuan yang cocok denganmu meskipun akhirnya Elin yang menang. Elin selalu bilang kalau dia menjodohkanmu dengan wanita ini dan Oma yakin kamu tidak mencintai wanita ini!" ucap Oma Mawar membuat Ayunda benar-benar terluka saat ini. Ada rasa kesal, marah dan juga kecewa karena ucapan Oma Mawar benar-benar menyakitinya.


"Jika Guna tidak mencintai istri Guna, Ghavin tidak akan lahir Oma!" ucap Guna.


Oma Mawar tertawa terbahak-bahak "Hahaha... jika kamu Oma kurung dengan perempuan yang tidak memakai pakaian dan dia seorang perayu, apa kamu tidak akan tergoda Guna? kamu juga bisa mengahasilkan anak dari perempuan yang tidak kamu cintai!" ucap Oma Mawar.


Ayunda menahan emosinya dan kemudian tersenyum "Permisi Om toiletnya dimana?" tanya Ayunda membuat Guna menatap istrinya itu dengan datar namun ketika melihat senyum yang ditunjukan Ayunda padanya, Guna menyadari jika saat ini Ayunda sangat terluka. Sifat manja istrinya itu tak terlihat yang hanya terlihat saat ini senyum terluka yang membuat hatinya tak rela.


"Disana!" ucap Oma Mawar.


Ayunda melangkahkan kakinya diikuti pengasuh putranya. "Ayunda menghentikan langkahnya "Mbak lihat Ghavin aja disana sama Omnya didepan, Ayu ke toilet sendiri aja!" ucap Ayunda.


"Baik Nyonya" ucapnya membuat Ayunda menghela napasnya karena pengasuh bayinya tetap memanggilnya dengan nyonya terkadang ibu, kendati berulang kali ia meminta mereka memanggil namanya saja namun selalu saja terulang mereka akan memanggilnya dengan Nyonya atau ibu.


Ayunda masuk kedalam toilet dan menatap wajahnya dicermin, ia kemudian menteskan air matanya tanpas suara mengingat ucapan Oma Mawar yang keterlaluan padanya. Ia yakin jika suaminya itu mencintainya dan bukan apa yang seperti Oma Mawar katakan. Ayunda mencuci mukanya dan kemudian merapikan pakaiannya. Ayunda memilih untuk menghirup udara segar dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah ini tanpa sepengetahuan Guna yang saat ini sedang berbincang dengan Oma Mawar.


"Lebih baik aku menenangkan diri dulu dari pada nanti emosi dan akhirnya menjawab ucapan Oma" ucap Ayunda.


Ayunda melihat beberapa pelayan tersenyum ramah padanya membuat juga menujukkan senyumnya pada mereka. "Pelayan di Rumah ini ramah-ramah tidak seperti pemilik rumah" gerutu Ayunda.


Ayunda melanjutkan langkahnya dan melihat kebun teh yang sangat luas dan indah dipandang mata. Ia merentangkan tangannya kerena udara sore ternyata juga sangat sejuk. Sebuah mobil Pajero sport lewat membuat Ayunda menatap kearah mobil itu namun tiba-tiba mobil itu berhenti lalu mundur mendekatinya. Ayunda yang memiliki pengalaman buruk karena pernah diculik merasa waspada dan bersiap untuk lari can kembali masuk kedalam rumah.


"Ayu" panggilnya membuat Ayunda mengerutkan dahinya saat melihat sosok tampan dan gagah itu turun dari mobilnya dan tersenyum padanya.


"Iya Yu" ucapnya tersenyum dan mendekati Ayunda. Ayunda tersenyum senang dan menujukkan semua gigi putihnya itu lalu meninju lengan Kalandra.


"Tambah ganteng aja Kala" ucap Ayunda.


"Kakak Yu, aku kan lebih tua dari kamu!" ucap Kalandra.


"Tua setahun doang, udah lama banget nggak ketemu" ucap Ayunda tersenyum.


"Hmm... kurang lebih mungkin ada sepuluh tahu ya Yu!" ucap Kalandra.


Kalandra merupakan teman satu sekolah Ayunda dari SMP hingga SMA. Kalandra satu tahun diatas Ayunda dan dia adalah salah satu idola kaum hawa disekolahnya.


"Pak ketua OSIS kok bisa disini dulu kabarnya kuliah diluar negeri ya di Inggris kalau tidak salah" ucap Ayunda.


Ayunda ingat ia juga salah satu penggemar Kalandra karena wajah tampan Kalandra dan juga otak Kalandra yang cerdas. Namun hanya sekedar kagum karena kehidupan SMA Ayunda diisi dengan banyaknya laki-laki yang mengejarnya.


"Iya S1 di Inggris sampai S2 juga" ucap Kalandra.


"Nggak ngambil S3?" tanya Ayunda karena orang seperti Kalandra termasuk orang yang suka dengan belajar dan tantangan.


"Nggak aku pulang karena udah saatnya bantuin orang tua buat bisnis, terapin teorinya di perusahan sendiri" jelas Kalandra.


"Jadi kamu kesini juga dalam rangka usaha ya?" tanya Ayunda.


"Iya kebetulan sekarang aku lagi mengembangkan usaha pertenakan disini dan juga tertarik sama teh" ucap Kalandra. "Kamu makin cantik ya Yuk, dulu aja sudah cantik walau kurus sekarang berisi gini kamu tambah cantik" puji Kalandra.


"Hahaha dulu aja kalau Ayu rayu nggak mempan, minta ditraktir di kantin sama Bang Kalandra susah banget karena banyak singanya. Dulu kalau aku deketin Babang Kala aku bisa dimusuhi sama penggemar Bang kala" ucap Ayunda membuat keduanya tertawa.


"Hahaha..." tawa keduanya.


"Yu, udah nikah?" tanya Kalandra.


"Sudah dan saya suaminya!" ucap Guna menatap Kalandra dengan dingin membuat Ayunda terkejut melihat kedatangan Guna yang saat ini menunjukkan ekspresi dingin padanya.


tbc...