CEO-Ku, Suamiku

CEO-Ku, Suamiku
Interograsi


Tio menatap kedua perempuan cantik ini dengan tatapan kesal. Sebagai seorang dosen yang mendidik para mahasiswanya dan cucu pemilik kampus, ia tidak menyangka jika akan ada perkelahihan antara dosen dan mahasiswa dijam perkuliahan.


"Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi?" tanya Tio menatap keduanya dengan tatapan tajam. "Ibu Luna kenapa Ibu bertengkar dengan dia?" tanya Tio menaikan kedua alisnya menunggu jawaban Luna. Sebagai seorang pendidik apa yang dilakukan Luna tadi menjadi contoh yang buruk bagi mahasiswanya.


"Maaf Pak Tio saya telah membuat keributan dikampus tapi saya sudah tidak tahan lagi dengan dia karena dia menghina saya!" ucap Luna membuat Adinda membuka mulutnya.


Mak lampir ini ternyata sangat hebat berakting. ckckck... harusnya dia lebih cocok jadi artis dibandingkan seorang dosen. Kapan gue ngehina dia...


"Saya tidak bisa menahan emosi saya Pak Tio karena ucapannya telah melukai harga diri saya! hiks...hiks... " tangis Luna membuat Adinda membuka mulutnya karena merasa tersudut.


"Harga diri ibu yang mana yang saya lukai? bukannya ibu meminta saya menjauhi tunangan saya? saya juga tidak sedikit pun melukai harga dirimu apalagi fisik ibu!" jelas Adinda karena jelas tidak ada luka sedikitpun dari tubuh Luna sedangkan dirinya tampak sangat mengenaskan dengan rambut yang acak-acakan, wajah merah bekas tamparan dan juga sudut bibir yang terluka.


"Kamu jangan seolah-olah menjadi korban disini!" Teriak Luna.


"Ya ampun ibu, saya ini memang korban dan saya nggak ingin ibu mefitnah saya. Sejujurnya badan saya sakit semua karena ibu mendorong saya hingga saya jatuh dan kemudian menampar saya lalu menjambak saya. kalau Pak Tio tidak percaya Pak Tio bisa menanyakan mahasiswa yang tadi melihat Bu Luna menganiyaya saya!" ucap Adinda menggigit bibirnya karena kesal.


Ketukan pintu membuat Tio mengalihkan pandangannya kearah pintu "Masuk!" ucap Tio.


Raka melangkahkan kakinya masuk dan melihat Adinda dan Luna dengan tatapan datar. "Duduk Pak Raka, ini ada-ada aja Bu Luna dan...ini siapa namanya?" tanya Tio menatap Adinda.


"Adinda Pak" ucap Adinda.


"Saya mantan anak S1 Pak sekarang lagi S2 disini. Saya asistenya Pak Raka!" ucap Adinda. "Saya juga masui ke kelas Pak Tio!" ucap Adinda membuat Tio menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja saya seperti sering melihat kamu!" ucap Tio.


Raka menatap kondisi Adinda yang mengenaskan membuatnya menghela napasnya. "Bisa dijelaskan Ibu Luna anda apakan asisten saya?" tanya Raka dingin.


Luna menatap Raka dengan tatapan menyedihkan membuat Adinda kesal melihatnya. "Dia melukai harga diri saya Pak Raka!" ucap Luna.


"Nggak dia bohong, Dinda nggak pernah buat masalah kalau buka orang lain yang duluan buat masalah sama Dinda" ucap Adinda kesal. Ingin sekali rasanya ia membalas semua perbuatan Luna tadi padanya namun ia berusaha bersabar sejak tadi.


"Coba jelaskan secara terperinci kenapa Ibu Luna merasa harga dirinya dilukai asisten saya?" tanya Raka.


Tio menatap rekan kerja itu dengan tatapan penasaran, ia kemudian mendekati Raka dan membisikkan sesuatu di telinga Raka. "Bro ini kayaknya permasalahan rumah tangga ya? lo hebat juga ya dikelilingi wanita cantik. lain kali bagi-bagi dong bro kenalan ceweknya. Gue juga nggak tahan lagi ini ngejomblo karena kembaran gue udah punya gandengan!" bisik Tio sengaja menggoda Raka.


Raka menghembuskan napasnya jika saja Tio ini bukan cucu pemilik kampus, ingin rasanya ia menyumpal mulut Tio dengan tisu. Tio bukan hanya seorang dosen, tapi ia juga pemilik beberapa restauran. Raka mengenal Tio saat keduanya sama-sama masuk dalam perkumpulan pengusaha muda dan Tio merekrut Raka agar ikut program beasiswa bersamanya saat itu. Raka ternyata lulus dan menjadi lulusan terbaik diangkatannya.


"Kalau lo boleh ambil yang itu yang ini milik saya!" ucap Raka.