
Adinda segera berlari sambil menggendong Felisa masuk kedalam Rumah mertua Ayunda. Ia melihat semua keluarga telah berkumpul kecuali Alfa dan Karina yang telah tinggal di daerah tempat Alfa bertugas. Adinda menurunkan Felisa yang ingin meminta Ratna untuk menggendongnya. Adinda memeluk Ayunda dengan erat.
"Aduh kangen banget sama kamu Mbak hehehe.. Mbak jangan lupa cerita ya mbak tentang hehehe Kak Guna yang cemburu" bisik Adinda.
"Nanti kita cerita di kamar Mbak aja dilantai tiga!" ucap Ayunda melepaskan pelukannya.
Ada banyak hal yang ia ingin diceritakan Ayunda kepada Adinda dan juga Vivian. Ia sangat terkejut dan hampir tidak percaya jika Guna ternyata sangat mencintainya mengingat sikap Guna dulu padanya.
"Oke" ucap Adinda. "Oleh-oleh buat Dinda apa Mbak?" tanya Ayunda.
"Nggak ada Din, Mbak lupa? kalau mau teh ada banyak hehehe" kekeh Ayunda.
"Ngeselin banget sih Mbak sama Adik sendiri lupa" kesal Adinda.
"Kita beli aja ya oleh-olehnya nanti di Mall kapan-kapan ya!" ucap Ayunda membuat Adinda menghela napasnya.
"Nggak usah Mbak makasih, pada hal oleh-olehnya nggak perlu sebongkah berlian atau tas mewah, cukup dengan makanan yang belum pernah Dinda makan aja Mbak" ucap Adinda.
"Ada mau?" tanya Ayunda. Adinda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Apa mbak? enak?" tanya Adinda.
"Kotoran kuda hahaha... " ucap Ayunda membuat Vivian ikut tertawa.
"Dasar gila, Kakak macam apa kau Ayunda" sinis Adinda.
"Kamu sih pakek minta oleh-oleh, Mbak disana hanya sebentar dan kita jalan-jalan disekitar perkebunan. Makanan ada sih tapi nggak ada yang aneh yang belum pernah kamu makan" ucap Ayunda.
"Maksud Dinda makanan khas daerah itu Mbak!" jelas Adinda.
"Ada teh melati, tehnya harum banget dan Wedang teh Kalau makanan adanya kue-kue biasa tapi dijakarta agak susah sih carinya ada didapur!" ucap Ayunda.
"Nanti aja disajikan buat Dinda ya Mbak, Dinda kan tamu disini!" ucap Adinda tersenyum manis membuat Vivian melempar tisu kearah Adinda.
"Tamu dari hongkong" ejek Vivian.
"Wah wajahmu hari ini kok beda ya Vian, ada kabar apa?" tanya Adinda sengaja menggoda Vivian.
"Pohon apel berbuah jeruk" ucap Vivian sambil meminum jus apel yang ada ditangannya.
"Hahaha Dinda kira Vian dibuahi Gemal" ucap Adinda membuat Vivian tersedak sedangkan Ayunda tertawa tebahak-bahak.
"Uhuk... ".
"Hahaha...bener ya Vian? udah mau program sama Gemal? bagus Vian kan kalau kalian punya anak, siapa tahu kalian bisa akur!" ucap Ayunda.
"Mereka itu akurnya di Kamar aja Mbak, kalau di depan kita kayak mau cakar-cakaran. Pasti kalau dikamar begituan" ucap Adina menyatukan kedua telapak tangannya.
"Dinda... " peringatan pertama dari Raka membuat Adinda segera menutup mulutnya.
"Si Om nggak boleh ngebahas yang aneh-aneh di depan dia kalau lagi ngumpul katanya mulut Dinda mesti direm, emang kendaraan bisa direm" ucap Adinda membuat Ayunda dan Vivian terkekeh.
"Dinda kan biasa jujur Mbak" ucap Adinda membuat Ayunda memutar bola matanya.
"Mana ada" kesal Ayunda.
"Ada kok ini contounya!" ucap Adinda menunjuk wajahnya sendiri.
"Kita keatas aja yuk, mumpung ada para nenek yang jagain anak-anak!" ucap Ayunda.
"Vian nanti dicariin Mbak!" ucap Vivian menatap Gemal yang sedang sibuk berbincang.
"Singanya kamu lagi ada pawangnya tuh...jadi kamu nggak bakalan dijelitin atau dimarahin sama dia didepan si Om!" ucap Ayunda.
"Ayo Vian, ngerumpi bareng diatas!" ajak Adinda. "Kalau disini nanti Dinda bisa dapat peringatan kedua kalau udah peringatan ketiga Dinda bisa dihukum sama si Om" ucap Adina memelankan suaranya agar Raka tidak mendengarnya.
"Sejak kapan Om Rakacsuka menghukum kamu Dinda?" tanya Ayunda.
"Sejak si Om sudah terpesona kepada kecantikan alami Dinda Mbak" ucap Adinda membuat Ayunda merangkul Vian dan segera melangkahkan kakinya kelantai tiga sengaja mengacuhkan Adinda.
"Tunggu dong!" ucap Adinda segera menyusul keduanya menuju lantai tiga.
Ayunda menceritakan pengalamannya saat bertemu Oma Mawar. Adinda dan Vivian sangat antusias mendengarnya. Adinda tersenyum karena Ayunda ternyata mendengar nasehatnya agar lebih bersabar dan mencoba berbicara kepada Oma Mawar dari hati ke hati.
Setelah acara kumpul keluarga selesai, Adinda, Felisa dan Raka pamit pulang. Mereka tidak bisa menginap karena Kakek pasti kesepian tidak ada Felisa di Rumah. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai dikediaman Candrama. Ayunda terkejut melihat kedatangan Akmal yang terlihat babak belur dan bibirnya pecah. Akmal sengaja menunggu Raka didepan teras kediaman utama Candrama.
Raka menatap Adik tirinya itu dengan dingin, namun tidak dengan Adinda yang merasa kasihan dan meminta Akmal untuk masuk kesalam Rumah.
"Kita bicarakan didalam saja, ayo masuk!" ajak Adinda.
Raka memilih untuk diam membuat Akmal melangkahkan kakinya karena ia telah memahami arti keterdiaman Raka. Raka biasanya akan langsung mengusirnya dengan kata-kata pedasnya yang selalu ia keluarkan saat bertemu Akmal.
"Felisa gosok gigi, cuci kaki dan ganti baju ya nak. Feli langsung tidur karena besok sekolah!" ucap Adinda.
"Iya Bunda" ucap Felisa. Ia mendekati Akmal dan mencium punggung tangan Akmal dan juga Raka serta Adinda.
"Kalian bicara dulu!" ucap Adinda ia segera mencari kotak obat untuk mengobati luka Akmal.
Saat ini hanya Akmal dan Raka yang sedang berada di ruangan ini. "Kenapa wajahmu?" tanya Raka.
"Dipukul direktur FC grup dengan para bodyguardnya, Kak" ucap Akmal.
"Kau datang kesini hanya ingin mengadukan wajahmu yang dipukul itu?" tanya Raka.
"Bukan Kak, Akmal hanya mau memberitahu Mami kecelakan di Singapura" ucap Akmal. Raka menatap Akmal mencari kejujuran atas ucapan Akmal.
" Aku tidak berbohong Kak" ucap Akmal.
tbc...