
Adinda memegang degub jantungnya yang menggila akibat Raka menciumnya. lagi-lagi Raka menciumnya seenaknya. Adinda kesal namun ia bisa apa? Raka yang egois dan suka semena-mena memang sering membutnya saraf-sarafnya menegang hanya dengan tatapannya apalagi dengan ciumannya.
*G**ila kalau gini gue harus gimana...Bibir gue seenaknya aja diemut kalau gue cerita sama Kak Alfa pasti dia akan memarahi om tua kampret ini. Tapi gue nggak tega dia dimarahin Kakak gue...
Astaga gue sekarang kok jadi genit gini ngebayangin yang nggak-nggak sama dia*.
batin Adinda.
Adinda membalikkan tubuhnya dan kembali fokus dengan bolu buatannya. Raka si iblis berwujud laki-laki tampan yang memang sangat menggoda jiwa dan raganya. Dari semua laki-laki yang mendekatinya hanya Raka yang berbeda karena memiliki dua kepribadian yang mengesalkan tetapi juga sangat manis padanya. Adinda memasukkan adonan kedalam loyang yang telah diolesi margarin. Ia kemudian memasukkan loyang uang berisi adonan kedalam oven.
Kalau kuenya ini nggak mengembang ini semua karena RAKA.
Sekitar kurang lebih empat puluh menit Adinda yang memilih duduk sambil melamun akhirnya ia mendengar bunyi oven yang menandakan kuenya telah matang. Ia menghela napasnya dan segera mengeluarkan kue dari dalam oven. Untung saja kue yang dibuatnya mengembang dengan sempurna.
"Masak apa dek?" ucap Ayunda yang mendekatinya dengan perutnya yang telah membesar.
"Kue bolu Mbak" ucap Adinda membuat Ayunda mengembangkan senyumannya.
"Wah ini pasti enak" puji Ayunda. Ia segera mengambil pisau dan mengirisnya. Karena bolu masih terasa panas, Ayunda meniup-niupnya lalu memakannya.
"Gimana mbak rasanya?" tanya Adinda.
"Enak dek seperti biasa" puji Ayunda "Kenapa kamu lemes banget sih? tadi pas datang kamu ceria banget" ucap Ayunda.
"Perasaan Dinda sedang merana mbak" ucap Adinda membuat Ayunda tersenyum. Ia menepuk bahu adiknya itu dengan lembut.
"Cerita dong!" ucap Ayunda.
"Nggak, nanti kalau cerita sama Mbak ribet jadinya!" ucap Adinda membuat Ayunda tertawa.
"Hahaha... masa sih?" goda Ayunda menoel dagu Adinda membuat Adinda menepis tangan Ayunda.
"Kamu kalau jatuh cinta sama si Om bilang aja dek nggak usah sok-sokan nggak suka!" ucap Ayunda.
"Mbak nggak usah jadi dukun dan meraba-raba hati Dinda!" kesal Dinda.
"Mbak jadi mesum gini sih?" ucap Adinda menatap Ayunda dengan tatapan horornya.
"Jelaslah mesum lihat nih ada hasilnya!" ucap Ayunda mengelus perutnya yang membuncit.
"Susah memang kalau mendengar ucapan orang bucin" ucap Adinda.
"Kak Guna itu kalau udah gituan sama mbak wah... romantisnya loh Din nggak ada yang nandingin. Eh... ngomong-ngomong kamu udah kayak gini sama Om Raka?" tanya Ayunda menyatukan kedua ujung jari tangannya.
"Apaan sih mbak...?" kesal Adinda.
"Itu loh Din, kiss?" ucap Ayunda membuat Adinda kesal. "Kalau mau coba Mbak ingatkan sama kamu ya, kamu mesti nikah dulu!" ucap Ayunda.
Adinda memutar bola matanya "Mbak lupa ya? siapa yang suka kiss Kak Guna sebelum nikah? itu Mbak ya...Masa suka cium-cium Kak Guna sampai segitunya" jelas Adinda.
"Itu Mbak lagi mabok Dinda!" ucap Ayunda.
"Makanya Mbak jangan suka minum, kan gini jadinya, untung nggak kayak dilagu dangdut kesukaan Papa, mabok duda" ucap Adinda.
"Dasar mabok Om-Om lo dek!" ejek Ayunda.
"Om-om kayak Om Raka itu Om-om Hot tahu!" ucap Adinda. "Mbak potong-potong kuenya kasih ke Kakek dan Vivian ya. Dinda ngantuk bobok bentar satu jam setelah itu Dinda mau nonton ke bioskop!" ucap Adinda.
"Kamu mau nonton film apa Din?" tanya Ayunda.
"Film remaja yang lucu-lucuan!" ucap Adinda sambil melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Ia butuh tidur selama satu jam karena semalam ia membaca novel kesukaannya sampai jam tiga pagi.
Adinda menghentikan langkahnya saat berada didepan kamar Raka. Ia menahan tawanya saat ingat didalam kamar Raka ini terdapat setan mesum yaitu Raka. Adinda melanjutkan langkahnya menuju kamar yang sering ia tempati ketika ia menginap dirumah ini.
Adinda masuk kedalam kamarnya, ia kemudian membuka gorden kamarnya lalu segera menghidupkan ac dan kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Adinda benar-benar mengantuk dan akhirnya tidur terlelap.
Beberapa menit kemudian sosok laki-laki tampan yang baru saja membersihkan tubuhnya dan mandi karena ulah gadis nakal tadi masuk kedalam kamar gadis itu. Ia tersenyum setan saat melihat sang gadis telah terlelap diatas ranjang. Ia kemudian menaiki ranjang dan membaringkan tubuhnya disebelah sang gadis dan membalikan tubuh sang gadis agar menghadapnya. Ia kemudian mencium dahi sang gadis dengan lembut lalu menarik selimut sambil memeluk sang gadis dan ikut memejamkan matanya.
Laki itu adalah Raka, baginya apa yang dilakukan Adinda dengan membiarkan Riskan berkeliaran dirumah calon mertuanya itu membuatnya murka. Kemarahaanya itu membuatnya harus menghukum Adinda sesuai dengan keinginannya yaitu mencium bibir Adinda atau memeluk Adinda yang sedang terlelap seperti saat ini. Hanya Adinda yang dapat menenangkannya, apalagi saat ini Maminya kembali masuk kedalam hidupnya dan berusaha mendekatkan Luna padanya. Tak ada wanita yang ia inginkan berada disampingnya, kecuali perempuan yang sekarang sedang membuka mulutnya dan mengorok didalam pelukannya hingga membuat senyum dibibirnya teribit. Perempuan yang cantik ini tidak akan pernah bisa untuk ia abaikan. Seolah kehadirannya menjadi suatu kebiasaan yang membuatnya merasa tenang hanya dengan menatap wajahnya.