
"Mbak itu kok ada Kalandra? emang sekarang Mas Guna temenan sama dia?" tanya Gia melihat Guna dan Kalandra melangkahkan kakinya bersama memasuki lift khusus petinggi.
"Mereka kan udah damai Gi, Mas Guna..." teriak Ayunda membuat Guna menekan lift agar kembali terbuka. "Ayo Gia!" ajak Ayunda membuat Gia segera melangkahkn kakinya mengikuti Ayunda memasuki lift.
Ayunda tersenyum dan memeluk lengan Guna sedangkan Gia mencoba menghindari Kalandra dan ia memilih untuk berdiri dibelakang mereka. "Apa kabar Kalandra?" tanya Ayunda.
"Alhamdulilah sehat Yu," ucap Kalandra tersenyum ramah.
"Mas, janjian sama Kalandra?" tanya Ayunda.
"Kita berencana untuk bekerjasama," ucap Guna.
"Kak nggak ada pengusaha lain apa?" tanya Gia sinis membuat Kalandra menaikkan sebelah alisnya dan menatap Gia dengan tatapan datarnya.
"Banyak tapi hanya Kalandra yang mampu," ucap Guna membuat Gia menatap Kalandra dengan tatapan tak suka.
"Kenapa nggak Kak Brian atau Om Raka saja?" tanya Gia membuat Guna terkekeh.
"Hehehe... kalian ada masalah apa? terakhir waktu kita ke air terjun kalian terlihat akur," ucap Guna.
"Mana ada kita akur," kesal Gia
"Memang kenapa kalau saya yang diajak bekerja sama dengan Pak Guna? kamu masih bau kencur anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis," ucap Kalandra membuat Gia membuka mulutnya.
"Kalau saya bau kencur kenapa kamu bilang ke Oma kalau kamu setuju tunangan sama saya?" kesal Gia membuat Guna dan Adinda saling berpandangan lalu keduanya tersenyum melihat tingkah Kalandra dan Gia.
Ting... lift terbuka, mereka semua melangkahkan kakinya menuju ruangan Gunadarma. Gia menarik tangan kalandra agar Kalandra menghentikan langkahnya. "Jawab pertanyaan saya? apa maksud kamu mendekati Oma dan menyetujui permintaan Oma?" tanya Gia kesal. Guna dan Ayunda memilih meninggalkan keduanya dan masuk kedalam ruanganya.
"Jangan berbicara disini pendek!" ejek Kalandra membuat darah Gia mendidih dan ia ingin sekali menjambak rambut Kalandra. Namun sayangnya itu tidak bisa ia wujudkan karena tubuh Kalandra yang begitu tinggi dibandingkan dirinya membuatnya sulit untuk menggapai kepala Kalandra.
Kalandra mempercepat langkahnya masuk kedalam ruangan Guna. Ia duduk disofa dan kemudian Gia menyusul masuk kedalam ruangan ini. "Ayo jawab!" pinta Gia menatap Kalandra dengan tajam.
Guna dan Ayunda memilih untuk tidak ikut campur. Ayunda duduk dipangkuan Guna dan sambil mengamati Kalandra dan Gia. "Mas kita kayak nonton drama korea gitu" ucap Ayunda sambil menatap Kalandra dan Gia yang saat ini bertatapan sengit.
Guna meletakkan dagunya di bahu Ayunda. "Mas udah lama nggak nemenin kamu nonton drama korea," ucap Guna.
"Kamu nanti dimarahin Gemal," ucap Guna sambil mengelus rambut Ayunda dengan lembut.
"Gemal mana berani marahin Ayu, Ayu bilang ke Mas Guna pasti Mas marahin Gemal kan Mas? " tanya Ayunda.
"Tentu saja Mas akan marahin Gemal kalau ngebuat istri Mas ini marah!" ucap Guna membuat Ayunda tersenyum senang.
"Itu kamu yang masak?" tanya Guna
"Iya, Mas."
Tatapan keduanya sekarang kembali pada objek yang ada didepan mereka. Gia sedang menatap Kalandra dengan tajam sedangkan Kalandra menatap Gia dengan data. Tatapan Kalandra saat ini tidak menujukkan emosi apapun dan itu membuat Gia bertambah kesal.
"kamu nggak usah pergi ke rumah kita lagi!" ucap Gia.
"Saya ke rumah Oma dan bukan ke rumah kamu!" ucap Kalandra.
"Kamu bilang sama Oma kalau kamu punya pacar!" pinta Gia. Bagi Gia menikah dalam waktu dekat bukan prioritas utamanya saat ini.
"Kenapa bukan kamu saja yang bilang kalau kamu sudah punya pacar?" tanya Kalandra.
"Saya sudah bilang begitu dan juga kemarin saya mengenalkan teman laki-laki saya sama Oma, tapi tetap saja Oma maunya si Kalajengking" kesal Gia.
"Oma mengidolakan saya jadi cucu menantunya dan itu bukan salah saya. Saya tidak bisa mengatakan kata-kata kasar untuk menolak permintaannya. Oma sudah cukup tua dan menolaknya saat itu, bisa saja membuat kesehatannya memburuk!" jelas Kalandra.
"Menikah dengan Kalandra adalah yang terbaik dan Kak Guna setuju Gia!" ucap Guna membuat Gia mengalihkan pandangannya menatap Guna dengan kesal.
"Kak Guna kok ikut-ikutan kaya Oma. Kemarin Kak Arju, Papa dan Mama juga gitu," kesal Gia.
"Kala kamu setuju kalau Gia jadi istri kamu?" tanya Ayunda. Kalandra menaikan sudut bibirnya karena melihat Gia kesal dan itu membuatnya merasa bahagia.
"Setuju saja walau dia pendek, paling tidak dia sedikit imut. Dibawa ke acara bisnis juga nggak memalukan, walau wajahnya standar dan pas-pasan," ucap Kalandra membuat Gia kesal.
"Udah nggak usah ribut, yuk kita makan sama-sama!" ajak Ayunda. Ia turun dari pangkuan Guna dan melangkahkan kakinya mendekati Gia dan Kalandra sambil membuka makanan yang telah ia letakan diatas meja.