
"Mbak Dinda maaf... "
Mendengar ucapan maaf itu membuat rasa kesal Adinda menguap. Adinda tersenyum menatap mereka semua "Bencanda mbak, nggak apa-apa maaf ya kalau udah buat deg-degan. Kita kayak yang di drama-drama ya Mbak hehehe... " kekeh Adinda membuat wajah mereka yang terkejut ikut tersenyum melihat Adinda tersenyum.
"Mungkin banyak yang salah sangka sama saya karena sering nggak ngumpul sama karyawan lain. Sebenarnya saya mau juga sih ngumpul-ngumpul ngegosip sama Mbak sekalian. Tapi gitu Mbak Pak Raka kan sibuk dan saya mesti ngikutin dia. Nanti kalau saya dipecat kan susah Mbak cari kerja lagi!" ucap Adinda tersenyum ramah membuat mereka saling berbisik.
"Saya kira mbak Dinda sombong karena Mbak itu asistennya Pak Raka!" ucap karyawan yang merupakan sekretaris manager hotel.
"Nggak kok Mbak, Dinda aslinya hebo nggak sombong serius deh hehehe... soal gosip yang tadi memang tadi ada pertengkaran sedikit dibawah tapi udah selesai kok!" jelas Adinda.
"Kami minta maaf Mbak udah... hm... Mbak dengarkan tadi kita" ucap mereka ragu untuk menyampaikan apa yang mereka bicarakan tadi mengenai dirinya.
"Nggak apa-apa Mbak, mungkin saya juga gitu tak kenal maka tak sayang. Awalnya tadi mau marah juga dikatain tapi setelah dipikir-pikir wajar sih kalau saya jadi bawah gosip. Saya aja nggak pernah ngobrol sama Mbak-Mbak disini!" ucap Adinda.
"Mau buatin kopi untuk siapa Mbak Dinda?" tanya mereka.
"Untuk saya sendiri Mbak hehehe" kekeh Adinda. Ia terpaksa berbohong agar mereka semua tidak kembali berpikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya karena kopi ini sebenarnya untuk Raka Ceo mereka.
Gue nggak mau gosip tentang gue tambah menjadi-jadi. Sebenarnya sih bisa saja gue nggak memperdulikan gosip tapi kalau reputasi Om jelek kan kasihan sama si Om. Kalau reputasi gue sih nggak masalah jadi jelek karena gue hanya asisten tapi Om Raka punya wibawa dan gue nggak mau dia jadi bahan gosip orang-orang.
Ya ampun Dinda lo udah parah bucinya sama si Om. Kalau begini terus lo harus siap mengambil hati Maminya Om Raka. Kalau nggak lo bisa jadi menantu durhaka.
batin Adinda.
"Mbak Dinda kita sering loh pulang dari kantor pergi nonton!" ucap salah satu dari mereka yang bernama Bunga diname tagnya.
"Ikut dong!" ucap Adinda menatap mereka dengan tatapan penuh harap.
"Ini Si Indah ulang tahun katanya mau traktir kita nonton hari ini!" ucap Bunga membuat Indah tersenyum terpaksa karena sebenarnya ia masih tidak enak dengan Adinda karena membicarakannya.
"Boleh nggak Nda gue ikut?" tanya Adinda dengan tatapan memohon membuat Indah menganggukkan kepalanya.
Yes... gue bisa nonton hari ini. Si Om kalau mau ngambek, nggak apa-apa deh.
"Minta no hpnya dong!" pinta Adinda. Mereka salinh bertukar no ponsel membuat Adinda tersenyum senang. "Yes gue punya teman nongkrong yang baru!" ucap Adinda dan ia menjabat tangan mereka satu persatu membuat mereka semua tersenyum geli karena asisten Ceo yang mereka gosipkan ternyata orangnya tidak seburuk yang mereka pikirkan.
"Gue kerja dulu ya nanti kita chat oke!" ucap Adinda.
"Oke mbak" ucap mereka.
"Dinda aja nggak usah Mbak kayak gue lahir tujuh tahun lebih tua dari kalian hehehe" kekeh Adinda membuat mereka semua tersenyum
Adinda melangkahkan kakinya dengan riang dan ketika memasuki ruangan Raka senyumnya hilang karena Raka saat ini menatapnya dengan tajam.
"Berapa menit waktu yang kamu butuhkan untuk membuat secangkir kopi buat saya Dinda?" tanya Raka membuat Adinda menghela napasnya.
"Nggak ngehitung Pak, saya lupa ngitungin menitnya berapa" ucap Adinda.
"Setelah ini kamu nggak perlu ikut saya kekampus!" ucap Raka dingin.
"Baik Pak" ucap Adinda memilih untuk mengikuti ucapan Raka tanpa harus bertanya mengapa Raka memintanya untuk tidak pergi ke kampus bersamanya.
tbc...