CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Alfa menyayangi kedua adiknya


saat ini keluarga besar Bagas sedang berkumpul makan malam. Ayunda dan Guna memutuskan untuk menginap di kediamanan Bagas orang tua Ayunda. mereka bercerita sambil menyatap makannanya. Guna tersenyum melihat keakraban keluarga Ayunda. andaikan keluarga besarnya bisa seakrab ini tentu saja Papanya dan juga keluarganya pasti akan sangat bahagia. Guna ingat bagaimana sosok Raka adik papanya. Andaikan dulu ia bisa membujuk sang Om untuk tidak pergi mungkin saat ini Papanya tidak akan terlihat sedih.


"Mas kok makannya sedikit?" tanya Ayunda. "Apa yang sedang Mas Guna pikirkan?" bisik Ayunda membuat Guna tersenyum dan segera menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Wah Ayu jadi sekarang udah punya pawang, dulu aja brutal banget sama Kakaknya sekarang tiba-tiba jadi lembut gini" ucap Alfa.


"Kalau sama suami dosa kali Kak kalau pecicilan. Ayu nggak brutal loh Kakak, Kakak ini ngarang aja. pantesn masih jomblo sampai sekarang" ejek Ayunda.


"Dia sombong Kak mentang-mentang punya suami" kesal Adinda.


"Kamu nikah juga dong, Kakak nggak masalah dilangkahi!" ucap Alfa.


"Dulu aja dia yang sombong, minta Ayu cepat-cepat nikah karena dia mau nikah e... nggak tahunya diputusin sama si Rifki hahaha" tawa Ayunda membuat Adinda ingin sekali memukul Ayunda karena kesal namun ia tidak berani melakukannya didepan kakak iparnya.


"Kak Alfa, lihat Mbak Ayu senang banget buat Dinda ingat lagi sama Rifki" rengek Adinda.


"Dikit-dikit ngadu, dari dulu gitu tuh!" ucap Ayunda.


Ratna menghela napasnya "Maaf ya nak Guna, ini kalau mereka ini ribut adu mulut memang bikin pusing jadi Nak Guna harap maklum!" pinta Ratna.


Guna tersenyum "Nggak apa-apa bu, lagian saya sudah terbiasa dengan sikap Ayu dan Dinda" jujur Guna. kedekatan Ayunda dan Dinda terkadang membuat keduanya seperti musuh bebuyutan tapi sebenarnya keduanya saling menyayangi.


Guna menyuapkan nasi miliknya kedalam mulut Ayunda membuat Ayunda menatap Guna dengan kesal. "Makan ya!" ucap Guna.


Alfa tersenyum melihat Gunadarma, ia tidak menyangka jika adiknya Ayunda akhinya benar-benar dijadikan menantu oleh Tante Elin tetangga mereka. apalagi sejak kecil Ayunda sangat disayangi Elin hingga Ayunda selalu menani Elin disaat Elin kesepian ditinggal kedua putranya yang memilih bersekolah dan bahkan kuliah di luar negeri.


"Loh Papa tidak diajak?" tanya Bagas yang sejak tadi hanya menjadi pengamat anak-anaknya.


"Ini urusan anak muda Pa!" ucap Alfa menatap Bagas dengan tatapan memohon.


"Berati Ayu ikut juga ya. kan Ayu pengen dengar cerita Kakak!" pinta Ayunda.


"Dinda juga pengen dengar!" pinta Dinda manja kepada Alfa kakak sulung mereka itu.


"Tidak bisa, ini urusan diantara para pria!" ucap Alfa menatap lurus kepada Guna.


"Baik Kak" ucap Guna sopan dan menyetujui keinginan Alfa.


setelah makan malam, Alfa mengajak Guna menuju teras belakang. keheningan malam membuat keduanya menatap suasana ini dengan tatapan bahagia. Alfa sangat menyukai suara jangkrik dan indahnya langit malam. keduanya duduk di kursi taman dan Alfa menatap lurus kedepan membuat Guna menyadari jika ada sesuatu yang ingin dikatakan Alfa.


"Saya hanya ingin menanyakan sesuatu padamu Guna. sebagai seorang Kakak sulung memiliki dua adik perempuan membuat saya harus waspada ketika adik saya ingin dimiliki kekasihya dalam artian terikat dengan sebuah pernikahan.


"Apa alasanmu menikahi Ayunda karena aku tahu dua tahun yang lalu kau tidak tertarik pada adikku saat kau pulang waktu itu" jelas Alfa. ia ingat bagaimana Guna berusaha mengalihkan pembicaraan ketika Elin memintanya menikah dengan Ayunda saat keluarganya berkunjung dihari raya kerumah ini.


"Aku tidak punya pilihan" ucap Guna


tbc...