
Adinda memilih untuk diam dan membiarkan Raka yang saat ini terlihat marah padanya. Raka semakin bersikap dingin dan memintanya untuk merekap data-data yang seharusnya dilakukan bagian keuangan termasuk memeriksa kembali laporan yang baru saja di perbaiki oleh berbagai devisi. Lelah tentu saja Adinda sangat lelah.
Raka tiba-tiba berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangannya, membuat Adinda menghembuskan napasnya melihat kepergian Raka. Adinda kemudian membaca pesan teman-teman kerjanya yang mengatakan jika mereka akan berkumpul jam lima sore di loby hotel.
Raka benar-benar pergi sendirian ke Kampus tanpa mengajak dirinya bahkan pesan yang di tulis Adinda pun sengaja tidak dibaca Raka.
Adinda :
Om marah sama Dinda? Om ternyata ambekan juga. Ya udah kalau marah.
Adinda menghela napasnya, sebenarnya ia ingin sekali mengabaikan Raka dan bersikap biasa-biasa saja tapi entah mengapa rasanya tidak enak diabaikan Raka. Adinda bersusha mengerjakan perkerjaannya tepat waktu agar ia bisa pergi bersama teman-teman barunya.
Saat ini jam menujukkan pukul lima sore dan pekerjaan Adinda telah selesai sejak tiga puluh menit yang lalu. Adinda membuka ponselnya dan kembali melihat pesan yang dikirimnya untuk Raka. Ternyata Raka tetap belum membaca pesan yang ia kirim membuat Adinda kesal.
*Oke Om kalau gitu, Dinda kesel sama Om. Dinda blokir nomor ponsel Om malam ini. Dinda mau fokus nonton dulu sama teman-teman Dinda.
Batin Dinda*.
Adinda segera memasukkan barang-barang milikinya kedalam tas dan ia bergegas menuju lobi hotel. Hotel ini sebenarnya memiliki beberapa cabang di beberapa wilayah yang ada di Indonesia dan saat ini Raka sedang mengusahakan untuk bekerjasama dengan pihak luar agar bisa membangun hotel di luar negeri.
Adinda memasuki lift dan menekan tombol menuju lobi hotel. Ting lift terbuka dan beberapa orang ikut masuk kedalam lift. Adinda tersenyum ramah kepada karyawan lainnya. pintu lift terbuka dan mereka semua keluar dari dalam lift termasuk Adinda. Adinda mendekati teman-teman barunya dan Bunga mengangkat tangannya saat melihat kedatangan Adinda.
"Ayo Din!" ucap Bunga.
"Kamu sering ke bioskop Din?" tanya Indah.
"Sering banget karena aku suka nonton jadinya kalau ada film baru aku nyempetin untuk nonton sama teman kerjaku dulu" jelas Adinda.
"Ayo buruan setelah nonton kita makan bareng ya!" ucap Indah.
"Wah kalau rezeki gini jangan ditolak, lo ikut. kita makan juga ya, Din!" pinta Bunga. Indah menatap Adinda dengan tatapan penuh harap.
"Oke" ucap Adinda membuat ketiganya segera menuju mobil milik Indah.
Sementara itu saat ini Raka menatap ponselnya dengan kesal. Entah mengapa mengetahui adik tirinya menyukai Adinda membuatnya murka kepada Adinda. Padahal Adinda tidak memiliki salah apapun ketika para laki-laki lain berdatangan menyukainya. Raka menatap foto dimana ia sedang memeluk Adinda yang sedang terlelap. Ingin rasanya melakukan sesuatu hal yang licik agar Adinda tidak bisa lagi menolaknya.
Tapi Raka menghela napasnya jika mengingat rumah tangga kedua orang tuanya yang hancur karena kedua orang tuanya yang tidak memiliki rasa cinta. Adinda adalah sosok wanita cantik yang benar-benar ingin ia miliki. Raka membuka pesan dari Adinda dan ia memutuskan untuk menghubungi ponsel Adinda. Raka kesal karena sepertinya Adinda memblokir nomor ponselnya. Ia segera mengambil ranselnya yang berisi buku dan juga laptop miliknya.
Raka membuka pintu ruangannya namun saat ia ingin mengunci pintu ruangannya seorang wanita memegang lengannya.
"Mas..." ucap Luna seolah tidak menyerah untuk mendekatinya membuat Raka menghembuskan napasnya.
ybc...